JawaPos Radar

Ketika Dahlan Iskan Bertemu Mahasiswa Kalteng di Nanjing

Dahlan pun Dibuat Kepikiran Sepanjang Malam

27/04/2018, 16:07 WIB | Editor: Ilham Safutra
Ketika Dahlan Iskan Bertemu Mahasiswa Kalteng di Nanjing
MAKAN BERSAMA: Khairul Anwar (kanan) bersama rekannya usai makan siang bersama Dahlan Iskan di sebuah restoran di Nanjing, 17 April lalu. (KHAIRUL FOR KALTENG POS)
Share this image

Kesempatan tak datang dua kali. Kalau ketemu dua kali atau lebih, ya alhamdulillah. Pertemuan itu pun tak disia-siakan. Meski hanya 2 jam, pengalaman dan pelajaran pun didapatkan.

AGUS PRAMONO, Palangka Raya


SETIAP orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, setiap kejadian adalah pelajaran. Ya, kata mutiara dari Ki Hajar Dewantara tersebut benar-benar diikuti Khairul Anwar, mahasiswa asal Kalteng yang menuntut ilmu di luar negeri.

Pemuda itu biasa disapa Irul. Penulis belum pernah ketemu. Pun belum pernah dengar suaranya langsung. Pertama saling komunikasi 28 Januari pukul 09.49 WIB melalui direct message (DM) di akun Instagram. Kala itu ia mengunggah video ucapan selamat dari mahasiswa Kalteng di Nanjing atas pernikahan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran dengan Yulistra Ivo. Penulis sempat mengajaknya bincang-bincang dan memintanya menjadi narasumber. Batal.

Nah, pada 17 April lalu, video di akun Instagramnya kembali membuat saya tertarik untuk kembali menghubunginya. Dalam video berdurasi tak lebih dari 60 detik itu, ia bersama teman-temannya sedang makan siang bersama Dahlan Iskan.

Tanpa ragu saya meminta Irul jadi narasumber berita. Ingin tahu apa saja pengalaman dan pelajaran yang didapat dari sosok Dahlan. Komunikasi berlanjut melalui obrolan Whatsapp. Tampaknya, pemuda kelahiran Parenggean, Kotim 21 September 1995 itu sangat senang. "Waaahhh makasih ya pak," begitu isi pesan pemuda yang memiliki filosofi hidup tidak ada yang tidak mungkin atau impossible is nothing.

Benar-benar terlihat senang. Sampai-sampai obrolan kami diunggah ke insta story akun miliknya.

Mahasiswa jurusan Bisnis Internasional di Jiangsu Institute of Commerce (JIC) ini pun mengirimkan hasil tulisannya ketika akan dan sudah bertemu mantan Menteri Negara BUMN itu. Dia beri judul Dua Jam Bersama Dahlan Iskan.

Begini tulisan singkatnya…

Ketika kelas sedang berlangsung. Notifikasi grup WeChat saya berdering dengan kalimat ‘bisakah saya dapat nomor mahasiswa Indonesia di Nanjing yang bisa diajak makan, siang ini? Kalimat itu disampaikan Ko (abang) Andre So (Koordinator Yayasan Indonesia Tionghoa Culture Centre/ITCC) itu, dari Dahlan Iskan.

Tangan saya pun gercep. Gerak cepat. Membuka dan membalas chat beliau tanpa basa basi. ‘Bisa pak! Dan berlangsunglah saling tukar nomor telepon. Kemudian janjian dengan Dahlan. Tak sendiri, ada temannya, Nita, Dinda, Desi dan Fattya, yang merupakan mahasiswa penerima beasiswa dari Indonesia Tionghoa Culture Center (ITCC).

Betapa kagetnya ketika telepon mereka berdering dan yang bersuara adalah Dahlan. Kami menaiki kereta (bawah tanah). Yang biasa dipakai sebagai alat transportasi paling mudah dan murah di Nanjing. Perkiraan 30 menit lebih menuju tempat tujuan. Di Sanshanjie Zhan.

Wajah kami semringah. Semua. Cengar cengir. Mulai pulang kelas sampai sebelum ketemu beliau. Semua membayangkan dan sangat ingin bertemu dengan beliau. Dan akhirnya, kami tepat waktu jam 12.58 am sampai di tempat beliau dengan janji ketemuan pukul 01.00 dini hari waktu setempat.

Senyum kami membesar. Mata kami berbinar ketika ketemu dengan orang hebat yang kami kagumi. Bagaimana tidak, dari mahasiswa Indonesia di Nanjing yang kurang lebih 600 orang, hanya 5 orang yang beruntung bisa bertemu dengan beliau dalam jangka waktu kurang lebih 2 jam.

Usai berjabat tangan, berbincang ringan, ternyata beliau sungguh humble. Sebagai orang hebat, betapa rendah hatinya beliau ketika mengobrol. Saat kami makan bersama, beliau selalu mengingatkan kami memakan sayur dan beliau yang mengambilkan dengan sumpit beliau sendiri.

Beliau bertanya ke kami satu persatu. Seperti sudah kenal. Bahkan seperti antara ayah dan anak. Kami jadi merasa nyaman dengan beliau.

Saya kaget ketika pak Dahlan bisa bicara bahasa Arab dan saya pun menyambut bahasa beliau. Tak lama, beliau cerita dulu sering ke Sampit. Beliau bisa bahasa Banjar, maka akhirnya pun saya diajak ngomong panjang lebar bahasa Banjar.

Pada akhirnya, waktu memisahkan kami. Sebelum itu, kami berfoto ria, bikin video, dan menyambangi masjid tertua di Tiongkok. Masjid Jingjue Sanshanjie masjid tertua di Tiongkok tepatnya. Tak jauh dari tempat makan tersebut.

Bahagia luar biasa ketika pak Dahlan meminta saya jadi imam salat zuhur beliau. Begitulah tulisan Irul tentang pertemuan singkatnya bersama Dahlan Iskan. Saya pun menanyakan kembali, bagaimana bisa ceritanya menjadi imam saat salat zuhur.  Anak kedua dari tiga saudara pasangan Hadrawi dan Miati itu pun menjawab santai. "Mungkin beliau menghargai yang muda untuk maju menjadi pemimpin beliau saat itu," sebutnya.

Dahlan merupakan sosok yang ia kagumi. Pengalaman, cerita, karya, dan film beliau. Rasa penasaran membuat saya semakin menggebu-gebu ingin bertemu dengan beliau. Ketika ingin menemui Dahlan, lulusan Pondok Modern Darul Hijrah Martapura, Kalsel itu memberanikan diri izin ke dosen. Lantaran di hari yang sama, atau sore harinya, akan ada ujian tengah semester. Dosen pun akhirnya menyetujuinya.

Dua hari pertemuan itu, Dahlan Iskan pun menulis sosok Khairul di blog miliknya. Ia melihat ada kegigihan di balik penampilannya yang sangat sederhana. Dahlan pun sampai kepikiran sepanjang malam memikirkan jadi apa Khairul Anwar kelak.

Banyak prestasi sebelumnya, yang membawanya mendapat beasiswa. Sebelumnya, Irul sekolah di SDN 2 Parenggean, melanjutkan ke Pondok Pesantren Raudhatul Jannah, Palangka Raya.

Kalau ngomong prestasi, sudah banyak. Di antaranya, pemuda yang bercita-cita jadi pengusaha ini pernah juara puisi terbaik tingkat mahasiswa Indonesia se-Tiongkok 2017. Juara 1 seni ganda di event nusantara Nanjing 2018. Kala masih sekolah, menjadi wakil Kalteng peraih medali perak O2SNasional Silat 2010 di Jakarta. Sekarang ia dipercaya menjadi Ketua Komunitas seni Indonesia di Nanjing (Kirana) 2017-2018 dan Sekretaris Perkumpulan Pesilat Indonesia Nanjing (Pepsina) 2017-2018.

Kini, anak penjual kain dan baju ini berkesempatan menggapai mimpi. Menjadi seorang pengusaha. Kuliahnya sudah semester 4. Kurang 1 tahun lagi lulus. Modal sudah ada. Tiga bahasa ia kuasai; Arab, Inggris dan Tiongkok. Berbanggalah Kalteng punya salah satu putra daerah yang begitu luar biasa.

Terpisah, Ayak Irul, Hadrawi ketika dihubungi penulis sudah mendapat cerita dari anaknya soal pertemuannya dengan Dahlan Iskan. Keluarga begitu bangga. Bangga melihat anaknya yang menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Tak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Dari kecil, Irul sudah terlihat pintar. Cerdas. Supel. Kami bangga. Semoga bisa meraih cita-cita yang ia impikan,” katanya ketika dihubungi per telepon. 

(*/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up