alexametrics

Bhre Bhawana, Siswa SD Sulap Puntung Rokok Jadi Lukisan dan Boneka

26 Mei 2022, 07:48:08 WIB

Puntung rokok menjadi sampah yang hampir ditemui di mana pun berada. Tapi, siapa sangka, puntung rokok itu dapat menjadi barang yang memiliki nilai tersendiri.

AZAMI RAMADHAN, Surabaya

SEMBILAN stoples ukuran besar penuh dengan puntung rokok tampak di sudut ruangan. Terlihat di beberapa stoples ada sisa tembakau, gabus, dan kertas rokok. Ada juga stoples yang berisi gabus, tapi sudah diiris kecil-kecil. ’’Yang ini gabusnya siap dibentuk dan diolah,’’ kata Bhre Bhawana Praja Kawula kepada Jawa Pos pekan lalu.

Gabus, kertas rokok, dan sisa tembakau itulah bahan utama membuat kerajinan tangan yang digarap Bhre. Tak hanya mendapatkan cuan, Bhre juga punya kepedulian terhadap lingkungan.

Ya, di tangan siswa kelas III SDN Pacar Keling V itu, puntung rokok disulap menjadi benda menarik. Ada lukisan, boneka, kertas daur ulang, tempat tisu, kotak perhiasan, gantungan kunci, dan beberapa benda lainnya.

Dengan semangat 3R atau reuse, reduce, dan recycle, Bhre bertekad untuk mengurangi sampah di lingkungannya. Khususnya puntung rokok yang menurut dia dapat dijumpai di tempat mana pun.

’’Termasuk kamar mandi. Biasanya ada puntung rokok juga,’’ terangnya.

Siswa berusia 10 tahun itu mengaku memilih puntung rokok sebagai proyek Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup Tunas Hijau karena miris melihat banyaknya sampah puntung rokok di berbagai tempat. Tak terkecuali kawasan pesisir pantai.

Di sana, sampah didominasi puntung rokok yang gabusnya masih melekat. Padahal, puntung rokok tergolong limbah berbahaya dan beracun. Setara dengan limbah pabrik yang mencemari lingkungan dan membahayakan kelangsungan hidup manusia.

’’Itu sampah, lho. Apalagi, butuh belasan tahun agar puntung rokok dapat terurai di alam,’’ terangnya.

Dia menjelaskan, sebagian besar gabus di puntung itu terdiri atas mikroplastik yang dikenal sebagai serat selulosa asetat.

’’Dari situ kepikiran untuk olah puntungnya. Meski upaya kecil, setidaknya ini dapat menjaga kelestarian lingkungan,’’ paparnya.

Untuk mendukung hal tersebut, putra kedua pasangan Sardiyoko dan Mela Damayanti tersebut membuat program bank puntung rokok.

Bank itu bekerja sama dengan beberapa kafe dan warung kopi di sekitar rumahnya. Total ada tujuh warkop yang mau memberikan puntung rokok untuk diolah menjadi beberapa benda menarik.

Tak hanya itu, Bhre juga sering berkeliling sambil membawa stoples dan capit untuk mengambil puntung rokok di jalanan, termasuk kawasan pasar dekat rumahnya. ’’Pernah disebut anak yang enggak waras. Ya karena ambil puntung rokok itu,’’ sambung Sardiyoko.

Pria 49 tahun itu sepenuhnya mendukung upaya anak keduanya tersebut. Meski sementara waktu untuk mengikuti proyek Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup Tunas Hijau, dia optimistis perspektif keberpihakan terhadap ekologi itu dapat berlanjut hingga Bhre berusia dewasa.

’’Anak-anak sudah peduli lingkungan itu fondasi penting. Sebab, masa depan mereka ini panjang,’’ tutur mantan aktivis lingkungan tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads