alexametrics

Bantu Pulangkan Korban Human Trafficking dari Malaysia

27 Januari 2022, 07:48:07 WIB

Jalan buntu berulang menjerat banyak penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Tidak jarang, para pendamping sosial itulah tempat mereka mengadu dan berkeluh kesah. Tidak mau memutus harapan mereka, para pegiat sosial tersebut selalu punya cara untuk membantu para PMKS.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

MENYELESAIKAN masalah sosial memang tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh kerja sama antarorganisasi agar penanganan pada PMKS bisa lebih maksimal. Berbagai bendera yang memiliki satu suara justru mempercepat penanganan masalah sosial tersebut.

Hal itulah yang ditunjukkan oleh para pegiat sosial di Kecamatan Sukolilo. Berbagai lapisan, mulai karang taruna, Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM), hingga Palang Merah Indonesia (PMI), bersama-sama menolong warga. Banyak masalah sosial yang akhirnya menemukan solusi. Mulai yang sederhana hingga yang rumit sekalipun.

Ketua Bidang Kesejahteraan Sosial Karang Taruna (Kartar) Kecamatan Sukolilo Mahfudz Hidayat mengatakan, banyak masalah sosial yang rampung berkat kerja sama berbagai pihak itu. Misalnya, kejadian penyiksaan pembantu oleh majikan di Sukolilo pada Mei 2021.

”Awalnya, kami menerima informasi bahwa ada pembantu yang dikatakan suka mencuri dan menjual barang majikannya. Akhirnya, cepat kami tindak lanjuti dengan outreach ke sana bersama pegiat sosial dari IPSM dan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK).

Sejak awal, kami curiga karena melihat tubuhnya banyak luka, lengan gosong, pundak lecet, dan banyak bekas luka lain,” ujarnya.

Karena psikis pembantu tersebut tampak linglung, tim pun membawanya ke Liponsos Keputih. Kecurigaan mereka terbukti. Korban berani buka suara, seakan-akan dia menemukan jalan untuk lepas dari jerat neraka itu. Luka tersebut didapat dari bosnya. Yang menyiksanya bila melakukan kesalahan meski kecil sekalipun.

Tim gabungan pegiat sosial itu pun mengupayakan agar korban bisa mendapat keadilan. Mahfudz dan yang lainnya segera berkoordinasi dengan kecamatan hingga akhirnya mendapat penanganan serius dari pihak berwajib. ”Alhamdulillah, sekarang posisinya sudah kembali ke Sidoarjo bersama anaknya,” katanya.

Tim itu juga pernah menangani kasus perdagangan manusia pada 2019. Kejadian berawal saat seorang remaja, sebut saja Ani, 16, pergi dari rumah. Kondisi keluarga yang broken home menyebabkan dia tidak betah.

Perasaan berkecamuk dan pikiran kacau. Yang Ani tahu, dirinya ingin pergi sejauh-jauhnya. Dia memutuskan pergi ke Terminal Bungurasih. Raut muka linglung memang tidak bisa bohong. Hal itu dimanfaatkan oleh orang yang mengaku sebagai penyalur pekerja migran Indonesia (PMI). Iming-iming uang dan pekerjaan enak membuat Ani terbuai dan menuruti orang tersebut.

”Ibunya memang lapor kalau anaknya hilang. Sudah dicari, tidak ada titik temu. Baru selang beberapa bulan kemudian, kami cek di Facebook ibunya ada pesan. Ternyata Ani di Malaysia, dia kerja, namun tidak pernah menerima gaji. Dia minta tolong untuk dipulangkan,” ujar pendamping sosial IPSM Desy Noor.

Tentu saja, pihaknya terkejut. Ani masih 16 tahun. KTP belum ada, mengapa sampai bisa lolos? Desy mengatakan, dirinya dan tim pegiat sosial mulai melakukan penelusuran. Termasuk ke perusahaan penyalur yang diberitahukan Ani. Alamatnya fiktif.

”Wah, ini pasti ilegal. Dugaan kami seperti itu. Lalu, kami lapor ke kepolisian. Diusut dan dari pihak Indonesia berkoordinasi dengan KBRI di sana. Ani bisa diselamatkan dan dipulangkan ke Indonesia,” ucap ibu dua anak itu.

Momentum tersebut adalah secuil dari banyaknya masalah sosial yang sudah mereka selesaikan. Bahkan, sekarang mereka dianggap sebagai rumah untuk mengadu bagi para PMKS. Apa pun masalahnya, figur mereka dianggap mampu menyelesaikannya.

Keberhasilan membantu masalah seperti itu adalah bayaran termahal yang Desy terima sebagai pegiat sosial. Baginya, nyemplung dan menolong orang adalah sebuah panggilan Ilahi. Susah rasanya hanya memikirkan kebahagiaan sendiri dan melihat yang lain ada dalam masa krisis.

”Dan kami tidak pernah mengharap sepeser pun dari apa yang kami lakukan. Mungkin ada yang menilai kami ini kurang kerjaan. Namun kembali lagi, kalau bukan kita, siapa lagi? Kerja ikhlas itu sulit dan kami banyak belajar di sini,” papar entrepreneur event organizer itu.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini: