alexametrics

Nestapa 26 Keluarga di Flat Gunungsari yang Hidup tanpa Listrik

Belajar di Lorong supaya Dapat Cahaya
25 November 2019, 19:05:05 WIB

Pemprov Jatim merelokasi warga setren Kali Jagir ke Flat Gunungsari pada 28 Mei 2011. Warga dari kawasan kumuh itu bisa tinggal di tempat yang lebih manusiawi. Delapan tahun berselang, muncul masalah baru. Ada 26 keluarga yang tak mampu membayar tunggakan sewa unit dan listrik. Aliran listrik mereka diputus.

SALMAN MUHIDDIN, Jawa Pos

IMRON Rosyidi mengangkat bangku kayu ke tengah lorong. Di punggungnya ada tas pink milik putrinya yang masih kelas II SD. Nayla Safira namanya. Dia harus belajar siang itu karena esok pagi ada ujian. ”Wis nang kene ae. Nek mengko dalu, gak iso sinau awakmu (Sudah di sini saja. Kalau nanti malam, kamu tidak bisa belajar),” kata Imron saat ditemui Jawa Pos kemarin siang (24/11).

Waktu belajar yang memungkinkan memang cuma siang. Sebab, saat malam tidak ada penerangan di flat milik Imron. Sejak Agustus terjadi pemutusan listrik ke flat yang menunggak iuran sewa dan listrik. Imron salah satunya.

Nayla tak banyak bicara. Dia menuruti saja perintah ayahnya yang siang itu harus berjualan. Namun, wajahnya agak dongkol. Minggu siang itu banyak kawan yang mengajak Nayla bermain. Dia ingin lampu segera menyala.

Sehingga waktu belajar tak mengganggu waktu bermainnya di hari libur.

Imron tinggal bersama lima anaknya. Dalam ruangan 4 x 9 meter itu, dia juga harus berbagi tempat dengan istri dan satu orang tuanya. Dengan begitu, ada delapan orang yang tinggal di sana. Jangankan belajar, untuk tidur saja mereka kesulitan.

Kipas angin tidak mungkin bisa menyala. Imron mengaku tak betah berlama-lama tinggal di dalam ruangan itu. Dia dan para tetangga biasanya tidur di lorong. ”Wis koyok pindang (seperti ikan pindang),” katanya.

Jawa Pos kembali berkeliling ke lokasi lain. Kami menemui lima siswi SD dan SMP yang belajar bersama. Mereka duduk melingkar di dekat tangga. Di situ tempatnya terang dan lebih segar. Angin masuk melalui ventilasi tangga. Namun saat kami dekati, mereka langsung bubar karena malu.

Gambaran itu tampaknya tidak seperti yang diharapkan pemprov Jatim saat peresmian gedung 28 Mei 2011. Dalam website kominfo.jatimprov.go.id terdapat artikel berjudul Rusunawa Gunungsari Terbaik di Indonesia.

Saat itu, Gubernur Jatim Soekarwo membandingkan flat yang dibangun di lahan 6.799 meter persegi itu dengan flat di Batam. ”Kalau yang di Batam, teralisnya dibuat sandar saja bisa hancur. Tapi kalau ini (Rusunawa Gunungsari) malah Anda yang bakal sakit karena saking kuatnya,” ujarnya saat sambutan seperti dikutip dari website milik Pemprov Jatim itu.

Namun, kondisi terakhir seperti yang disaksikan Jawa Pos, banyak fasilitas yang tidak terawat. Air dari kamar mandi merembes ke flat di lantai bawahnya, keramik tercongkel, hingga dinding-dinding berjamur. Semua itu menunjukkan bahwa perawatan bangunan kurang diperhatikan.

Dwi Hendro Santoso, salah seorang warga yang juga mengalami pemutusan listrik, mengeluhkan kondisi tersebut. Hal itu juga menjadi salah satu penyebab warga menunggak. ”Sampean bisa lihat sendiri kondisinya,” kata dia.

Tunggakan pun membengkak karena bertahun-tahun dibiarkan. Pada Mei tahun ini, mulai ada pengetatan. Flat tidak lagi dikelola Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya dan Tata Ruang (DPUCKTR) Jatim. Melainkan unit pengelola teknis (UPT).

Hendro mengakui adanya utang tersebut. Dia dan warga bakal melunasinya. Namun, dia berharap ada mekanisme mengangsur. ”Karena terus terang kalau langsung puluhan jutabegitu, kami tak ada uang,” ujarnya.

Selain alasan itu, eks warga setren Kali Jagir merasa pernah dijanjikan rumah murah setelah dua tahun tinggal di flat tersebut. Namun, sampai sekarang janji itu tak kunjung terealisasi. Warga kini menunggu waktu. Jika tak bisa melunasi utang tersebut sebelum 15 Desember, mereka bakal diminta mencari tempat tinggal lain. ”Tinggal di mana? Kami akan bertahan di sini,” ungkapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c6/tia



Close Ads