alexametrics

Totalitas Faris Wibisino Melestarikan Wayang Beber

Bangun Balai agar Warga Tak Lari ke Kota
25 Juni 2019, 13:01:03 WIB

Luar biasa kecintaan Faris Wibisino pada wayang beber. Mengikuti zaman, dia membuat tema dan tokoh kekinian untuk wayang yang pada awalnya digunakan sebagai sarana pemberontakan masyarakat bawah itu. Faris mengubur mimpi menjadi seniman di Bali. Dari desa kelahirannya dia melakukan banyak hal.

Virdita Rizki Ratriani, Wonogiri

WAYANG bukan hal asing bagi Faris Wibisono. Sejak kecil telinganya akrab dengan suara gamelan yang dimainkan di rumah. Buyut dan kakeknya adalah dalang wayang kulit. Sedangkan neneknya seorang sinden.

Faris kecil biasa mendengarkan kisah wayang dari buyutnya.

Membuatnya jadi sangat menyukai seni tradisional tersebut. Namun, ketika dia TK, buyutnya meninggal. “Tidak ada lagi panutan saya. Mbah kakung juga dalang, tetapi beda karakter sama mbah buyut,” jelasnya saat ditemui di Balai Pesunggingan Wonogiri yang didirikannya.

Saat krisis moneter pada 1998, keluarganya menjual perangkat gamelan. Faris tak lagi mendengarkan lantunan musik itu. Dia juga jarang menyimak cerita wayang. Tetapi, hobinya menggambar sketsa dan tokoh wayang yang dilakoni sejak SD tetap dilakukan.

Lulus SMK (sekolah menengah kejuruan), pemuda 27 tahun kelahiran Wonogiri tersebut melanjutkan kuliah di Jurusan Kriya Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Di sanalah terjadi episode awal kecintaannya terhadap wayang beber. “Saya melihat bagusnya mural di tembok ISI,” ujarnya.

Bagi Faris, wayang beber memiliki pesona tersendiri. Topik mengenai wayang beber pun diangkatnya sebagai tugas akhir kekaryaan. Dalam penggarapan, dia menemukan sejumlah tantangan mencari rujukan. Banyak yang dia baca, tapi tak ada yang komplet. Belum ada yang menjelaskan secara utuh wayang yang berkembang sejak masa pra-Islam di Indonesia itu.

Wayang beber memang langka. Wayang tradisi dengan cerita Panji dan disungging menggunakan kertas daluang tersebut kini hanya tersisa di dua tempat. Yakni di Desa Karang Talun, Kelurahan Kedompol, Pacitan, Jatim; dan di Desa Gelaran, Kelurahan Bejiharjo, Gunungkidul, Jogjakarta.

Dari segi media, menurut Faris, wayang beber merupakan wayang tertua di Indonesia. Penamaan wayang beber berasal dari cara memainkannya. Pertunjukan dilakukan dengan membeber atau membentangkan gambar wayang yang disungging di atas kertas daluang. Setelah itu lakon diuraikan melalui gambar yang tertera pada kertas atau layar tersebut.

Berbeda dengan wayang beber tradisional yang mengangkat cerita Panji, Faris punya pilihan sendiri. Dia memunculkan kisah masyarakat yang dilihatnya melalui wayang beber tani. Tema yang diangkat adalah pranoto mongso atau konsep hidup masyarakat Nusantara tentang aturan musim dengan 24 babak.

Faris menggambar dan menciptakan tokoh untuk kisah tersebut selama setahun pada 2014. Wayang beber, menurut dia, bisa menjadi karya untuk menandai setiap masa kehidupan manusia. Wayang beber kali pertama muncul dari masa Kerajaan Majapahit. Bercerita tentang Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji. Kemudian terus berkembang seperti pada masa Kerajaan Kartasura dengan lakon Joko Kembang Kuning.

“Nggak mungkin kan saya membuat wayang beber dari Kartasura karena persoalan saya tidak seperti era Kartasura. Persoalan saya hari ini adalah yen nonton tonggoku (tetanggaku) dioyak (dikejar) bank plecit (perseorangan yang meminjamkan uang), bagaimana reaksinya?” terang dia.

Faris peduli terhadap persoalan lingkungan yang dihadapi kalangan petani di desanya. Sehingga proses pranoto mongso yang dia angkat bercerita tentang masyarakat agraris Wonogiri. “Ketika gunungku habis itu reaksinya bagaimana? Ketika masyarakat tidak lagi memedulikan lingkungan itu reaksi saya seperti apa? Itu proses Panji saya hari ini,” urainya.

Pranoto mongso melahirkan budaya brubuh, budaya tebang pilih. Seperti dulu masyarakat dianjurkan menebang pohon di musim tua untuk bahan baku bangunan. Logikanya, pada musim itu kandungan air dalam pohon rendah sehingga ketika digunakan untuk membangun rumah tidak akan mudah lapuk. Sayang, aturan tersebut kini sudah mulai ditinggalkan.

Manusia sudah kian serakah mengeruk kekayaan alam. Tanpa memperhitungkan lagi pertanda alam. Itulah yang menjadi kegelisahan Faris untuk menghadirkan lakon pranoto mongso dalam wayang bebernya, wayang beber tani.

Hal yang ingin dia tampilkan, menurutnya, selaras dengan konsep wayang beber pada awal kemunculan. Digunakan sebagai sarana pemberontakan masyarakat bawah. Dia juga menyuarakan kegelisahan mengenai maraknya jual beli lahan di kawasan karst Pegunungan Sewu dengan harga sangat murah. Yakni sekitar Rp 6 ribu hingga Rp 13 ribu saja per meter persegi. Selain itu maraknya lahan pertanian dan hutan yang berubah menjadi kawasan industri.

“Yang ditakutkan dari sudut pandang budaya, berapa rentetan sejarah yang hilang, berapa ribu masyarakat kebingungan akan arti identitas jika semua lahan itu berubah menjadi gudang, pabrik, dan sebagainya?” ucap anak pertama di antara dua bersaudara tersebut.

Faris tidak ingin karyanya hanya berhenti di galeri. Dia memilih berkeliling dari satu desa ke desa lainnya untuk menyebarkan wayang beber tani. Utamanya ke anak-anak. “Hingga hari ini ada tiga sampai empat kecamatan yang menjadi wilayah kita. Kalau dulu memang keliling Surabaya, Tuban, Bojonegoro, Bandung, Jakarta dengan biaya sendiri,” terangnya.

Faris memiliki program sonjong desa yang berarti bermain ke desa. Di situ dia akan mengajari anak-anak kesenian, khususnya wayang beber. Dia juga membagi ilmu cara membuat wayang suket dan keterampilan lainnya. Kegiatan itu dia lakukan dua minggu sekali. “Doktrin art, culture, dan history di sana,” imbuhnya.

Untuk menggaet minat anak-anak, Faris menyediakan konsumsi. Biaya yang dibutuhkan dalam sekali workshop hanya Rp 50 ribu. Itu sudah cukup untuk menjamu 20 sampai 25 anak. Beberapa kali mendapatkan beasiswa, dananya dikumpulkan. Hingga dia membuat workshop pada awal 2012 di desa kelahirannya, Pracimantoro, Wonogiri.

Workshop tersebut dibuat untuk mengenalkan wayang beber ke masyarakat luas. Anak pasangan Marseno dan Marwanti itu memutuskan untuk tidak meninggalkan Wonogiri. Selama ini sudah terlalu banyak desa yang ditinggalkan generasi muda mereka untuk merantau ke kota. Desa-desa menjadi sepi, asing, dan tertinggal.

Tidak mau desanya bernasib seperti itu, Faris merelakan mimpinya untuk menjadi seniman di Ubud, Bali. “Kowe ki seorang perupa, apakah akan membohongi proses berkaryamu sendiri? Ketika yang kamu ceritakan masyarakat petani agraris, tetapi kamu tidak ada di dalamnya, tidak menjadi keseharianmu, berarti kowe mung ngapusi thok,” pikirnya kala itu.

Faris mengumpulkan dana hasil penjualan karyanya untuk membuat balai pesunggingan sebagai wadah menyebarkan wayang beber. Balai itu digunakan untuk mengembalikan kebudayaan akar rumput di daerahnya.

Di Balai Pesunggingan Wonogiri Faris menularkan wayang beber ke masyarakat sekitar. Di balai yang dibangun di pekarangan rumahnya itu, ditempatkan seperangkat gamelan yang dibelinya secara bertahap sesuai dana. Tak sebatas menjadi lakon dalam pementasan wayang, dia juga memelopori komunitas Semprong Bolong untuk mengaplikasikan lakon wayang beber di dunia nyata. “Yen ndisik kan enek budaya sambatan gawe omah secara gotong royong. Hari ini gotong royong bukan membuat rumah, tetapi urun energi. Sing duwe kepinteran bab agama ngomong agama, sing ekonomi tentang ekonomi,” urainya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/ayi)