alexametrics

Mengunjungi Bungker Masa Perjuangan Kemerdekaan di Desa Jatiguwi

Dibangun tanpa Semen
26 Juni 2019, 21:04:02 WIB

Bangunan ini pernah menyelamatkan banyak pejuang Indonesia. Meski sudah berusia lebih dari 70 tahun, kondisinya masih terawat.

SIDIQ PRASETYO, Malang

DARI luar, bangunan yang berada di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, itu seperti rumah biasa. Begitu masuk, baru terlihat rumah yang berada di Jalan Ir Soekarno 31 tersebut sudah tua. Atap sengnya tampak berkarat.

Rumah dengan ukuran 14 meter x 90 meter itu dibangun dari batu bata yang ukurannya lebih besar daripada batu bata sekarang. Lantainya bukan keramik atau marmer. Melainkan dari batu bata juga. “Rumah ini dulu dibeli Mbah Tukijo dari lurah Jatiguwi pada 1930-an. Kata orang, rumah ini yang kali pertama mempunyai dinding tembok,” ungkap Winarno, 68, keponakan almarhum Mbah Tukijo.

Saat masuk dan meniti ruang-ruang dalam bangunan, hampir semuanya masih orisinal. Hanya ada sebuah kamar dengan sebuah ranjang. Hanya tempat itu yang mengalami renovasi karena pintunya dirasa terlalu pendek. Pintu tersebut dibongkar agar siapa yang masuk ke kamar tak terbentur kepalanya.

Hingga menjelang ujung rumah, sebuah kamar menarik perhatian. Berada di sebelah kanan dekat pintu, ada tangga yang membawa masuk ke ruangan bawah tanah. Anak tangga itu hanya selebar tubuh satu orang. “Tangga tersebut membawa ke tempat yang kata orang-orang namanya bungker. Dulu tempat sembunyi para pejuang Indonesia melawan penjajah Belanda dan Jepang,” ungkap Win, sapaan karib Winarno.

Bungker itu, dari cerita yang diterimanya, sudah ada sebelum Jepang masuk ke Indonesia. Pada masa perjuangan, bungker tersebut tak pernah diketahui tentara Belanda maupun Jepang. Sebab, letaknya di bawah tempat tidur atau amben. “Jadi, kalau mau masuk, dulu harus melalui bawah amben. Tidak pernah ada yang tahu karena rapinya menyimpan posisi bungker,” jelas Win.

Bungker itu, terang lelaki yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur, tersebut, setinggi sekitar 8 meter. Dengan ujungnya menuju ke sumur. Pertimbangannya, para pejuang yang berada di dalam bungker bisa mengambil air untuk hidup.

Dulu, tambah Win, sumur tersebut juga tertutup pepohonan. Bungker itu sampai sekarang masih kukuh. Padahal, ungkap dia, dibangun tanpa memakai semen. “Campuran dari pasir, batu bata yang dihancurkan, serta air tebu. Tujuan memakai air tebu untuk merekatkan antar-batu bata,” ujar Win yang pulang ke Desa Jatiguwi karena merayakan Lebaran di kampung halaman.

Di atas bungker ada koran yang ditulis dalam bahasa Belanda. Koran tersebut dipakai untuk menutup atap. Bungker itu nyaris ditutup pihak keamanan. Sebab, tempat tersebut pernah diduga dipakai untuk menyembunyikan anggota partai terlarang. “Tapi, itu tak terbukti. Sehingga tak jadi ditutup,” ucap Win.

Saat berada di bangunan utama bungker, ditemukan beberapa kelelawar. Jumlahnya tak sebanyak dulu. “Saat saya masih kecil, kelelawarnya banyak. Saya sering menembaknya dan dapat banyak,” kenang Hemeep Rama Wijaya, 41, cicit Tukijo. Di masa kecilnya, dia bersama teman-temannya sering masuk dan bermain di dalam.

Meski punya nilai sejarah tinggi, pihak keluarga Tukijo tak berminat menjadikannya objek wisata. Mereka ingin bangunan tersebut tetap utuh seperti semula. Apalagi, belum ada kunjungan dari pemerintah daerah ke bungker itu. Hanya pernah sekali, saudara Hemeep yang datang serta memotret rumah dan bungker. Tapi, setelah itu tidak ada lagi kelanjutannya. “Seperti rumahnya, biarkan seperti ketika ditinggali Mbah Tukijo dulu,” tutur Sri Purnani, 61, cucu Tukijo yang juga ibu Hemeep.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ayi)