alexametrics

Akhirnya Tiongkok Cabut Status Lockdown Hubei

Penduduk yang Sehat Boleh Pergi ke Luar
25 Maret 2020, 12:47:09 WIB

Larangan perjalanan di Hubei dicabut setelah sepekan ini tidak ada kasus penularan lokal di Tiongkok. Secara keseluruhan, situasi di Tiongkok berangsur normal. Bahkan, sebagian area Tembok Raksasa akan dibuka.

BEIJING, Jawa Pos

’SAYA luar biasa bahagia.’’ Wu, salah seorang dokter di Hubei, melontarkan itu untuk mengekspresikan kegembiraannya dan rekan-rekan sejawat menyambut keputusan pemerintah Tiongkok mencabut larangan perjalanan di provinsi mereka tinggal tersebut.

Setelah berminggu-minggu terkurung di dalam rumah, penduduk di semua kota di Hubei yang dinyatakan sehat boleh keluar mulai dini hari tadi. Tidak hanya di depan rumah, tapi juga boleh ke luar Hubei. Negeri Panda itu memiliki aplikasi kesehatan yang diinstal di telepon pintar penduduknya. Status hijau menandakan mereka sehat. Mereka itulah yang boleh bepergian.

Kecuali Wuhan. Warga ibu kota Hubei itu harus sedikit bersabar. Sebab, kota tersebut adalah tempat munculnya virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 yang kini jadi pandemi global. Lockdown atau karantina wilayah di kota tersebut baru dicabut pada 8 April nanti.

Tiongkok mengambil keputusan itu setelah hampir sepekan tidak ada kasus penularan lokal di negara tersebut. Yang terjadi beberapa hari ini adalah kasus Covid-19 orang-orang yang baru bepergian dari luar negeri dan masuk ke Tiongkok. Baru kemarin (24/3) ada satu penularan lokal di Wuhan.

’’Setiap hari kami menyaksikan jumlah pasien yang sakit parah terus menurun. Situasinya membaik, orang-orang mulai dipulangkan dari rumah sakit,’’ terang Wu seperti dikutip Agence France-Presse.

Tren yang terus menurun itu membuat para petugas medis lega. Ketika Tiongkok memutuskan untuk mulai lockdown di Wuhan 23 Januari lalu dan menyusul beberapa kota lain di Hubei, tim medis hampir tak bisa beristirahat. Aliran pasien yang positif tertular hampir tak terbendung. Pemerintah sampai mendirikan rumah sakit darurat karena daya tampung tidak lagi memadai.

’’Saya kehilangan lima pasien dalam sehari, bisa Anda bayangkan itu?’’ ujar dokter Xie Jiang seperti dikutip BBC. Rekan-rekannya sesama dokter juga berguguran. ’’Jangan mengabaikan penyakit ini,’’ tambahnya.

Jiang menegaskan bahwa keputusan pemerintah Tiongkok untuk melakukan lockdown sudah tepat. Meski, dia mengakui waktunya sedikit terlambat.

Sebab, pemerintah pernah berusaha menutup-nutupi situasi yang ada. Dokter Li Wenliang yang mengungkap kali pertama bahwa ada virus sejenis SARS malah diintimidasi. Li menjadi salah seorang korban meninggal karena tertular Covid-19. ’’Keterbukaan informasi sangat penting dan kita harus mengambil langkah yang cepat,’’ katanya.

Seandainya lockdown di Hubei lebih cepat, hasilnya mungkin lebih baik. Apa pun itu, Tiongkok bisa dibilang sudah hampir menang. Situasi di negara tersebut berangsur normal. Penduduk Beijing juga mulai jalan-jalan ke taman dan bepergian meski masih memakai masker.

KERJA LAGI: Para pekerja sedang merakit kendaraan di pabrik Dongfeng Honda di Wuhan. (STR/AFP)

Kemarin (24/3) pemerintah Tiongkok juga mengungkapkan bahwa sebagian area Tembok Besar juga akan dibuka untuk pengunjung. Itu adalah salah satu spot jujukan wisata di Tiongkok.

Situasi di Tiongkok itu berbanding terbalik dengan kondisi di Eropa, AS, Australia, dan sebagian negara Asia saat ini. Gelombang penularan kedua terjadi di luar Tiongkok.

Kalau Tiongkok mencabut larangan bepergian di Hubei, pada jam yang sama India justru memberlakukan lockdown satu negara. Sebelumnya itu hanya berlaku untuk ibu kota New Delhi.

’’Untuk menyelamatkan India, semua penduduk, Anda, dan keluarga Anda, semua jalan dan semua lingkungan lockdown,’’ ujar Perdana Menteri India Narendra Modi.

Italia juga memberlakukan aturan yang sangat ketat agar penduduk tinggal di rumah masing-masing. Supaya penularan berhenti. Beberapa wali kota bahkan harus turun langsung ke lapangan memerintah penduduk mereka yang membandel untuk pulang. Berbagai media sosial digunakan untuk kepentingan tersebut.

Senin (23/3) ada 601 orang meninggal di Italia. Itu lebih rendah dibandingkan Sabtu (21/3), ketika Italia memecahkan rekor dunia dengan 793 orang meninggal karena Covid-19 dalam sehari. Keesokan harinya, terjadi penurunan menjadi 651 orang. Angka penularan juga turun. Dari 6.557 orang pada Sabtu menjadi 4.789 pada Senin.

’’Italia belum mencapai fase infeksi yang paling akut, masih terlalu awal untuk mengatakan kapan krisis ini berakhir,’’ kata Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte seperti dilansir CNBC.

Beberapa negara di Eropa akhirnya terpaksa menerapkan lockdown. Demikian juga Timur Tengah, Amerika Utara, dan Asia. Secara global, Covid-19 telah menjangkiti sekitar 390 ribu orang dan merenggut sekitar 17 ribu nyawa.

Maskapai dari berbagai negara ikut terpukul akibat lockdown yang terjadi di mana-mana. Mayoritas maskapai memangkas armadanya. Terutama untuk penerbangan internasional. Dua maskapai asal Australia, Qantas Airways dan Virgin Australia Airlines, melakukan hal serupa.

Qantas akan menghentikan semua penerbangan internasional mulai akhir Maret hingga akhir Mei nanti. Dua pertiga karyawannya diminta untuk cuti. Sebab, pemerintah Negeri Kanguru itu membuat kebijakan agar penduduknya tidak ke luar negeri lebih dulu.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sha/c7/ttg



Close Ads