alexametrics
Cerita Minggu

Dengan Papua Itu Bersaudara, Sejak Dulu…

Prasasti Itu Tertanam di Pantai Timur
25 Agustus 2019, 19:02:44 WIB

Jejak persaudaraan Surabaya dengan Papua terbentang mulai hutan mangrove sampai ke lingkungan pemerintah kota. Di Malang, berbagai prestasi klub kebanggaan setempat tak terlepas dari kontribusi pemain asal Papua.

JUNEKA S.M., SEPTINDA A., Surabaya-ARIS DWI K., Malang, Jawa Pos

SUDAH satu dekade lewat, tapi kegigihan anak-anak muda Papua itu masih terus terekam dalam ingatan Soni Mohson. Saat mereka bergandengan tangan menanam mangrove di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya).

“Arek-arek Papua itu gelem soro (mau sengsara, Red). Kaki kena lumpur, kena tiram yang lancip itu beret-beret,” jelas Soni, pelestari bakau (mangrove) asal Wonorejo, Surabaya.

Ide penanaman mangrove tersebut datang dari Lurah Wonorejo (saat itu) M. Fikser. Pria kelahiran Serui, Kepulauan Yapen, yang kini menjabat Kabaghumas Pemkot Surabaya tersebut prihatin karena kondisi Pamurbaya ketika itu gundul. Akibat pembalakan liar.

“Saya ajak anak-anak Papua ikut tanam mangrove. Karena ketika itu masyarakat belum banyak peduli,” ungkap Fikser yang sejak lulus Sekolah Tinggi Pegawai Dalam Negeri (sekarang Institut Pemerintah Dalam Negeri) pada 1998 langsung ditempatkan di Surabaya.

Sekali berangkat, Fikser bersama 20-25 mahasiswa Papua. Mereka biasanya mengatur waktu yang tidak ada kuliah. “Sampai sekarang masih ada itu mangrove yang ditanam anak-anak Papua. Sudah besar-besar,” ungkapnya.

Mangrove tersebut seperti menjadi salah satu prasasti eratnya jalinan persaudaraan antara Surabaya dan Papua. Persaudaraan yang terajut di berbagai bidang sejak waktu yang lama. Yang juga tak akan tergoyahkan oleh letupan insiden di asrama mahasiswa Papua di Surabaya beberapa waktu lalu.

Coba tengok ke kampus Universitas dr Soetomo (Unitomo) Surabaya. Ada ratusan mahasiswa Papua yang saat ini menempuh pendidikan tinggi di sana. Baik melalui program beasiswa afirmasi pendidikan tinggi (ADik) maupun nonafirmasi. “Awal-awal kuliah sedikit waswas. Harus adaptasi,” kenang Agustinus Tinopi, mahasiswa program studi teknik informatika yang tiba di Surabaya pada 2014.

Namun, setelah bertemu dengan mahasiswa lain yang mayoritas dari Jawa, pria 24 tahun asal Teluk Bintuni, Papua Barat, itu tidak merasa ada yang berbeda. Komunikasi berjalan lancar. Di kampusnya, khususnya unit kegiatan mahasiswa (UKM) pencak silat.

“Saya ikut mendirikan PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate),” kata Agustinus yang pernah mencatat prestasi di Kejuaraan Pencak Silat ITS Cup yang diikuti ratusan peserta se-Jawa Timur 2017.

Tak terlalu jauh dari Surabaya, di Malang, kota yang sempat terjadi letupan serupa, persaudaraan tak kalah erat juga terlihat. Ada banyak mahasiswa asal Papua dan Papua Barat yang menuntut ilmu di sana.

Para pesepak bola asal Papua juga berkontribusi banyak bagi Arema, klub kebanggaan Malang Raya. Seperti dilansir Jawa Pos Radar Malang, trio Micky Tata-Dominggus Nowenik-Panus Korwa turut berjasa atas gelar Galatama bagi Singo Edan -julukan Arema- pada musim 1992-1993.

Generasi para pemain Papua berikutnya di Arema, yakni Silas Ohee, Marthen Tao, Erol Iba, serta Alex Pulalo, turut menyumbangkan tenaga ketika Singo Edan menjuarai Piala Indonesia. Dua tahun berturut-turut, 2005 dan 2006. “Teman-teman menerima saya dengan tangan terbuka di sini,” kata Ricky Kayame, penggawa Arema di Liga 1 musim ini, kepada Jawa Pos Radar Malang.

Menurut Kayame, kondisi tersebut bisa tercipta karena semua saling menghargai perbedaan. Dan, di mata mantan pemain Persebaya Surabaya tersebut, itulah yang memang harus dilakukan untuk memerangi rasisme. “Kan negara ini Bhinneka Tunggal Ika. Jadi, hargai perbedaan itu lebih bagus, mulia sekali,” tuturnya.

Di Surabaya, Fikser merintis karir sejak bawah. Berkompetisi secara sehat tanpa pernah mengalami diskriminasi. Mulai menjadi lurah, camat, hingga kini Kabaghumas Pemkot Surabaya.

“Pak Fikser ini humas saya. Dia muka saya,” ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat berbincang dengan Lenis Kogoya, staf khusus presiden, Selasa (20/8) malam lalu di rumah dinas wali kota.

Selain Fikser, di Pemkot Surabaya ada nama-nama lain dari Papua yang menduduki posisi penting. Misalnya Camat Tambaksari Ridwan Mubarun dan Camat Sukomanunggal Lakoli. Juga ada Kasitrantib Kelurahan Balongsari Mansye Wenda yang sejak 1993 sudah tinggal di Surabaya. “Orang Surabaya itu banyak yang baik. Saya punya bapak angkat juga saat kuliah di IKIP (sekarang Unesa, Red),” jelas Wenda.

Hubungan erat Surabaya dengan Papua juga terlihat saat Risma -sapaan Tri Rismaharini- diopname akhir Juni lalu. Dia didoakan orang-orang Papua. Misalnya yang dilakukan jemaat Gereja Kristen Injili di Tanah Papua Jemaat Petrus Waena Jayapura. Mereka menggelar doa kebaktian agar Risma sehat selalu.

Marta Erari, 65, ketua persatuan wanita gereja tersebut, ketika itu mengungkapkan bahwa Risma sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Dia pernah berkunjung dan makan bersama mereka tahun lalu. “Semua doakan Mama Risma. Kami punya mama semoga lekas sembuh,” ujar dia.

Risma mengaku memang pernah berkunjung ke Jayapura, Merauke, dan Manokwari. Di beberapa tempat itu memang ada pemberian bantuan langsung untuk warga. Salah satunya dengan memberikan keterampilan membuat kerajinan tangan.

Menurut Lenis, Risma dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sama-sama layak digelari nama Papua. “Ibu Gubernur (Khofifah) saya kasih nama Papua. Terus Ibu Wali Kota (Risma) saya kasih nama Papua karena hatinya saya lihat,” ujarnya.

Lenis menjelaskan, Khofifah datang langsung ke rumahnya di Wamena saat ayahnya meninggal dunia. Khofifah juga menggulirkan program bantuan nontunai saat masih menjadi menteri sosial.

“Jadi, Papua dengan Jawa Timur ini bersaudara. Tidak ada permusuhan. Anak-anak dan mahasiswa tak perlu takut. Jadikan kiri-kanan itu orang tua,” tutur Lenis.

Di Surabaya pula Monica Marice Asaribab belajar banyak tentang penghormatan pada keberagaman. “Tak pernah sekali pun saya di-bully. Malah saya dipuji teman-teman,” kata mahasiswi semester IV Program Studi Hukum Unitomo itu.

Bersama kawan-kawan di kampus, perempuan asal Biak, Papua, tersebut melakukan berbagai kegiatan bersama-sama. Di kampus maupun di luar kampus. Itu semua membuatnya betah. Karena itu, setelah lulus nanti, Monica ingin mencari pekerjaan di Surabaya. “Setelah dapat pengalaman yang cukup, baru saya nanti kembali ke kampung halaman,” ujarnya.

Ada Kapten Ruben, Anak Bangsa, dan Micky Tata

MEREKA sudah berbeda tim. Rendi Irwan di Persebaya Surabaya, Fandry Imbiri di Madura United. Tapi, jalinan persahabatan keduanya tak pernah pupus.

“Kami masih saling berkomunikasi. Istri-istri kami malah sering bertemu,” kata Rendi tentang pertemanannya dengan Fandry, mantan rekan setimnya di Persebaya yang berasal dari Papua.

Fandry membenarkan. Dua musim membela Green Force -julukan Persebaya- membuat rekan-rekan setimnya kala berkostum hijau-hijau sudah dia anggap seperti keluarga. “Kami dekat sekali, bisa dibilang seperti keluarga,” katanya.

Karena itu, baik Rendi maupun Fandry prihatin sekali begitu mengetahui ada letupan insiden di asrama mahasiswa Papua, juga kejadian di Malang.

Yang kemudian memicu demonstrasi besar-besaran di berbagai kota di Papua dan Papua Barat.

Padahal, jalinan persaudaraan Surabaya dan Malang, dua kota terbesar di Jawa Timur, dengan Papua dalam berbagai bidang sudah terjalin lama. Terutama di lapangan hijau di mana Persebaya dan Arema FC menjadi ikon di kota masing-masing.

Kapten Persebaya saat ini, Ruben Sanadi, adalah putra Papua. Ada dua pemain lain asal Bumi Cenderawasih di Green Force musim ini: Osvaldo Haay dan Elias Basna. Semusim sebelumnya malah lebih banyak lagi.

“Saya sempat bicara dengan Ruben juga. Kami semua di tim ini baik-baik saja,” terang pemain 32 tahun itu kepada Jawa Pos.

Seusai mencetak gol ke gawang Perseru Badak Lampung FC Selasa lalu (20/8), Osvaldo juga berselebrasi sembari memperlihatkan kertas bertulisan “Saya No to Racism (katakan tidak pada rasisme).”

“Saya merasa (yang melakukan tindakan rasis, Red) itu semua bukan orang Surabaya. Itu individu yang ingin memecah belah persaudaraan antara Surabaya dengan Papua,” kata Osvaldo ketika itu.

Jalinan persaudaraan Malang dengan Papua di lapangan hijau juga menjulur jauh. Sejak masa Galatama (kompetisi semiprofesional yang kemudian digabungkan dengan Perserikatan menjadi Liga Indonesia, Red). Seperti dilansir Jawa Pos Radar Malang, ketika Arema tengah membentuk skuad untuk melakoni debutnya di Galatama VIII/1988, ada lima pemain Papua yang didatangkan. Mereka adalah Micky Tata, Dominggus Nowenik, Panus Korwa, Donat Meuri, dan France Jasman.

Sejak itu, relasi Arema dengan Papua, baik di Galatama maupun saat Liga Indonesia, terawat baik.

Pada periode 2004-2006, Arema bahkan diperkuat oleh empat pemain asal Papua. Yaitu, Silas Ohee (kiper), Alexander Pulalo (bek), Erol FX Iba (bek/gelandang), dan Marthen Tao (penyerang).

Berikutnya, pada 2007, ada Elie Aiboy dan Ortizan Solossa. Estafet putra Papua lantas berlanjut ke Engelberd Sani, Marko Kabiaay, Oktovianus Maniani, hingga Israel Wamiau. Di musim ini, Arema FC punya dua pemain Papua: Ricky Kayame dan Zidane Aldrin Pulanda.

Di Surabaya, selain di Persebaya, di level klub internal (klub peserta kompetisi Persebaya) relasi Surabaya dengan Papua juga telah berjalan lama. Klub Anak Bangsa dan Semut Hitam punya banyak talenta asal Bumi Cenderawasih.

Musim ini, ada empat pemain asal Papua di Anak Bangsa. Sementara Semut Hitam punya tiga pemain asal Bumi Cenderawasih. “Cuma yang tiga pemain di Semut Hitam sedang pulang kampung karena lagi libur kuliah,” kata Hendrik Peter, pemilik klub Anak Bangsa dan Semut Hitam.

Salah satu talenta yang sudah dihasilkan adalah kiper Samuel Reimas. Dia jebolan Anak Bangsa. Yang kemudian menjadi bagian Persebaya saat juara Liga 2 2017. Saat ini, Reimas memperkuat Bali United.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ttg)



Close Ads