alexametrics

Usaha Warga Rungkut Lor Jaga Status Kampung Tak Jadi Zona Merah Lagi

24 Juni 2020, 06:06:22 WIB

Warga Rungkut Lor bergotong royong untuk berperang melawan Covid-19. Mereka sudah trauma dengan stempel zona merah persebaran virus korona jenis baru itu.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Surabaya

Entakan lagu Goyang Dumang mengiringi ibu-ibu dan bapak-bapak yang mengikuti senam pagi di Jalan Rungkut Lor Gang VII. Mereka menggerakkan tangan dan kaki. Memutar badan. Masker menutupi hidung dan mulut mereka. Jejak tawa mereka terlihat dari suara yang samar dan mata yang menyipit.

Seperti dalam penggalan liriknya, ayo goyang dumang biar hati senang, pikiran pun tenang, galau jadi hilang. Warga Rungkut Lor itu pun berharap Covid-19 hilang dari kampung mereka.

Warga menduga salah seorang warga mereka, ibu dua anak berusia 46 tahun, meninggal dunia karena Covid-19. Awalnya, mereka tidak mengira perempuan yang bekerja di pabrik rokok itu terpapar virus korona jenis baru tersebut. Tetapi setelah ditelusuri dari keterangan rumah sakit dan informasi dari tempat penguburan di Nganjuk, warga yakin ibu tersebut terkena Covid-19. Yang diketahui warga, ibu itu menyandang status pasien dalam pengawasan (PDP).

”Tentu ya jadi rasan-rasan warga. Kami pengurus kampung berupaya bagaimana caranya agar warga tidak panik. Tapi, tetap waspada,” ujar Fathor Rahman, ketua RT 01, RW 14, Kelurahan Kali Rungkut, Kecamatan Rungkut.

Saat ditemui Sabtu pagi (20/6), Fathor ikut menyaksikan warga yang sedang senam tersebut. Dia melanjutkan ceritanya. Setelah kejadian itu, semakin banyak warga yang batuk pilek, termasuk dia sendiri. Pengurus kampung mulai curiga adanya persebaran Covid-19 di kampung Rungkut Lor tersebut. Megengan atau kenduri sebelum Ramadan pun diminta di rumah masing-masing saja. Tapi, masih ada yang nekat melakukannya. ”Sepekan setelah megengan itu, ada dua orang yang meninggal dunia lagi. Mereka positif Covid-19,” kata dia. Dia sendiri tidak tahu pasti apakah ada hubungan langsung megengan itu dengan persebaran Covid-19.

Yang jelas, pada 9 Mei, dilakukan rapid test masal. Hasilnya, ada 49 orang yang reaktif. Sebanyak 42 orang mau dibawa untuk menjalani isolasi di hotel. Tujuh lainnya meminta tetap di rumah. Tiga hari berikutnya diadakan rapid test lagi. Ada 74 warga yang reaktif.

Nur Rosul, 50, salah seorang warga yang positif Covid-19 dari hasil rapid test pada 9 Mei itu, mengungkapkan betapa tidak enaknya menjadi pasien. Dia harus terbaring di Rumah Sakit Husada Utama. Rosul memiliki gejala sesak napas. ”Istri dan empat anak saya setelah dites negatif. Hanya saya yang positif,” kata Rosul yang ikut senam pagi goyang dumang.

Dia baru keluar rumah sakit pada 8 Juni lalu. Di antara warga kampungnya, Rosul paling lama dirawat di rumah sakit. Hampir tiga pekan. Setelah rapid test pada 9 Mei, dia dibawa ke sebuah hotel lebih dari 10 hari. ”Meskipun di hotel, ya enggak enak. Sumpek, galau,” kenang Rosul.

Pengalaman itu menjadi pembangkit warga agar selalu menjaga kesehatan. Saat ini, kampung Rungkut Lor yang semula zona merah sudah menjadi zona hijau. Kesembuhan tidak hanya karena dibantu pengobatan di rumah sakit. Tetapi, juga berkat gotong royong warga.

Fathor mengungkapkan, warga membuat rekening bersama untuk menampung sumbangan. Hasilnya, ada yang dibelikan vitamin dan ransum makanan untuk warga yang menjalani isolasi mandiri di rumah. Ada pula yang dikirim untuk warga yang isolasi di rumah sakit. Keluarga yang ditinggal isolasi juga turut diopeni. ”Pemberian vitamin sampai sekarang ini masih tetap jalan. Terutama untuk warga yang sebelumnya reaktif,” jelas dia.

Keberadaan Kampung Tangguh Semeru Wani Jogo Suroboyo juga menjadikan satgas di kampung tersebut lebih tertata. Ada Satgas Wani Jogo, Wani Ngandani, Wani Sehat, dan Wani Sejahtera.

Ada pendampingan dari Babinsa Kali Rungkut Sertu Buyung Prihadi Suryo dan Bhabinkamtibmas dari Polsek Rungkut Aiptu Tri Noviantoko. Sabtu pagi itu, mereka juga ikut memantau kegiatan warga. ”Tugas kami ini membantu. Kalau warga mengalami kesulitan, bisa lapor ke kami,” kata Aiptu Tri Noviantoko.

Joko Murijantono, wakil ketua RW 14 Kali Rungkut, mengungkapkan bahwa gotong royong warga sangat penting untuk menjaga kawasan tersebut tetap zona hijau. Pada masa new normal, warga berupaya tetap mematuhi protokol kesehatan. ”Warga di sini kompak. Karena mereka sudah tahu dengan mata kepala sendiri betapa susahnya kena Covid-19 itu,” ungkap Joko yang turut serta dalam pertemuan tersebut.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads