alexametrics

Warga Swadaya Semprot Lingkungan dengan Disinfektan Buatan Sendiri

26 Maret 2020, 18:18:58 WIB

Gotong royong untuk mencegah persebaran virus korona dilakukan warga Surabaya secara swadaya. Mereka tidak menunggu bantuan penyemprotan dari pemkot. Warga dengan kesadaran diri segera membentengi kawasan masing-masing.

JUNEKA S. MUFID, ROBBY KURNIAWAN, Surabaya

Dengan gerobak kecil, ember besar berisi sekitar 50 liter dikawal keliling RW XII Kelurahan Putat Jaya kemarin. Sedikitnya enam orang mengawal gerobak tersebut. Ada yang mendorong secara bergantian.

Ada pula yang bertugas menyemprot dengan semprotan kecil. Ada juga yang menyosialisasikan kepada warga untuk hidup bersih demi menjauhi virus korona. Mereka adalah pengurus RW XII bersama pengurus RT di lingkungan tersebut. ”Wes mulai jam 7.00 tadi keliling-keliling,” ujar Wakil Ketua RW XII Kelurahan Putat Jaya Budi Mulyono.

Sekitar pukul 13.00, penyemprotan keliling tersebut memasuki Gang Dolly yang dulu sangat terkenal dengan Wisma Barbara. Mereka menyemprot daun pintu, gagang pintu, halaman rumah, jendela, dan jalan menuju rumah warga.

Yang juga disemprot adalah warung-warung giras. Tentu izin terlebih dahulu kepada pemiliknya.

Sambil menyemprot, mereka juga menyosialisasikan bahaya virus korona. ”Terutama jaga jarak minimal 1 meter,” ujar Suwarto, pengurus RT IV yang pagi itu mendapat bagian menyemprot.

Apa yang dilakukan warga tersebut semata-mata untuk menjaga agar lingkungan mereka terhindar dari virus korona yang sedang ganas-ganasnya mewabah. Di Surabaya sedikitnya 31 orang positif mengidap virus tersebut.

’’Di lingkungan kami memang belum ada. Tapi, kan ya tidak menunggu ada dulu baru semprot-semprot,” ujar Ketua RT IV, RW XII, Suyono yang ikut dalam penyemprotan tersebut. ”Kami swadaya semua ini. Dari pengurus sendiri yang urunan seikhlasnya,” imbuh dia.

Seingat Suyono, dana yang terkumpul sekitar Rp 1,5 juta. Mereka tidak hafal betul jumlah tepatnya. Sebab, uang yang terkumpul langsung dibelikan bahan-bahan untuk bahan penyemprotan itu. Yang mereka beli adalah 2 botol ukuran besar cairan pemutih pakaian, 2,5 liter cairan pembersih lantai, dan 2,5 liter karbol. Bahan-bahan itu dicampur sedemikian rupa dan ditambah dengan air secukupnya. Ilmunya dari mana? ’’Ya, lihat dari YouTube,” ujar Takdir Setiyobudi, ketua RT II, membantu menjawab.

Yang juga unik adalah alat penyemprotan yang dibuat sendiri oleh warga. Mereka memanfaatkan pompa air kecil bertenaga listrik. Pompa itu dihubungkan dengan adaptor yang tersambung dengan aki mobil. ”Kami modifikasi sendiri. Semalaman bikinnya,” ujar Takdir.

Takdir mengungkapkan, mereka bergerak cepat untuk menyemprot lingkungan sendiri. Meskipun warga juga berharap adanya bantuan dari pemkot untuk menyemprot lingkungan mereka. ”Ini juga tidak sampai membawa APD (alat pelindung diri) yang standar. Tapi, namanya warga, yang penting jalan dulu. Ngenteni pemkot gak teko-teko,” kata dia.

Penyemprotan disinfektan juga dilakukan secara swadaya di RW 7 Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis. Kemarin (25/3) warga setempat menyemprotkan obat pembasmi kuman penyakit di setiap sudut kampung mereka.

Ketua RW 7 Kelurahan Dukuh Kupang Marzuki mengatakan, kegiatan tersebut berlangsung dua kali sejak Minggu (22/3). Tujuannya mengantisipasi persebaran virus korona. ’’Ada 4 RT di sini dan jumlah penduduk sangat padat,” ucapnya.

Belum lagi, banyak rumah kos. Setiap hari penghuninya keluar masuk kampung untuk bekerja. Tidak ada yang tahu virus bakal tersebar. Karena itu, beberapa langkah preventif sangat penting dilakukan.

Kebutuhan cairan disinfektan, lanjut Marzuki, bisa didapat di kantor kecamatan. Satu kali kegiatan, pihaknya membutuhkan 100 liter disinfektan. ’’Kita semprot semua tempat. Mulai gagang pintu hingga toko kelontong,” terangnya.

Perwakilan kelompok masyarakat Dukuh Kupang Dodot menyampaikan bahwa Dukuh Kupang termasuk dalam peta persebaran Covid-19 di kawasan Surabaya Barat. Ada satu positif dan beberapa warga dalam pemantauan. Baik itu ODP maupaun PDP. ’’Wilayah ini juga dikelilingi peta persebaran lain. Di antaranya, Pradah Kali Kendal dan Simomulyo,” ucapnya. ’’Kita perlu waspada untuk membentengi diri,” imbuhnya.

Dodot menerangkan, penyemprotan diupayakan berlangsung terus-menerus. Minimal dua kali seminggu. Selain itu, pihaknya memantau warga yang sakit. Caranya melalui pengecekan suhu badan. Langkah preventif lainnya, fasilitas sanitasi akan ditambah. ’’Resep wedang rempah juga diberikan agar bisa dikonsumsi sendiri,” katanya.

Bukan hanya di kawasan perkampungan. Di lingkungan perumahan juga tumbuh kesadaran warga untuk melakukan penyemprotan secara mandiri. Misalnya, di Perumahan New Green Hill Residence, Gununganyar.

Subairi, warga setempat, mengungkapkan bahwa penyemprotan itu dilakukan sejak dua pekan lalu di lingkungan warga. Kebetulan di perumahan yang punya sekitar 60 kepala keluarga itu ada warga yang punya latar belakang di bidang kesehatan. ”Jadi, tahu cairan disinfektan apa yang cocok. Ini warga urunan untuk penyemprotan. Sudah diagendakan sepekan dua kali,” jelas Subairi.

Sebagai langkah antisipasi, warga yang keluar masuk juga disemprot dengan disinfektan. Semprotan yang dipergunakan memang berukuran kecil seperti yang dipakai untuk memandikan burung peliharaan. ”Bukan hanya warga. Tamu, termasuk ojek online, juga disemprot saat datang dan keluar,” ungkap Subairi, yang juga anggota KPU Surabaya.

Apa yang dilakukan warga tersebut merupakan upaya swadaya untuk memastikan bahwa lingkungan mereka terbebas dari persebaran virus korona. Sementara itu, Pemkot Surabaya juga sudah melakukan penyemprotan di banyak tempat umum dan fasilitas publik lainnya. ”Untuk di lingkungan warga, kami prioritaskan di kawasan yang ada warga terjangkit virus korona itu,” ujar Kabag Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara.

Dia menjelaskan bahwa pemkot juga sudah meracik cairan disinfektan yang disebarkan di kecamatan dan kelurahan. Warga bisa meminta secara gratis. Tapi, memang jumlahnya terbatas. ”Upaya warga yang swadaya melakukan penyemprotan sendiri itu tentu sangat membantu pencegahan virus korona,” imbuh dia.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter :  */c6/git



Close Ads