alexametrics

Cuaca Buruk, Montir Perahu Tradisional Kawasan Nambangan Banjir Order

26 November 2020, 07:48:42 WIB

Angin kencang disertai ombak tinggi membuat perahu nelayan rusak. Banyak yang tak bisa melaut. Di sisi lain, tak banyak orang yang telaten memperbaiki perahu. Muslih termasuk yang telaten itu.

MUHAMMAD AZAMI RAMADHAN, Surabaya

ANGIN kencang yang melanda perairan Surabaya beberapa waktu lalu merusak puluhan perahu nelayan di kawasan Nambangan. Nelayan pun tidak mendapatkan uang karena tak bisa melaut.

Wali Kota Tri Rismaharini dan segenap penggawa Pemkot Surabaya sampai turun tangan. Sebab, peristiwa tersebut begitu dahsyat. Para pegawai sampai dilibatkan untuk turut memperbaiki perahu yang rusak karena berbenturan dengan perahu lain.

Muslih iba melihat hal tersebut. Dia merasa bila tidak melaut, nelayan tak bisa menghidupi keluarganya. Karena itu, Muslih merasa perlu untuk membantu. Dia mau memperbaki perahu-perahu nelayan. Tanpa mematok biaya. ”Perahu rusak semua. Butuh orang yang memperbaiki. Ya sudah, saya perlu cawe-cawe,” katanya.

Pria yang juga menjadi ketua RT 02, RW 03, kelurahan Bulak, itu mengaku mendapat keahlian memperbaiki perahu dari almarhum ayahnya. Dulu dia juga nelayan. Namun, karena semakin banyak orang yang meminta bantuannya untuk memperbaiki perahu, Muslih pun banting setir.

Dia menjadi montir perahu.

Tidak banyak yang bisa melakukan itu. Sebab, biasanya keahlian memperbaiki perahu didapatkan secara turun-temurun. Banyak juga nelayan di Surabaya yang tidak mewariskan kemampuan itu kepada keturunannya.

Dalam sehari, selama cuaca buruk, perahu yang antre untuk diperbaiki mencapai 6–10 unit. Muslih mengungkapkan, kadar kerusakan perahu yang diterima pun beragam. Apalagi setelah ada insiden cuaca buruk.

Mayoritas kerusakan perahu ada pada moncong dan bagian belakang. Lalu, gading, suatu struktur rangka perahu yang menguatkan bagian lambung. Juga, tatapan atau dudukan pada lambung yang hancur. ”Kerusakannya di tiga itu. Selebihnya dan kalau parah, biasanya perahu dibawa ke Madura langsung,” ungkapnya.

Perbaikan perahu biasanya tidak lebih dari setengah hari. Berbeda jika kerusakannya parah, waktu pengerjaan bisa memakan waktu 2–3 hari.

Dia mengungkapkan, dalam memperbaiki perahu, dirinya tidak mematok tarif. Khususnya untuk perahu wilayah Nambangan, Tambak Wedi, dan Sukolilo. Selain karena senasib sepenanggungan, dia melihat perbaikan perahu warga di sana tidak rumit. Dia menyebut bahwa sejak zaman dulu hingga sekarang, perahu nelayan tidak berbeda.

Muslih mengatakan, perahu di sekitar pesisir utara dan timur Surabaya itu disebut perahu canthek atau perahu cadik. Ciri-cirinya, ada moncong di bawah haluan depan dan belakang.

Menurut dia, model perahu di Surabaya Utara, terutama Nambangan dan Tambak Wedi, itu dipastikan berbeda dengan produksi dari Pulau Madura. Baik dari Sukolilo, Tebul, Kwanyar, maupun Karang Tanjung.

Ketika ditanya tentang tarif pembuatan perahu, Muslih menyebut berbeda-beda. Jika membuat perahu jadi dan langsung dipakai, dia mematok harga Rp 25 juta. Pengerjaannya selesai dalam sebulan. Sementara itu, untuk membuat perahu dengan bahan-bahan yang sudah tersedia, Muslih mematok harga Rp 8 juta per perahu. ”Iya itu. Tapi, kalau memperbaiki, pesan bapak saya tidak boleh patok harga. Berapa pun saya terima,” ujar pria yang melaut sejak usia 15 tahun itu.

Jangan heran apabila nama Muslih cukup terkenal di kalangan nelayan kawasan Nambangan, Tambak Wedi, Kenjeran, Kejawan, dan Sukolilo.

Ketua RT yang sudah lima periode itu tetap memegang teguh pesan almarhum ayahnya. Membantu sesama itu tidak harus menjadi kaya. Kata dia, jika yang dimiliki hanya tenaga, tentu tenagalah yang diberikan. ”Sing penting siji. Ojo arep-arep pemberian orang lain,” pesannya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git


Close Ads