alexametrics

Pencinta Maritim I’am Portizen Peduli Mahasiswa Terdampak Covid-19

Beri Semangat Belajar dengan Bantuan Sembako
26 Juni 2020, 08:08:09 WIB

Bukan saja pekerja informal seperti ojek online (ojol) dan tukang becak yang terdampak pandemi Covid-19. Mahasiswa pun turut merasakannya. Komunitas Pencinta Maritim I’am Portizen aktif membantu mahasiswa-mahasiswa yang tak bisa mudik dan kesulitan makan di tanah rantau.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

Yang peduli pada tukang ojek sudah banyak. Yang memberikan bantuan kepada buruh pabrik juga tak terhitung. Lalu, siapa yang peduli pada mahasiswa yang terdampak Covid-19? Pertanyaan itu dilontarkan Hutrimas Wimapiguna Sumarjan saat berdiskusi dengan Jawa Pos di kompleks PT Pelindo III, Selasa (23/6).

Ketua Komunitas Pencinta Maritim I’am Portizen itu menolak tegas jika mahasiswa aman-aman saja dari virus korona jenis baru tersebut. Sebab kenyataannya, tak sedikit yang menangis karena kangen keluarga.

Banyak mahasiswa yang tak bisa pulang kampung. Mereka takut dicap pembawa virus dan ditolak masyarakat di desanya. Mahasiswa terpaksa berdiam diri di kos-kosan agar biaya hidup tak membengkak.

Sebab, mereka tidak memiliki banyak uang. Kiriman uang saku dari orang tua seret. Usaha ayah dan ibu mereka juga terdampak pandemi Covid-19. ”Dari penelusuran, banyak juga yang berutang pada temannya. Terutama bagi mereka yang memiliki keluarga dengan pendapatan pas-pasan,” kata Wima, sapaan akrab Hutrima Wimapiguna.

Menurut dia, persoalan finansial justru banyak dialami mahasiswa yang berprestasi. Terutama mereka yang mendapat beasiswa belajar dari negara. ”Mereka biasanya mendapatkan tambahan uang saku dari membantu orang berjualan. Karena pandemi, mereka menganggur,” tambah Wima.

Mahasiswa Unair itu mencontohkan temannya yang bernama Roimansyah. Pemuda asal Riau itu sebenarnya berniat pulang ke kampung halamannya saat Lebaran lalu. Namun, dia kesulitan biaya. Selain itu, tidak ada tiket pesawat menuju Pulau Sumatera.

Roimansyah terpaksa mencari uang tambahan untuk biaya hidup. Dia nekat jadi ojol. Setiap hari Roimansyah harus membagi waktu antara keliling cari penumpang dan belajar.

Selain Roimansyah, kesulitan uang juga dialami Albertus Sika. Mahasiswa asal NTT itu memang mendapat kiriman uang dari orang tuanya. Namun, jumlahnya tak seberapa. Dia terpaksa berhemat.

Selama pandemi, Albertus hanya tinggal di kos. Dia juga mengurangi aktivitas nongkrong bersama teman-temannya. ”Sebenarnya, masih banyak yang punya pengalaman lebih buruk. Namun, kebanyakan mereka malu mengatakannya,” jelas Wima.

Waode Rani Oktaviani, pengurus lain I’am Portizen, mengaku sempat sedih melihat nasib teman-temannya. Gara-gara virus korona, banyak mahasiswa yang tidak bisa konsentrasi belajar. Bahkan, banyak yang stres karena takut terpapar virus.

Kata Waode, selama sebulan terakhir, I’am Portizen terus mendata mahasiswa yang terdampak Covid-19. Mereka diberi bantuan. ”Untuk sementara masih sembako yang bisa kami berikan. Mudah-mudahan itu bisa membantu mereka,” ungkap Waode.

Mahasiswa Universitas Hang Tuah itu menjelaskan, ada 44 base camp mahasiswa terdampak Covid-19 yang didatangi komunitasnya. Lokasinya tersebar di seluruh Surabaya. Masing-masing base camp jadi pusat aktivitas minimal 30 mahasiswa.

VP Corporate Communication PT Pelindo III Wilis Aji Wiranata menjelaskan, I’am Portizen belum lama terbentuk. Pendirian komunitas itu bukan saja inisiatif Pelindo III. Namun, juga semangat mahasiswa untuk mengampanyekan pendidikan kepelabuhanan. ’’Dulu saat pertama dibentuk, yang daftar ratusan orang. Kami seleksi jadi 15 orang,” kata Wilis.

Dia menyebut ada beberapa syarat khusus untuk bisa menjadi anggota. Selain mencintai dunia maritim, anggota komunitas juga harus memiliki kepedulian sosial.

Wilis menjelaskan, komunitas lebih banyak bergerak secara mandiri. Mereka aktif mengenalkan dunia kepelabuhanan kepada para pelajar. Termasuk menjelaskan peran pelabuhan di sektor perekonomian.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads