Ahmad Kinkin Sempat Pasrah Anak, Istri, dan Semua Murid Meninggal

24 November 2022, 15:15:39 WIB

Kehilangan Empat Anak Didik saat Hendak Mengajar

Gempa mengguncang setengah jam sebelum Ustad Ahmad Kinkin Bulgini memulai sekolah diniah yang dihadiri 30 murid. Dia sempat merangkul anaknya yang keluar dari reruntuhan sebelum akhirnya pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

SUGIH MULYONO, Cianjur

BEGITU kerasnya guncangan itu, Ahmad Kinkin Bulgini sampai terlempar ke luar ruangan tempatnya mengajar. Semua terjadi begitu cepat. Hanya dalam hitungan detik.

Bangunan Pondok Pesantren Ibnu Izzudin Al Yassin di Kampung Cibeleng, Cianjur, yang dia pimpin ambruk. Dalam kondisi setengah sadar, pria yang akrab disapa Ustad Kinkin itu pun pasrah kehilangan istri, anak, dan para muridnya.

’’Tapi, tak lama kemudian, saya sempat melihat anak saya merangkak keluar dari kolong reruntuhan. Saya pun sekuat tenaga merangkul anak saya,’’ tutur pria 39 tahun itu tentang kejadian Senin (21/11) siang tersebut, ketika ditemui Jawa Pos kemarin (23/11).

Setelah itu, matanya terpejam tak sadarkan diri. ’’Kepala desa dan sebagian warga lalu membawa saya ke RSUD (Sayang Cianjur),’’ katanya saat ditemui di reruntuhan pesantren di Kecamatan Gekbrong itu.

Sang anak, Salfa Sana, 5, dan sang istri, Yuyun Fatimah, 36, akhirnya selamat meski sempat tertimbun reruntuhan. Namun, tidak dengan empat murid Ustad Kinkin. Yakni, Hafizah, 8; Muhammad Surya, 8; Zakia, 8; dan Kiandra, 5. Seorang murid lain ditemukan mengalami patah kaki dan kini dirawat di Sukabumi. ’’Dia anak adik saya,’’ ucapnya.

Selain itu, ada 25 murid yang mengalami luka ringan. Pada Senin lalu itu, total ada 30 murid yang bakal diajar Kinkin di sekolah diniah. Kalau semua masuk, jumlahnya bisa mencapai 40 orang.

Namun, kebetulan hari itu sebagian murid izin sakit setelah divaksin di sekolah masing-masing. Sekolah diniah itu salah satunya diisi dengan kegiatan membaca Alquran dan asmaulhusna hingga selesai.

Seperti biasa, kegiatan belajar baru akan dimulai pukul 13.30. Namun, guncangan kuat lebih dulu terjadi setengah jam sebelumnya. ’’Saat itu saya hendak menyuruh anak-anak keluar. Tapi, belum sempat keluar sudah runtuh. Jeda waktunya tidak sampai 5 detik,’’ ungkapnya.

Rupanya tidak banyak warga yang mengetahui bahwa Ustad Kinkin sudah dievakuasi. Karena itu, tak sedikit yang mencari dan menduga dirinya ikut tertimbun dalam reruntuhan pesantren sekaligus tempat tinggalnya tersebut.

Sebab, saat peristiwa tragis itu terjadi, dia memang berada di ruang tengah. Sementara itu, anak dan istrinya berada di ruang samping. ’’Saya di ruang tengah ngajar anak-anak kelas 3. Nah, di samping itu istri saya ngajar anak-anak kelas 1 dan 2,’’ terangnya.

Karena luka yang diderita tidak terlalu parah, dia akhirnya diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan. Namun, setiba di rumah, dia mendapat kabar bahwa empat muridnya menjadi korban dalam runtuhnya pesantren. ’’Yang kelas 2 ada tiga orang dan yang satu lagi masih TK,’’ ujarnya pelan.

Hafiza, salah seorang korban meninggal, baru di hari itu masuk kembali setelah beberapa hari sebelumnya izin tidak masuk sekolah karena sakit. Sementara itu, istri dan anak Ustad Kinkin mengalami luka ringan dan kini tinggal di tenda pengungsian bersama warga lain.

’’Istri saya selamat karena reruntuhan itu sempat tertahan oleh rak buku. Kalau anak saya, dia keluar sendiri dari kolong. Kan dinding yang runtuh itu memang tidak semuanya jatuh ke lantai. Ada yang terhalang sebagian oleh dinding rumah tetangga,’’ paparnya.

Ustad Kinkin mengaku masih trauma atas peristiwa yang merenggut nyama empat muridnya itu. Namun, di sisi lain, dia juga ikhlas. Terlebih, gempa bumi memang tidak bisa diprediksi. ’’Saat ini saya hanya berharap mohon bantuan dari semuanya, termasuk untuk pembangunan ulang semua. Karena ini memang tidak hanya pribadi saya, kampung sini juga terdampak,” katanya. (*/c18/ttg)

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads