alexametrics
Didik Nini Thowok Ikut Lathi Challenge

Permisi, Maestro Lewat, Yang Lain Mundur Dulu

25 Juni 2020, 13:36:38 WIB

Lathi challenge sempat menguasai konten aplikasi TikTok. Ribuan anak muda mengkreasikan video pendek yang terinspirasi dari lagu itu. Sang maestro tari Didik Nini Thowok turun gunung menginterpretasikan Lathi-nya sendiri.

DEBORA DANISA SITANGGANG, Jakarta, Jawa Pos

PUTRA Didik Nini Thowok, Aditya, tengah asyik menonton video YouTube setelah menjalani aktivitas sekolah online. Ada salah satu video yang menarik perhatiannya. Lathi. Karya Weird Genius dan dilantunkan penyanyi asal Surabaya Sara Fajira. ”Ini lho, Pa, nonton Lathi,” panggilnya mengundang, seperti yang diceritakan Didik.

Pertama menontonnya, Didik tak terlalu antusias. Memang kreatif dan unik. Tapi ya sudah. Didik hanya sekali menonton. Meski dia mengaku memang terkesan dengan kegeniusan musisi itu menggabungkan musik EDM dengan langgam Jawa.

Namun, putranya yang baru lulus SMP itu terus mencekokinya dengan video Lathi. Menurut Aditya, ada gerakan yang kurang pas dari video tersebut. Walau musiknya adiktif, tetap terasa ada yang kurang cocok. ”Dia sering saya ajak pentas, jadi punya feeling. Meskipun susah menjelaskannya,” ungkap penari kelahiran Temanggung pemilik nama asli Didik Hadiprayitno itu.

Didik mengamati lagi video tersebut. Ternyata yang dimaksud putranya adalah detail pada penari perempuan. Dalam video itu, sang penari mengenakan pakaian hitam.

Tangannya bergerak-gerak dengan begitu dinamis, ke atas dan ke samping. Itulah yang menurut Didik tidak cocok.

Lantas dijelaskannya ke Aditya soal wayang orang dalam tradisi Jawa. Perempuan yang memakai kostum hitam seharusnya digambarkan sebagai perempuan yang lembut. ”Tapi, kalau gerakannya dinamis begini, seharusnya pakai pakaian warna merah,” jelasnya.

Gempuran Lathi makin gencar menerpa alam bawah sadar Didik dengan kemunculan berbagai challenge di media sosial. Apalagi kemudian dia menonton program Deddy Corbuzier yang mengundang Weird Genius. Didik tergelitik saat mereka bercerita bahwa ada anggapan lagu itu punya unsur yang bisa memanggil setan. ”Itu yang menggelitik, terus terang saja. Kok sampai sejauh itu,” ungkapnya tak habis pikir.

Padahal, lagu Lathi jauh dari makna mistis. Dalam bahasa Indonesia, lathi bisa diartikan sebagai ucapan atau tutur kata. Jika dilihat dari liriknya, Weird Genius yang beranggota Eka Gustiwana, Reza Arap, dan Gerald Liu menulis kisah tentang hubungan percintaan yang menyakitkan alias toxic relationship. Ketika cinta menjadi berkah sekaligus bencana.

Didik kemudian teringat pada anggapan umum bahwa tembang Jawa sarat dengan unsur pemanggilan atau pemuja setan. Seperti Lingsir Wengi. ”Saya mulai gak sreg sejak Lingsir Wengi dibilang untuk menyembah kuntilanak,” lanjutnya gemas.

Kebetulan saat itu manajemen menghubunginya. Mengajak membuat sesuatu yang berhubungan dengan Lathi, mumpung lagi viral. ”Saya pikir, wah… gayung bersambut,” ucapnya.

Didik ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan tambahan insight mengenai budaya Jawa dalam lagu Lathi tersebut. Sekaligus meluruskan soal pemujaan setan itu. ”Ini lho, kalau mau belajar budaya Jawa, jangan hanya kulitnya saja. Jangan ada anggapan tembang macapat itu untuk mengundang setan,” tutur penari cross-gender tersebut.

Didik butuh waktu sekitar dua pekan untuk menyelesaikan Lathi challenge versinya. Yang lama tentu memikirkan konsep dan editing. Soal kostum dan riasan bukan perkara sulit bagi Didik. Waktu untuk syuting dan gonta-ganti riasan sampai enam kali hanya dilakukan dalam waktu dua hari. Syuting sore sampai malam saja. Editing sendiri makan waktu hampir dua minggu.

Dalam cover Lathi versinya, Didik menggunakan dua unsur utama, yakni tiruan topeng Hannya dan hiasan kepala Tsunokakushi. Keduanya disadur dari budaya Jepang. Didik pernah menggunakannya dalam karya berjudul ”Dewi Sarak Jodag”. Berkisah tentang seorang perempuan yang marah karena percintaan.

Didik belajar tentang filosofi Hannya dan Tsunokakushi pada 2000. Topeng Hannya berbentuk wajah monster. Yang kalau ditutup mulutnya, akan tampak mata dan kerutan dahi. Itu melambangkan kesedihan. Sedangkan jika ditutup mata dan dahinya, akan terlihat mulutnya yang bertaring. Simbol kemarahan.

Sementara Tsunokakushi adalah hiasan kepala yang kerap digunakan perempuan dalam upacara pernikahan. Tsunokakushi dimaksudkan untuk menutupi tanduk imajiner perempuan. Didik menyebutkan, dalam budaya Jepang, orang-orang percaya bahwa perempuan juga memiliki tanduk atau kemarahan. Dan itu harus ditutupi saat upacara agar suaminya tidak takut. ”Menurut saya, ini selaras dengan yang diekspresikan dalam Lathi,” kata penari berusia 65 tahun yang punya nama lahir Kwee Tjoen An tersebut.

Video itu akhirnya diunggah Selasa (23/6). Viewer-nya sudah melebihi 100 ribu hingga tadi malam. Nama Didik pun ikut viral di media sosial berkat unggahan para penikmat kesenian tarinya. ”Ada yang bilang, permisi ini ada maestro mau lewat, yang lain mundur dulu,” canda Didik.

Tapi, Didik enggan dianggap menyaingi para TikTokers lain yang ingin mengunggah challenge serupa. ”Jangan mundur karena apa yang saya buat. Saya bukan untuk bersaing, tapi sharing,” tuturnya.

Terkait pandemi, Didik mengaku juga terimbas. Terjadi perubahan dalam kegiatannya. Biasanya dia bisa mengadakan pertunjukan yang mengundang banyak penonton. Sekarang, untuk sementara, tidak bisa. Mau tak mau dia dan timnya harus mencari cara agar tetap bisa memperlihatkan kesenian tanpa bertatap muka. Yakni melalui online.

”Kami sedang menyusun format pertunjukannya seperti apa,” ujar Didik. Entah itu jumlah penontonnya dibatasi dan mengikuti protokol, membuat pertunjukan berbayar lewat online seperti konser para bintang K-pop, atau menyajikan koleksi pertunjukannya di laman khusus.

Sebelum itu terjadi, saat ini yang paling memungkinkan untuknya adalah mengadakan pertunjukan lewat YouTube. ”Tapi juga kepikiran untuk main TikTok saja. Karena di sana ternyata banyak musik tradisi. Nanti kalau ada waktunya mungkin bikin lagi,” katanya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ayi



Close Ads