alexametrics

Kireinachan dan Kisah Ratusan Cangkir

Dari Tradisi Keluarga Sampai Jadi Koleksi
25 Juni 2020, 19:22:45 WIB

Kali pertama membeli cangkir tujuh tahun lalu, Kireinachan lantas jatuh cinta. Dia tidak bisa berhenti mengumpulkan cangkir. Dari penjual ke penjual lain. Negara satu ke negara berikutnya. Kini koleksinya sudah ratusan cangkir. Tidak cuma jadi pajangan. Semua dia pakai. Bergantian setiap hari.

SAHRUL YUNIZAR, Denpasar

NAMA lengkapnya Putu Diah Chandra Dewi. Biasa dipanggil Chandra. Namun, orang-orang terdekat lebih akrab memanggil Kireinachan. Panggilan itu pula yang dia pakai untuk akun media sosialnya. Pun demikian bukunya berjudul My Cup Story. Namanya jelas tampak di atas cover tebal buku itu. Ketika berjumpa Jawa Pos di Sanur pertengahan bulan lalu (16/2), dia membawa dua buku. Satu buku langsung dia tunjukkan.

Living a life that i love, kalimat itu bertengger tempat di bawah judul buku tersebut. Tentu saja ada potret Kireinachan di sana. Berikut salah satu dari koleksi cangkirnya. Saat memulai cerita kisah dari ratusan cangkir miliknya, dia juga membuka buku tersebut. Menunjukkan lembar demi lembar buku yang dia susun cukup lama. ”Buku ini sampai lima tahun perjalanan saya proses,” tuturnya.

Akhir 2018 Kireinachan meluncurkan buku tersebut di Sanur, tempat dia tinggal. Buku tersebut sengaja Kireinachan bawa, karena nyaris semua cerita dia dan cangkirnya ditumpahkan di sana. Lewat kata demi kata, serta potret demi potret. Secara keseluruhan, tidak kurang 640 cangkir masuk dalam buku terbitan JP Books itu. Mulai cangkir pertama, yang paling digemari, sampai cerita duka dari proses mengumpulkan koleksinya.

Punya banyak koleksi cangkir memang membuat Kireinachan senang. Namun sempat pula membuat dia bingung. Sebab, dia merasa ada yang kurang, bila cangkir-cangkir itu hanya berada dalam bufet, dinikmati sendiri. Dia mau orang lain juga menikmati koleksi cangkirnya. Sempat ingin rutin membuat agenda minum teh. Mengundang kerabat, sahabat, dan siapa pun yang tertarik ikut gabung. ”Jadi orang bisa datang sambil minum teh,” kata dia.

Keinginan itu sudah terealisasi. Perempuan yang kini aktif bekerja sebagai notaris tersebut cukup sering kumpul bersama sahabat-sahabatnya. Mereka sering juga jalan-jalan bersama. Sambil minum teh dengan cangkir koleksi yang dia pilih sendiri. Bahkan, Kireinachan bersama sahabat-sahabatnya tidak jarang berdandan dengan tema-tema unik. Semua dilakukan agar sensasi minum teh semakin terasa.

Namun, itu dirasa belum cukup. Hingga Kireinachan memutuskan untuk membuat buku. Yang prosesnya memakan banyak waktu. Yang sampai berulang gonta-ganti fotografer. Karena merasa tidak sanggup harus foto ratusan cangkir. Sampai Kireinachan membuat kolase sendiri. Mengambil gambar koleksinya memakai telepon genggam. ”Deretan cangkir itu, saya sendiri yang foto,” ujarnya sembari menunjukkan kolase foto tersebut.

Dalam buku My Cup Story, kolase itu dia sematkan pada bagian akhir. Setiap foto dibubuhi nomor. Bagian berikutnya, nomor-nomor itu diisi nama. Semua cangkir milik Kireinachan memang punya nama. Ada yang dari pabriknya sudah diberi nama. Ada pula yang dinamai sendiri. Seperti Indonesian Cangkir Wayang. Serupa namanya, cangkir itu memang punya corak berbeda. Yakni wayang. Corak yang tidak biasa ada pada cangkir.

Cangkir favorit Kireinachan bernama Imari. Yang diadaptasi dari cangkir buatan abad ke-17 sampai abad ke-18. Pertama kali diproduksi, coraknya dibuat langsung memakai tangan, hand painted. Setelahnya, mulai dibuat memakai alat print. Itu yang jadi koleksi Kireinachan saat ini. ”Dia itu motif Jepang,” imbuhnya. Menurut dia, cangkir itu dibuat sangat detail. Warna cangkir itu juga menarik baginya. Semakin mengkilap setiap kali dicuci.

Meski tidak punya jadwal pasti, Kireinachan mengatakan, ada kalanya semua koleksi yang dia punya dicuci. Ratusan cangkir itu dia keluarkan dari bufet atau tempat pajang lainnya. Kemudian dikumpulkan. Dilap satu per satu. Tidak dia lakukan sendiri tentu saja. Tapi, tetap saja dia paling capek. Alasannya tidak lain karena hanya dia yang hafal pasangan setiap cangkirnya.

Yang membantu mencuci, lanjut dia, tidak jarang salah memasangkan cangkir dengan tatakannya. ”Jadi, harus saya cocokan lagi,” kata dia. Meski melelahkan, membersihkan cangkir-cangkir koleksinya juga jadi bagian paling menyenangkan bagi Kireinachan. Sebab, dia bisa kembali menyentuh satu per satu cangkirnya. Menikmati satu demi satu koleksinya. Yang butuh perjuangan mengumpulkannya.

Butuh perjuangan karena Kireinachan seringkali tidak membeli sekaligus semua cangkir yang dia incar. Misalnya yang satu set, bisa jadi dia beli satu per satu. Dari penjual berbeda. Yang tinggal di tempat berbeda pula. Tidak jarang pula dia harus merelakan cangkir idaman rusak saat sampai ditangan. Kerusakan biasa terjadi dalam proses pengiriman. Enak bila penjual menjamin setiap kerusakan diganti. Bila tidak, dia harus ikhlas.

Sebab, itu risiko yang harus bisa dia terima sebagai kolektor benda-benda pecah belah. Hanya, sulung dari dua bersaudara itu punya cara sendiri untuk mengabadikan koleksi yang kadung rusak, pecah, atau retak-retak karena sering dipakai. Dia tidak membuangnya, tidak pula dia kirim ke ibu kota untuk direkat ulang. Semua dia simpan, di foto, kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi diri.

Baginya, cangkir lebih dari koleksi. Juga bukan cuma alat untuk membuat minum teh semakin nikmat. Kireinachan melihat cangkir sebagai karya seni. Yang punya banyak filosofi dibaliknya. Sehingga bisa membantu ketika butuh refleksi diri. Itu pula yang membuatnya tidak berhenti mengumpulkan cangkir. Bukan hanya berburu dari penjual atau ikut lelang, dia juga selalu menyempatkan diri mencari cangkir bila bepergian ke luar negeri.

Tidak heran koleksinya berasal dari banyak negara. Mulai Inggris, Perancis, Denmark, Belanda, sampai Rusia. Ada pula yang berasal dari negara-negara di Asia seperti Tiongkok dan Jepang. Pun demikian yang dibuat di Indonesia, Kireinachan punya. Cangkir sebanyak itu, tidak lantas hanya dia jadikan sebagai pajangan. ”Selalu saya pakai, gantian. Karena saya ada jadwal minum teh di kantor,” katanya.

Minum teh adalah tradisi keluarga Kireinachan. Sejak dia kecil, ibu dan ayahnya yang bernama Ni Nyoman Sudjarni dan I Nyoman Darnayasa sudah punya tradisi minum teh. Setiap pagi, kedua orang tua Kireinachan mengajak dia dan adiknya, Ayu Gunasari, minum teh. Sambil makan roti yang juga dibuat sendiri. Tradisi itu dia bawa sampai kini. Bahkan, tradisi itu yang mengenalkan Kireinachan kepada cangkir.

Tidak heran, di halaman pembuka bukunya, yang pertama dia tulis adalah kenangan minum teh bersama ayah dan ibunya. ”Ini adalah cangkir pertama ibu saya. Mereknya, Johnson Brothers. Ibu punya set lengkap, sampai saat ini masih terpelihara dengan baik,” terang dia sembari menunjukkan foto-foto ketika dia dan keluarganya minum teh. Selain itu, cangkir bernama Old English Rose juga ada di rumah orang tuanya. Cangkir itu buatan Inggris. Sering juga dipakai minum teh oleh Kireinachan bersama keluarganya.

Dari tradisi minum teh di rumah, dia kemudian mulai tertarik dengan cangkir. Ketertarikannya kian hebat saat dia sakit dan harus berada di rumah selama satu bulan. ”Depan saya itu bufetnya. Jadi, kalau saya mau duduk saya lihat bufetnya, saya perhatiin, bagus juga ini bufetnya, ada deret cangkir,” kenangnya.

Kireinachan semakin kagum lantaran cangkir dalam bufet milik ibunya punya corak yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. ”Kekaguman saya karena kenapa manusia bisa buat persis. Kayak orang melukis itu dicangkir,” beber dia. Setelah membeli cangkir pertama dan mengumpulkan lebih banyak cangkir, dia semakin mengerti bahwa setiap cangkir punya cerita dan menyimpan banyak pesan.

Dipadukan tradisi minum teh yang dia lakukan sampai sekarang, koleksi cangkir itu membuat perempuan kelahiran 21 Maret 1977 itu kian bahagia. Kini ke mana pun dia pergi, Kireinachan selalu bawa cangkir sendiri. Yang berbeda setiap harinya. ”Kenikmaatan minum teh dengan cangkir berbeda setiap hari itu nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya suka aja. Buat relaksasi kalau menurut saya,” bebernya.

Lebih bahagia lagi karena kesukaannya terhadap cangkir juga mendapat dukungan dari suami tercinta, Hari Suhardy. Tidak cuma mengoleksi, Hari juga mendukung bila Kireinachan ingin merealisasikan cita-cita membuat galeri atau museum cangkir pertama di Indonesia. Tempat yang mudah didatangi siapa pun. Untuk melihat koleksi cangkir istrinya. Dan dilayani apabila ada yang ingin minum teh di sana.

Editor : Kuswandi

Reporter : Syahrul Yunizar



Close Ads