alexametrics

Merasakan Jagat Star Wars di Disneyland California

Jadi Engineer Millennium Falcon
24 Agustus 2019, 12:05:31 WIB

Buat penggemar garis keras jagat Star Wars, hidup pasti belum lengkap sebelum menjejakkan kaki di theme park Star Wars: Galaxy’s Edge. Area yang dibuka mulai 31 Mei lalu itu menjanjikan pengunjung memiliki pengalaman tentang Star Wars-nya sendiri.

JANESTI PRIYANDINI, Anaheim, Jawa Pos

BRIGHT suns!” sapa Alice dan para staf yang menyambut kami saat hendak masuk ke Star Wars: Galaxy’s Edge Kamis pagi waktu setempat (22/8). Disneyland yang berada di Anaheim, California, tersebut bahkan belum buka pagi itu. Masih pukul 06.00.

Spesial memang, karena taman hiburan yang kali pertama dibuka pada 17 Juli 1955 tersebut kedatangan sekitar 200 wartawan dari seluruh dunia, termasuk Jawa Pos. Kami semua diajak untuk menjajal area baru yang dibangun mulai April 2016 tersebut.

Bright suns merupakan bahasa lokal Planet Batuu yang berarti halo atau selamat pagi. Kalau matahari mulai tenggelam, kalimat sapaannya beda lagi, rising moons. Latar belakang Galaxy’s Edge itu adalah di Planet Batuu. Planet Batuu kali pertama muncul di novel Star Wars, Thrawn: Alliances (2018) karangan Timothy Zahn.

Di planet itu ada desa yang juga merupakan permukiman terbesar di planet tersebut, bernama Black Spire Outpost. Imajinasi desa itulah yang diwujudkan dalam Galaxy’s Edge. Black Spire Outpost menjadi pemberhentian yang sangat kondang di antara para pedagang, petualang, dan penyelundup yang kerap bepergian ke Outer Rim dan Wild Space. Lingkungannya sangat unik karena banyak menara batu.

Setiap inci tempat itu dibuat dengan sangat detail seperti yang diimajinasikan. Ada ribuan seniman yang dilibatkan dalam pembangunan Galaxy’s Edge. “Supaya hasilnya bisa sangat detail. Supaya properti-properti yang diambil dari film, buku, komik, semuanya, bisa dihadirkan dalam kehidupan nyata. Termasuk creature-nya,” jelas Art Director Walt Disney Imagineering Kirstin Makela dalam pertemuan terpisah yang membahas proyek yang dibangun dengan dana USD 1 miliar (sekitar Rp 14,3 triliun) tersebut.

Area pertama yang kami masuki adalah kawasan marketplace-nya. Banyak outlet berjejer menjajakan merchandise Star Wars. Plus, kios-kios yang menjual makanan ala penduduk galaxy far, far away. Mulai menu sarapan sampai menu berat. Atau mau cobain blue milk alias bantha milk seperti yang diminum Luke Skywalker di film? Ada.

Kalau di filmnya susu berasal dari bantha betina, hewan yang mirip kerbau bertanduk, nah di Galaxy’s Edge dibuat dari susu nabati (rice milk). Seperti milkshake karena disajikan dingin. Rasanya manis. Lebih manis jika dibandingkan dengan varian lain, green milk yang dibuat dari campuran kelapa dan rice milk. Mencicipi keduanya, saya lebih suka blue milk. Rasa manisnya lembut, seperti ada aroma bubblegum. Kalau yang hijau, sedikit aneh di lidah. “Sebagian besar pengunjung juga lebih suka yang blue milk,” jelas Alice yang menjadi pendamping kami selama tur.

Alice kemudian mengajak kami menuju lokasi lain. Tiba-tiba dia dan stafnya berdiri di depan menara patung, lalu menjelaskan tradisi warga Desa Black Spire Outpost kalau bepergian. “Ini obelisk atau monumen di desa ini. Kalau mau pergi atau setelah pergi, kita harus memegang monumen ini dan berkata, ‘Til the spires.’ Semacam pamitan dan minta doa supaya dalam perjalanan dilindungi,” jelasnya. Jadilah kami beramai-ramai memegang monumen tersebut dan berucap, “Til the spires.”

Baru berjalan sebentar meninggalkan obelisk, kami melihat Chewbacca di tengah jalan sambil bersuara. Aduh, ini asli bikin gemes. Persis banget dengan di film. Tingginya kira-kira 2,2 meter. Suara raungannya itu dimaksudkan untuk menyapa kami semua. Dia melayani permintaan foto satu per satu. Meski cuma bersuara, dia memperlihatkan gerak tubuh untuk menunjukkan ekspresinya. Misalnya, ketika saya minta dipeluk sebelum foto bareng, Chewbacca merentangkan kedua tangan dan memeluk saya. Kepala saya diusap-usap dengan tangannya yang berbulu lebat itu.

Bertemu dengan Chewbacca menjadi salah satu di antara sekian banyak kegemesan di Galaxy’s Edge. Kalau itu belum bikin puas, masuki spot Droid Depot. Di sana kita bisa merakit robot droid kesayangan. Tinggal pilih, mau droid BB series atau R series. Warnanya bisa dipilih. Dengan biaya USD 99 (sekitar Rp 1,4 juta), pengunjung bisa membawa pulang droid pribadi. “Biasanya, kalau cepat, 10 menit bisa jadi,” kata David, staf Droid Depot. Dia lalu meggerakkan droid-droid di depannya dengan remote control. Si robot bergerak dan mengeluarkan suara seperti di film.

Kalau membuat droid belum bikin puasnya maksimal, pengunjung bisa datang ke Savi’s Workshop. Tempatnya para pengunjung bikin lightsaber sendiri. Semua peralatan dan spare part sudah disediakan. Tinggal memilih kekuatan yang ingin dimiliki. Itu yang bakal bikin warna kyber crystal-nya berbeda. Untuk merasakan pengalaman bikin lightsaber, pengunjung harus merogoh kantong lebih dalam. Sebab, biayanya USD 200 (Rp 2,8 juta).

Kalau saya, yang paling favorit adalah wahana Millennium Falcon: Smuggler Run. Permainan itu sangat-sangat seru. Replika pesawat yang dikemudikan Han Solo dan Chewbacca tersebut, menurut Art Director Walt Disney Imagineering Kirstin Makela, dibuat sama dengan set filmnya. Termasuk kokpitnya.

Wahana itu jadi incaran pengunjung. Untuk bisa menikmatinya, harus antre panjang. Sebelum masuk ke kokpit, pengunjung bakal mendapat credential card yang mengharuskan mereka memainkan peran. Jadi pilot, gunner, atau engineer. Pilot sudah pasti bertugas mengemudikan pesawat. Gunner akan bertugas menembakkan misil dan blaster untuk melindungi Falcon dari serangan musuh. Sementara itu, engineer bertugas memperbaiki kerusakan pesawat. Oh iya, komandan Millennium Falcon di Galaxy’s Edge bukan Han Solo, melainkan Hondo Ohnaka. Ohnaka adalah karakter yang muncul di serial animasi televisi Star Wars: The Clone Wars dan Star Wars Rebel.

Sebetulnya saya mau jadi pilot. Tapi justru ditugaskan sebagai engineer. Duduknya jadi paling belakang. Kalau pilot tak pintar mengemudikan, pesawat bisa oleng dan menabrak. Tugas saya adalah menarik tuas dan memencet tombol di samping kiri sesuai arahan Hondo. Cuma dalam waktu sekitar 10 menit, kami merasakan sensasi berkeliling galaksi, bertarung melawan musuh. View yang dihadirkan real. Begitu pesawat mulai terbang ke angkasa, pendaran cahayanya sama dengan yang ada di adegan film. Pendaran itu berhenti begitu pesawat sudah berada di outer space. Keren!

Tak semua yang dihadirkan dalam Galaxy’s Edge nyambung dengan film Star Wars. “Sebab, memang tujuannya bukan lagi soal filmnya. Tujuan kami dengan adanya wahana ini, live your own Star Wars story. Bersama keluarga dan teman, kalian bisa memiliki cerita Star Wars versi kalian,” ungkap Makela.

Area Galaxy’s Edge yang masuk World’s Greatest Places 2019 versi Time itu juga bakal dibuka di Disney’s Hollywood Studios, Florida, pekan depan. Melengkapi Galaxy’s Edge, ada satu wahana baru, Rise of the Resistance, yang akan dibuka Desember dan Januari mendatang.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c11/ayi



Close Ads