alexametrics

Penggiat Gerakan ‘Jogja Ora Didol’ Dodok Putra Bangsa

Menjaga Kota Kelahiran dari Kekeringan
24 Juni 2019, 14:30:23 WIB

Di Jogjakarta ada orang-orang yang peduli terhadap hak warga untuk menikmati air sumur. Kekeringan yang sempat melanda ditengarai akibat pembangunan hotel yang begitu masif. Seniman teater sekaligus aktivis sosial Dodok Putra Bangsa menggemakan gerakan Jogja Ora Didol.

ILHAM WANCOKO, Jogjakarta

KAGET. Itulah yang Dodok rasakan ketika membaca berita pencabutan moratorium pembangunan hotel di Jogjakarta Januari lalu.

Ingatannya kembali ke kejadian 31 Juli 2014. Pagi itu Dodok merasa lidahnya asam. “Seumpamane onok kopi, enak iki,” ujarnya kepada istrinya, Indra Kurnia Ningsih, 35.

Kopi hangat itu hanya angan-angan. Bukan karena istrinya tak mau. Melainkan, tak ada air di rumah mereka. Sumur yang menjadi sumber air satu-satunya kering. “Bikin kopi pakai apa? Airnya tinggal seember, mau dipakai mandi. Buat kerja,” kata Dodok, menirukan ucapan Indra.

Dodok heran. Rumahnya yang berada di Miliran, Umbulharjo, Jogjakarta, tidak pernah merasakan kekeringan sejak dia lahir. “Kemarau juga tidak pernah membuat sumur kering,” tutur pria 42 tahun itu.

Dodok langsung menduga hotel di depan rumahnya menjadi penyebab. Hotel itu dia tengarai menyedot air tanah di wilayah tersebut sehingga warga tak kebagian. Dodok langsung mendatangi hotel di Jalan Kusumanegara itu. “Jarak rumah ke hotel cuma 30 meter, ya langsung saya protes,” jelas dia.

Namun, pihak manajemen hotel tidak berada di tempat kala itu. Dodok pulang tanpa bisa menjelaskan keinginannya. Beberapa hari kemudian, barulah dia bisa menyampaikan maksudnya. “Saya jelaskan, sumur warga kering pasti karena hotel,” tutur pria yang aktif mengkritisi situasi ruang publik di Jogjakarta tersebut.

Pihak manajemen hotel menampik tuduhan tersebut. Alasannya, hotel sudah beroperasi dua tahun, mengapa baru saat itu terjadi kekeringan. “Sebagai warga Jogja, saya paham kenapa bisa begitu. Umbulharjo itu mata airnya besar. Makanya, butuh dua tahun untuk habis,” tutur dia.

Dodok sadar bahwa solusi tidak akan turun dengan sendirinya. Dia mencari cara untuk bisa melakukan perubahan. Tak hanya agar bisa ngopi di rumah, tapi juga memberi jalan keluar untuk para tetangga yang sumurnya kering. “Saya akhirnya putuskan untuk melakukan aksi mandi tanah di depan hotel,” ujarnya.

Pada 6 Agustus 2014, Dodok melakukan aksi dengan mandi tanah. “Saya hanya kepikiran itu. Kalau tidak ada air, pakai apa lagi? Ya tanah,” tuturnya.

Banyak yang menyorot aksi Dodok. Saat itulah Dodok menggemakan gerakan Jogja Ora Didol. Dodok menuturkan, jargon tersebut sebenarnya sudah ada. Jauh sebelum dia menggunakannya. Namun, seperti botol belum ketemu tutupnya. “Baru ketemu isunya saat itu, masalah kekeringan akibat dampak pembangunan wisata,” jelasnya.

Dodok ingin menyampaikan pesan bahwa pembangunan yang tidak mengindahkan lingkungan akan merugikan banyak orang. “Jogja ora didol!!!” teriaknya.

Selepas aksi tunggal itu, tetangganya tergerak. Mereka mulai melakukan protes dengan peserta yang lebih banyak. Mereka juga kesal karena harus terus membeli air. Sumurnya kering. “Akhirnya, demo massa dimulai,” terang dia.

Demo hanya dilakukan Sabtu dan Minggu karena sebagian besar pendemo bekerja. Selain itu, Sabtu dan Minggu tamu hotel lebih banyak daripada hari lain. Dengan begitu, potensi mencuri perhatian publik akan semakin besar.

Pemkot Jogjakarta mulai terlibat. Akhirnya, pada 1 September 2014 izin hotel itu untuk mengambil air tanah dicabut. Warga kembali tenang. Delapan hari setelah pencabutan tersebut, air di sumur muncul. “Lha kok serba ndilalah. Waktu itu belun turun hujan, tapi air sudah ada lagi. Lha warga semua tambah yakin itu karena hotel,” tuturnya.

Peristiwa tersebut menginspirasi sebagian besar masyarakat Jogjakarta. Ternyata, banyak daerah lain yang mengalami kekeringan lokal. Diduga, penyebabnya adalah maraknya pembangunan hotel. “Sorotan terhadap perizinan hotel terus meningkat,” tutur dia. Puncaknya, Pemkot Jogjakarta melakukan moratorium perizinan hotel mulai 2014 hingga 2016.

Pada 2015, ada 1.097 hotel di Jogjakarta. Sebanyak 87 di antaranya hotel berbintang dan 1.010 hotel nonbintang. Sebagian besar berdiri di Kota Jogjakarta. “Banyak yang menyebutnya sudah oversupply. Terlalu banyak,” paparnya.

Lalu, moratorium diperpanjang lagi hingga 2018. “Nah, Januari 2019, mulai muncul langkah penghentian moratorium perizinan hotel. Wah, saya kaget, kok begini,” ujarnya.

Spontan, pada 9 Januari 2019 Dodok melakukan aksi tunggal Tolak Bala Bumi Yogyakarta di depan kantor Pemkot Jogjakarta. Dalam aksi itu, dia menempelkan tulisan “hotel” menyambung ke tulisan “walikota” di papan kantor wali kota. “Akhirnya, kebacanya kantor walihotel Yogyakarta,” urainya.

Setelah itu, dia melakukan tebar bunga. Dia tidak ingin Jogjakarta kembali mengalami kekeringan. Kalau kekeringan kembali terjadi, gerakan sosial Jogja Ora Didol dia pastikan kembali menguat.

Yang perlu disadari, sebenarnya Jogjakarta merupakan jujukan wisata sejak dahulu. Baik zaman keraton, penjajahan Belanda, maupun sekarang. “Dulu apa ya ada hotel? Enggak,” jelasnya.

Lalu, ke mana para wisatawan zaman dulu? Dia menduga, dahulu mereka tinggal di rumah warga. Karena itu, seharusnya hal semacam itu bisa dicontoh untuk memberdayakan masyarakat. “Gerakan ini punya solusi, hotel desa atau kampung lah,” ucap dia.

Konsepnya, satu desa bisa memiliki satu atau dua kamar kelas hotel. Tentu warga harus pula dibantu dengan kredit murah untuk pembangunan. “Wisatawan yang datang bisa menginap di hotel milik para warga itu,” paparnya.

Dengan konsep tersebut, secara ekonomi warga Jogjakarta terbantu. “Bukan seperti hotel sekarang ini, yang tidak berguna dan malah merugikan masyarakat sekitarnya,” tuturnya. (*/c11/ayi)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads