alexametrics

Khusnul Prasetyo, Wisudawan Terbaik UPN Surabaya yang Lolos di UGM

25 Mei 2022, 07:48:33 WIB

Keterbatasan ekonomi tidak membuat Khusnul Prasetyo patah arang. Pemuda 23 tahun itu rela melakukan berbagai usaha agar bisa menempuh jenjang pendidikan setinggi-tingginya. Mulai jualan buku sampai jadi pelayan kafe, penerima beasiswa bidikmisi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya itu kini sudah menjadi mahasiswa S-2 di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

TEMPAT tinggal berukuran 3 x 8 meter di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Wonorejo Blok WF 314 menjadi saksi bisu perjuangan Khusnul Prasetyo. Di tempat kecil itulah pemuda kelahiran 1999 tersebut belajar banyak hal. Dari menyaksikan langsung perjuangan hidup keluarganya sampai merasakan sulitnya mendapat tempat belajar yang layak.

Kondisi ekonomi keluarga Pras, sapaan akrab Khusnul Prasetyo, bisa dibilang kurang beruntung. Mustaji, bapaknya, hanya seorang sekuriti di sebuah taman kanak-kanak di daerah Wiyung. Sriatun, ibunya, hanya seorang ibu rumah tangga. Tidak ada pemasukan lain selain dari sang ayah.

Namun, justru hal itulah yang menjadi motivasinya. Pras memiliki angan-angan sederhana. ”Meski berasal dari keluarga tidak mampu, pendidikan harus tinggi,” ucapnya.

Tidak ada waktu bermain yang cukup bagi Pras. Sejak duduk di bangku SMA, aktivitasnya banyak disibukkan untuk kegiatan belajar, belajar, dan belajar. Juga, aktif di organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Selain pernah menjadi ketua OSIS, Pras juga menjadi ketua Organisasi Pelajar Surabaya.

Lagi-lagi, Pras sadar akan kondisi ekonomi keluarganya yang kurang begitu beruntung. Karena merasa memiliki prestasi akademik yang mumpuni, Pras mencoba ikut seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Universitas Airlangga (Unair) menjadi kampus pilihannya.

Namanya tidak muncul saat pengumuman SNMPTN yang proses seleksinya menggunakan nilai rapor. Dia pun mencoba jalur seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBMPTN). Namun, namanya tidak lolos setelah pengumuman tes tulis.

Rasa kecewanya semakin dalam. Tapi, Pras tetap ingin kuliah. Tanpa berpikir soal biaya, dia mencoba jalur mandiri. Sayangnya, ide tersebut ditentang oleh sang ayah. Sebab, ayahnya yang pernah bekerja sebagai cleaning service di STIE Perbanas tahu betul bahwa tidak ada jalur mandiri yang gratis.

Jalan terakhir, Pras diam-diam mendaftar beasiswa bidikmisi. Dia tidak minta izin orang tuanya karena takut ditentang. Kali ini dia harus mengalah dengan egonya. Kampus yang dipilih bukan lagi Unair. Pras memilih kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN). Jurusan yang diambil administrasi publik.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads