alexametrics

Belajar Mengenalkan Karya Cara Pelukis Muda Imelda Adams

Membuka Diri untuk Kolaborasi
24 Juni 2020, 14:59:46 WIB

Menjadi seniman di era digital seperti ini dirasa menguntungkan bagi Imelda Adams. Lukisannya tak hanya bisa dinikmati di pameran, tapi juga mengisi medium lainnya.

BAYU PUTRA, Cilegon, Jawa Pos

SEORANG gadis duduk menekuk lutut sambil menyangga kanvas dengan lengan dan lutut kiri. Tangan kanannya memainkan kuas, menyelesaikan lukisan bertema keluarga. Di sekitar kakinya sebuah buku terbuka di tengah. Ditindih neck ukulele. Pada bagian atas kanvas dalam lukisan itu terdapat kertas bertulisan FOR CHARITY.

Gadis yang sedang melukis tersebut adalah Imelda Adams, pelukis muda asal Cilegon, Banten. ”Nama asli saya Imelda Ameliasari,” ujarnya saat berbincang pada Senin (15/6) malam lalu. Ceritanya, Imelda sedang melukis dirinya yang sedang menggambar kehangatan keluarga pada Ramadan.

Oleh Instagram, lukisan menggunakan cat akrilik itu diposting di akun resmi mereka. Karyanya diunggah Instagram pada 23 Mei lalu atau sehari menjelang Idul Fitri. Hingga tadi malam, postingan tersebut mendapatkan 579 ribu lebih likes dan 9.646 komentar.

Tema lukisan itu memang permintaan khusus dari Instagram. Imelda diminta membuat lukisan merayakan Month of Good alias Bulan Kebaikan. Sebutan lain bagi bulan Ramadan. ”Sebetulnya itu juga gambaran diri saya saat pandemi ini yang jadi lebih banyak bertemu keluarga,” ungkapnya.

Imelda tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan karyanya. Instagram memberi waktu tiga pekan.

Namun, Imelda menyelesaikannya dalam waktu sekitar 12 jam yang dia bagi dalam dua hari.

Ada dua foto yang diunggah pihak Instagram. Salah satunya foto Imelda sedang berpose bertopang dagu yang disangga lukisannya. Satunya foto lukisan. Itu karena Instagram melihat di akun Imelda, postingan yang paling banyak diberi likes adalah yang menyertakan dia di dalamnya. Sehingga diputuskan, Imelda harus turut serta.

Unggahan tersebut langsung berdampak terhadap Imelda. Pengikutnya bertambah. Dari sekitar 5 ribu, kini sudah 34 ribu lebih. Tawaran kerja sama juga terus mengalir. ”Saya nggak nyangka bakal sebesar ini dampaknya,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Imelda sampai kewalahan mengatur tawaran yang datang bertubi-tubi. Termasuk dari sejumlah brand pakaian yang mengajak berkolaborasi. Tidak semuanya diiyakan. Dia harus mengatur waktu.

Salah satu project yang sedang digarap adalah kerja sama dengan aplikasi digital yang berbasis di Peru. Karya Imelda akan menempel di aplikasi itu. Dia menerima tawaran tersebut karena merasa visi dan misi mereka sesuai dengan visual yang dibuatnya. Seniman yang lahir pada 14 Juni 1997 itu juga sempat mendapatkan tawaran pameran di Inggris. Namun, dengan berbagai pertimbangan, dia menolak. ”Masih belum siap,” ujarnya.

Capaian Imelda saat ini tidak lepas dari kegemaran melukis sejak kecil. Saat SMP dia sempat belajar melukis dengan guru privat selama tujuh bulan, berlanjut latihan secara otodidak sampai SMA. Di situlah dia bergaul dengan komunitas Sanggar Embun yang berbasis di Kota Serang. Lewat mereka, Imelda merasakan menjadi peserta pameran untuk kali pertama di sanggar tersebut pada 2012.

Setelah itu Imelda makin aktif berpameran. Dua tahun belakangan, dia mengikuti beberapa pameran di Jakarta, Jogja, dan Bandung. ”Rencananya mungkin di tahun depan atau dua tahun kemudian saya akan pameran tunggal,” ucapnya.

Imelda tidak pernah menentukan berada di aliran mana. Karena pada dasarnya dia hanya melukis apa yang dia suka. ”Tapi, temen-temen sih menilai lukisan saya itu beraliran surealis dekoratif,” imbuh gadis yang mengaku banyak terinspirasi seniman-seniman Turki tersebut.

Imelda berkeinginan melanjutkan sekolah di Institut Seni Indonesia Jogjakarta. Namun, orang tuanya tidak mengizinkan karena terlalu jauh dari rumah. Akhirnya dia mengambil program studi ilmu komunikasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang, Banten, dengan peminatan spesifik marketing communication.

Dari kuliah itu, Imelda menyadari bahwa seorang seniman di era sekarang tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan. Bila ingin karyanya dikenal luas, seniman juga harus bisa memasarkan karyanya. ”Sempat merasa salah jurusan, ternyata justru membantu sekali,” katanya.

Dengan menggunakan pendalaman ilmu pemasaran, Imelda ingin menghapus stigma sebagian orang yang merasa seniman adalah orang yang tidak tahu tujuan hidupnya. Termasuk stigma lawas seniman identik dengan kemiskinan. ”Saya ingin membuktikan bahwa kehidupan seniman itu juga perlu di-manage,” tuturnya.

Saat ini seniman punya lebih banyak pilihan mengenalkan karya. Tidak lagi menjadikan kanvas sebagai satu-satunya media. Para pelukis kini bisa berkolaborasi dengan bermacam lini. Imelda pun demikian. Lukisannya digunakan untuk menghiasi papan luncur atau skateboard.

Bagi para pelukis muda, atau yang hendak terjun di dunia seni rupa, Imelda menyarankan agar mereka benar-benar menyiapkan mental. ”Harus percaya diri dengan karya, itu modal utama,” tuturnya.

Di awal karir Imelda sempat merasa lukisannya terlihat aneh di mata masyarakat awam. Namun, dia melawan pikiran negatif itu dan menikmati momen berkarya. Imelda menyarankan agar para pelukis muda memperbanyak portofolio. ”Itu adalah modal besar untuk memperkenalkan karya maupun kerja sama,” katanya.

Imelda rajin memasukkan datanya ke berbagai galeri dan kompetisi. Dengan begitu, ketika ada pameran atau kompetisi, dia mendapatkan pemberitahuan. ”Saya ingin bisa banyak berpameran, keliling dunia bahkan,” imbuhnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c9/ayi



Close Ads