alexametrics

Rumah Ilmu Klakahrejo, Dulu Lokalisasi Kini Sanggar Tari

Pedagang Miras Banting Setir Jadi Pengajar
26 Februari 2020, 20:48:11 WIB

Pada Agustus 2018, Rumah Ilmu didirikan. Bangunan bekas tempat esek-esek itu telah mengubah mindset siapa pun yang datang ke sana. Tak ada lagi pekerja seks komersial yang bekerja di sana. Sebaliknya, kini menjadi lahan menimba ilmu bagi generasi mendatang.

ROBBY KURNIAWAN, Jawa Pos

TAK sulit menemukan Rumah Ilmu di Kelurahan Kandangan, Benowo. Cukup mencari Gang Barokah RT 2, RW 9, Klakahrejo Lor, dekat persimpangan kedua. Di sepanjang gang tersebut terdapat banyak bangunan yang dipatok sebagai aset milik Pemkot Surabaya. Bangunan yang dibeli pemerintah itu merupakan bekas lokalisasi.

Beberapa wisma yang dulu dijadikan tempat prostitusi kini kosong. Bahkan, sebagian dimanfaatkan untuk pusat kegiatan masyarakat sekitar. Termasuk Rumah Ilmu Saat dikunjungi Minggu lalu (23/2), terdengar alunan musik tradisional di dalam rumah bekas tempat esek-esek itu. Ternyata, anak-anak TK sedang berlatih tari bangau dan sapi. ”Kaki kanan ke depan. Satu, dua, tiga, putar,” tutur Budi Wiyono, pengajar Sanggar Tari Rumah Ilmu. Para murid lantas mengikuti gerakan yang diajarkan Budi.

Wajah para murid begitu semringah. Berlatih dengan begitu semangat. Di ruangan itu, banyak hiasan dinding di ruang utama maupun bilik. Misalnya, poster berhitung dan bergambar. Beberapa karya lukis anak juga ditempel. Ada pula etalase yang penuh buku. ”Dulu orang ke sini mencari sewaan kamar. Sekarang bimbingan belajar (bimbel),” tutur Budi.

Dia melanjutkan, sanggar tari baru terbentuk tahun lalu. Jumlah muridnya sekitar 15 orang. ”Berawal dari suka seni. Akhirnya jadi guru,” kata pria lulusan akuntansi tersebut.

Sebelum mengajar, cerita Budi, dirinya pernah beraktivitas di sekitar lokalisasi. Yaitu, menjual minuman keras (miras) selama lebih dari lima tahun. Menurut dia, usaha barang haram tersebut sangat menguntungkan sampai bisa memenuhi kebutuhan keluarga. ”Tapi lama kelamaan, saya merasa tidak bisa mengandalkan dari penjualan miras saja,” terangnya.

Terbukti pada 2013, Pemkot Surabaya menutup lokalisasi di Kandangan. Usaha Budi pun terpaksa berhenti. Namun, dia tidak putus asa. Warga Klakahrejo itu banting setir menjadi guru tari. ”Kalau kita tidak mengembangkan diri sendiri, kampung ini akan mati,” jelasnya.

Bertahun-tahun Budi terus meningkatkan potensinya. Hingga Februari 2019, dia diajak membuka sanggar di Rumah Ilmu. ”Pelopornya Bu Sulis. Wisma bekas prostitusi diubah menjadi tempat bimbingan belajar sejak 2018. Dan kini berkembang ke pelatihan tari,” lanjutnya.

Sri Sulis Setiawati, pendiri Rumah Ilmu, menyatakan bahwa ide ruang belajar di bangunan eks lokalisasi berawal dari keikutsertaannya dalam lomba pola asuh anak dan remaja. Rumah Ilmu yang dia didirikan menjadikannya juara hingga level nasional. ”Dapat nilai bagus karena memanfaatkan aset pemkot. Dan dulu aset itu bekas prostitusi,” katanya.

Sejak kecil, Sulis tinggal di lingkungan lokalisasi. Memang banyak PSK di kampungnya. Sampai-sampai dia pernah menjadi relawan untuk penelitian sosial. Kendati asli Klakah, Sulis merasa tidak tinggal di kampung sendiri. Siang dan malam hanya dipenuhi orang luar yang berkunjung. Aktivitas warga lokal tidak ada. Hanya sibuk mengurus keluarga masing-masing. ”Dengar suara gaduh sudah biasa. Apalagi melihat pasangan bertengkar,” ucapnya.

Berpuluh tahun berada di lingkungan tersebut, lanjut Sulis, memengaruhi psikis. Rumahnya sering digedor orang tak dikenal yang mencari miras. ”Hati seakan teriris-iris. Pandangan orang luar kepada kita sudah bagian dari lokalisasi,” tutur kepala TK Mutiara Bangsa itu. ”Sebelas bulan serasa di neraka. Satu bulannya di surga. Sebab, selama Ramadan tak ada aktivitas prostitusi,” tambahnya.

Dia bersyukur lokalisasi itu kini sudah ditutup. Sama halnya dengan yang di Sememi, Benowo. Bedanya, Kandangan bisa berkembang atas swadaya masyarakat. ”Kalau untuk kebaikan, kenapa tidak? Pasti akan ada jalan,” katanya. Hingga kemarin (25/2) Rumah Ilmu ikut diberdayakan oleh anak karang taruna (kartar) sebagai pengajar.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads