JawaPos Radar

Komitmen Marsidah Menjaga Eksistensi Songket Melayu di Era Modern

25/02/2018, 10:30 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pengusaha Songket
Marsidah menunjukkan kain songket melayu hasil produksinya (Virda Alisya/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Komitmen Hj Marsidah untuk menjaga kelestarian budaya Melayu dengan menjaga eksistensi kain tenun songket di tengah perkembangan zaman, akhirnya membuahkan hasil.

Usaha tenun songket turun temurun yang telah dirintis oleh keluarganya sejak tahun 1969 silam atau hampir setengah abad lamanya ini, akhirnya berhasil meraih penghargaan tertinggi dari Presiden RI Joko Widodo yaitu penghargaan produktivitas Pramakarya yang diserahkan di Istana Negara pada tahun 2015 lalu.

Bahkan kain tenun buatannya, pernah digunakan sebagai bahan baju untuk dipakai oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ani Yudhoyono saat berkunjung ke Provinsi Riau beberapa tahun lalu.

Selain itu, ia juga telah meraih ‎berbagai penghargaan lainnya seperti piagam penghargaan Adikarya dari Gubernur Riau tahun 2005, penghargaan Wali Kota Pekanbaru sebagai pelestari songket Melayu Riau tahun 2007, Anugerah Budaya Wali Kota Pekanbaru, penghargaan kualitas dan produktivitas dalam penilaian kerja UMKM Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun 2007, dan masih banyak penghargaan lainnya.

Berbagai macam penghargaan tersebut, bukanlah diperoleh wanita berusia 57  tahun itu semudah membalikkan telapak tangan. Usaha tenun yang dinamainya dengan 'Tenun Wan Fitri' ini, tentunya pernah mengalami masa-masa sulit.

Diceritakan Marsidah, kemampuannya menenun songket diperolehnya dari sang ibu. Marsidah kecil, tinggal di sebuah desa kecil bernama Desa Bukit Batu Laut, sebuah desa yang lekat dengan lagu berjudul ''Laksamana Raja Dilaut'' di Kabupaten Bengkalis. 

Kemudian keluarganya yang memang memiliki usaha tenun songket yang dirintis sejak 1969 ini pindah ke Kota Pekanbaru. Marsidah remaja diharuskan untuk pandai dalam menenun, karena setiap anak gadis Melayu dulunya diwajibkan untuk pandai menenun. Setelah lihai, Marsidah pun ikut membantu perekonomian keluarga dan tergerak hati untuk melestarikan warisan budaya Melayu.

"‎Ilmu ini diberikan secara turun‎ temurun. Waktu dulu, anak gadis kan memang diharuskan untuk pandai menenun songket. Apalagi usaha keluarga memang dari dulu menenun songket," ungkapnya kepada JawaPos.com, Sabtu (24/2).

Di sebuah rumah sederhana yang letaknya dipinggir Sungai Siak, tepatnya di Jalan Perdagangan, Senapelan, inilah keluarga Marsidah mulai merintis usahanya dari awal. Ia memulai semuanya dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Kemudian, pada tahun 1978, Marsidah bersama keluarga pun pindah ke sebuah rumah yang terletak di Jalan Kayu Manis, nomor 44 Tampan, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru.

Dengan halaman yang cukup luas, berdirilah sebuah rumah dengan tiga lantai yang bangunannya tampak kental dengan budaya Melayu. Saat memasuki rumah tersebut, beberapa pohon yang usianya sudah cukup tua berdiri kokoh di depan halaman rumahnya.

Di lantai pertama, terdapat sekitar 30 ATBM yang digunakan oleh 25 orang penenun untuk merangkai setiap benang kain songket tersebut. Sementara lantai dua, digunakan sebagai galeri tempat dipamerkannya berbagai karya dari pekerja Tenun Wan Fitri. Sedangkan lantai tiga, dimanfaatkan sebagai tempat tinggal oleh keluarga Marsidah.

Meskipun dinilai telah sukses dalam bidangnya, Marsidah pun sempat mengalami berbagai kesulitan. Seperti kurangnya tenaga kerja yang minat untuk melakukan pekerjaan sebagai penenun. "Dulu kan kalau ada anak-anak gadis sini yang mau bekerja, diajarin caranya menenun. Tapi karena sud‎ah banyak yang menikah jadi minat mereka kurang," tuturnya.

Malahan, pekerja Tenun Wan Fitri mayoritas merupakan wanita perantauan yang berasal dari provinsi tetangga, Sumatera Utara. 

‎"Kesulitan kalau dari kita, sumber daya manusianya kan susah. Belum tentu orang sekitar sini juga mau menenun walaupun diajakin. Malahan yang mau itu orang dari jauh seperti Medan, orang melayu sendiri malah kurang," ucapnya. 

Untuk mengajari satu orang pekerja pemula, bisa memakan waktu selama satu bulan. Belum tentu setelah sebulan, para pekerja tersebut bisa bekerja secara produktif. 

"Biasanya satu orang pekerja bisa mengerjakan satu ‎lembar kain songket, paling cepat selama empat hari hingga paling lama pengerjaannya selama beberapa minggu. Tentunya itu tergantung dari motif yang dikerjakan," jelasnya.

Diakui Marsidah, ‎Tenun Wan Fitri pernah mengerjakan ratusan motif songket khas Melayu namun yang paling diincar oleh pembeli hanya tiga motif saja yaitu motif Pucuk Rebung, Siku Awan dan Siku Keluang. Harganya tentu bervariatif, mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 2,5 juta. Sementara bahan bakunya, didatangkan dari Kota Surabaya dan Jawa Timur.

‎Dalam sebulan, Tenun Wan Fitri bisa menghasilkan sekitar 150 lembar kain songket berbagai motif, dengan omset penjualan hingga Rp 100 juta. Tentunya itu termasuk angka yang cukup tinggi dengan penghasilan dari menjual produk khas Melayu seperti ini.

‎Sementara itu, Mulsalmah salah seorang pelanggan Tenun Wan Fitri mengaku, songket yang dihasilkan Wan Fitri memang berkualitas. 

"Saya sudah sering beli disini, harga di wan fitri terjangkau dan bersaing. Tentunya barangnya juga berkualitas dan tak kalah saing dengan yang lainnya," ucapnya.

Kain tenun songket merupakan salah satu jenis kain yang memiliki nuansa indah dan mewah. Selain membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuatnya, harganya pun tergolong mahal bagi beberapa kalangan masyarakat. Biasanya untuk warga Melayu, songket digunakan pada acara adat istiadat maupun pernikahan.

(ica/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up