alexametrics

Berdamai dengan Ciu, Berkoeksistensi dengan Kawanan Kera

Baginya Ciu Adalah Jamu Jelang Tidur Malam
24 November 2019, 18:04:18 WIB

Wlahar, Banyumas, memang kantong pembuat ciu yang kualitasnya diakui. Tapi, warga setempat memegang teguh prinsip dalam pengonsumsiannya.

BAYU PUTRA, Banyumas, Jawa Pos

SETELAH sepuluh hari, hasil fermentasi itu dipanaskan dalam sebuah panci besar. Yang tutupnya dimodifikasi sedemikian rupa. Di atasnya ada alat penyulingan yang dibuat dari bambu.

Uap dari perebusan itu mengalir lewat bambu, kemudian masuk ke pipa pendinginan yang dibuat dari tembaga.

Bagian tengah pipa melengkung itu terendam air yang diwadahi periuk dari tanah liat.

Di ujung pipa yang ada di rumah milik pasangan Kanah dan Midah, warga Desa Wlahar, Banyumas, Jawa Tengah, tersebut, uap dari rebusan fermentasi gula merah itu akan mengembun dan menjadi tetesan-tetesan air. Itulah ciu.

”Hampir tiap hari kami minum ciu sebagai jamu,” terang Abas Supriadi, kepala dusun Wlahar, Desa Wlahar.

Di Banyumas, Wlahar memang dikenal sebagai kantong penghasil ciu. Desa itu tak jauh dari Cikakak, desa yang juga punya ciri khas berupa koeksistensi damai antara manusia dan kawanan kera lewat ”perantaraan” sebuah masjid berusia berabad-abad yang juga bangunan cagar budaya.

Mengutip Wikipedia, ciu adalah sebutan bagi jenis minuman beralkohol yang dihasilkan lewat proses fermentasi. Di sejumlah prasasti dan naskah kuno Jawa, minuman berfermentasi dikenal sejak abad ke-8.

Ciu populer di berbagai kawasan Jawa. Antara lain di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan kota-kota sekitarnya.

Tapi, jangan lantas membayangkan Wlahar sebagai kantong pemabuk. Kata kuncinya, seperti disebut Abas, adalah ”jamu”.

Warga di Wlahar minum dengan dosis kecil. Paling banyak satu gelas seukuran gelas kopi, yang bila diukur 100–150 mililiter. Minumnya pun hanya di satu waktu: menjelang tidur malam.

Dengan aturan minum demikian, keesokan harinya mereka bisa bangun dalam kondisi bugar. Berbeda dengan para pemabuk yang overdosis, lalu saat terbangun sakit kepala hingga muntah-muntah.

”Warga di sini memegang prinsip, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik,” kata Abas yang dulu juga pembuat ciu.

Mayoritas warga Wlahar bermatapencaharian sebagai pembuat ciu. Hanya pemuka agama dan perangkat desa yang tidak.

Begitu memasuki desa tersebut, langsung tampak di bagian depan rumah-rumah penduduk tong-tong besar berbahan fiber. Juga terdapat tumpukan kayu bakar. Meski aroma ciu nyaris tidak tercium sama sekali.

Rabu pekan lalu (13/11), saat Jawa Pos ke sana, sebagian besar pembuat ciu di Wlahar sedang tidak berproduksi. Kecuali satu keluarga, pasangan Kanah dan Midah.

Keduanya sudah lebih dari 30 tahun memproduksi ciu secara tradisional. Di pawon yang terletak di bagian belakang rumahnya.

Di salah satu sudut, terdapat dua tong fiber yang berisi bahan ciu. Gula merah adalah bahan utama.

Gula merah itu difermentasi dengan menggunakan tape. ”Masa fermentasinya sepuluh hari. Tapi, tiap hari harus diaduk,” terang Kanah.

Umumnya, warga Wlahar membuat ciu dalam tiga level. Hari itu Kanah membuat produk yang berkualitas nomor satu. Meski tidak ada alat ukurnya, kadar alkohol ciu tersebut diperkirakan 50–60 persen.

Nyaris tidak beraroma. Aroma gula merah dan alkohol baru tercium bila hidung didekatkan ke bibir gelas yang dituangi ciu.

Karena prosesnya yang tradisional, ciu yang diproduksi di Wlahar pun tidak banyak. Butuh waktu lama untuk menghasilkannya. Dalam sehari, paling banyak satu rumah hanya bisa memproduksi 30–40 liter ciu.

Secara keseluruhan, produksi ciu di Desa Wlahar melibatkan kurang lebih 500 orang. Abas tidak menyebutkan berapa rumah yang membuatnya. Hanya, di satu rumah bisa terdapat beberapa orang yang terlibat produksi.

Ciu kali pertama diproduksi di Wlahar sekitar 1942. Produksi tersebut merupakan warisan Belanda. ”Waktu itu produksi pertama di Desa Cikakak,’’ tuturnya.

Saat ini produsen ciu di Cikakak juga masih ada. Namun, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Tidak sebanyak produsen di Wlahar. Selain di dua desa itu, ciu juga diproduksi di Desa Windunegara. Desa tersebut juga masih masuk wilayah Banyumas.

Abas berani mengklaim, di antara minuman tradisional sejenis dari daerah lain, produk ciu dari Wlahar adalah salah satu yang terbaik. Itu berdasar penilaian para juri di festival minuman tradisional yang diselenggarakan di Jakarta pada 2016.

Di antara para juri pencicip itu, tidak ada yang berasal dari Indonesia. Dan mereka, kata Abas, menyepakati ciu Banyumas sebagai minuman tradisional paling juara.

Kelemahan ciu Banyumas terdapat pada proses produksi yang masih tradisional. Juga pemasarannya. Selama ini, tutur Abas, pembeli ciu dari warganya rata-rata para middle man atau perantara. Merekalah yang membawa ciu Banyumas keluar hingga ke berbagai kota. Umumnya di Jawa Tengah, meski ada juga yang sampai ke Jakarta.

Beberapa waktu lalu Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Banyumas pernah menjajaki peluang warga memasok alkohol untuk kebutuhan rumah sakit. ”Sempat kami coba, tapi biaya produksinya tinggi,” tutur Kanah.

Produk mereka jelas akan kalah oleh alkohol bikinan pabrik. Selain dibuat secara modern, bahannya pun lebih murah, yakni tetes tebu.

Saat ini mendapatkan gula merah pun tidak semudah dulu. Sebab, kadang para penyadap nira mengambil jalan pintas. Langsung difermentasi menjadi tuak. Tidak dibuat menjadi gula merah.

Pada dasarnya, warga Wlahar sangat berharap minuman ciu naik kelas. Bisa sejajar dengan minuman beralkohol impor yang dijual terbatas hanya di tempat-tempat tertentu sesuai regulasi.

”Kami ingin legalnya seperti minuman-minuman itu,” tambah Abas.

Satu hal yang tidak akan mereka ubah adalah prinsip dalam mengonsumsi ciu. Tetap dalam jumlah yang sangat terkontrol. Hanya sebagai jamu.

Jadi, tidak akan ada cerita warga Wlahar nongkrong di gardu lalu minum-minum sampai mabuk. Kegiatan warga seperti pengajian maupun pembacaan Yasin-tahlil juga tetap berlangsung rutin.

Para orang tua juga melarang keras anak-anaknya minum ciu. Mereka baru boleh minum seperti orang tuanya bila sudah dianggap dewasa dan bisa bertanggung jawab atas diri sendiri.

”Tapi, ya namanya remaja, kadang mereka juga sembunyi-sembunyi,” kata Abas.

”Kearifan Lokalnya” Berupa Ban Bekas

DIBIARKAN BEBAS: Kawanan kera di halaman Masjid Cikakak, Banyumas.
(Bayu Putra/Jawa Pos)

PINTU masjid itu tertutup rapat. Begitu pula dengan rumah-rumah penduduk dan warung-warung di sekitarnya.

Puluhan kera yang berkeliaran di halaman masjid pada Selasa pagi lalu (12/11) itu jadi alasan. ”Kalau pintunya nggak ditutup rapat, mereka bisa membukanya,” ujar Erni, perempuan paro baya yang sehari-hari bertugas membersihkan masjid.

Tapi, buang jauh-jauh anggapan bahwa warga Desa Cikakak, Banyumas, Jawa Tengah, tempat masjid itu berada, membenci hewan primata tersebut. Sama sekali tidak.

Tak pernah mereka mengasari para kera itu. Mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan kawanan yang datang dari perbukitan yang mengelilingi Cikakak tersebut.

”Kami menutup pintu (masjid) hanya karena khawatir kera-kera itu masuk dan buang air di sana,” kata Erni.

Masjid itu punya jejak panjang meski tak ada catatan sejarah yang pasti. Diperkirakan berdiri pada awal Kesultanan Demak di sekitar abad ke-15. Atau ketika Majapahit, kerajaan besar yang sebelumnya menaungi Demak, masih eksis.

Pada 1976 masjid tersebut direnovasi dan diberi nama Baitussalam. Saat itu renovasi tampak tidak memperhatikan keaslian masjid. Beberapa ornamen hilang. Hanya, bekas-bekas fondasi tetap masih ada.

”Kemudian (dinamai, Red) Saka Tunggal sebagai situs cagar budaya pada 1989,” tutur Sulam, juru kunci masjid.

Kini masjid Cikakak itu jadi jujukan wisata religi. Terutama ramai dikunjungi pada akhir pekan. ”Biasanya para pengunjung datang berombongan,” kata Sulam.

Semua yang datang tentu saja harus siap berbagi tempat dengan kawanan kera. Para pengurus masjid sengaja membiarkan demikian untuk mempertahankan koeksistensi damai yang sudah terjalin puluhan hingga ratusan tahun.

”Lebih tepatnya menghargai mereka,” ujar Sulam.

Meski memang tak jarang mereka harus kerepotan. Apa pun makanan yang ada di rumah warga akan diambil. Itu pula alasan mengapa di kawasan sekitar masjid tidak terlihat pohon buah. Karena dapat dipastikan buahnya tidak akan bisa dipanen. Keduluan kera.

Erni yang menjaga warung sang kakak tak jauh dari masjid juga harus berjibaku untuk memastikan dagangan tak dicolong para munyuk. ”Itu pun kadang masih kecolongan. Mereka masuk lewat celah di langit-langit,” kata dia seraya menunjuk bagian atas warung.

Warga setempat yang umumnya petani juga mengalah dengan memilih bertani agak jauh dari desa. Agar tak sampai harus berkonfrontasi dengan para munyuk. Kalau masih diganggu, mereka kembali memilih memindahkan lahan lebih jauh lagi.

Kalaupun harus menghalau, warga setempat punya ”kearifan lokal” tanpa harus menyakiti: dengan ban bekas. ”Pada takut sama ban karena pernah ada yang ditabrak mobil,” lanjut Erni.

Erni biasa meletakkan ban bekas di atas motor pengunjung yang terparkir di halaman masjid. Agar para kera tidak mendekati kendaraan itu. Juga, melingkari pohon agar tidak dipanjat.

Toh, sejauh ini belum pernah terdengar ada yang batal atau malas datang ke situs cagar budaya itu karena adanya kera. Sejumlah wisatawan asing pun beberapa kali sempat singgah meski memang umumnya mereka ke sana karena ada urusan dengan warga setempat.

Dampak koeksistensi damai dengan para kera itu, warga pun berjualan kacang dan jagung kepada pengunjung masjid yang ingin memberi makan. Kebetulan, para kera Cikakak pada umumnya jinak.

Hewan-hewan primata itu datang dari kawasan perbukitan yang berada di sekeliling desa. Bila sedang tidak ada makanan di bukit, mereka turun ke kampung. Masjid Cikakak menjadi salah satu tempat bermain karena di sana tersedia air.

Pada Selasa pagi lalu itu beberapa kera tampak memanjat ke penampungan air wudu setinggi dada orang dewasa yang memang didesain terbuka. Kera-kera tersebut minum sepuasnya melepas dahaga. Di bawahnya ada tiga keran untuk berwudu para jamaah.

Masjid Cikakak berukuran 12 x 15 meter dan mampu menampung sekitar 200 jamaah. Pendirinya Mbah Toli. ”Secara darah, saya generasi ke-12,” tuturnya.

Dari cerita lisan warga setempat, Mbah Toli diperkirakan pernah datang ke Majapahit untuk mengikuti sebuah kompetisi. Sangat mungkin, itulah penyebab tiang utama masjid Cikakak bercorak Majapahit. Entah sengaja dibawa dari Majapahit atau Mbah Toli mempelajari lalu mengukirnya sendiri di Cikakak.

Ke depan Sulam berharap Pemkab Banyumas memiliki konsep yang lebih baik untuk menjadikan Masjid Saka Tunggal sebagai wisata cagar budaya religi.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg



Close Ads