alexametrics

Lewat Beragam Peran, Mereka Turut Menjaga Jakarta

Saya Main Sulap agar Teman-Teman Tak Jenuh
24 Mei 2019, 14:28:12 WIB

Ada yang menenangkan demonstran, ada yang menghibur kawan-kawan yang kelelahan, ada pula yang membersihkan jalanan.

SUGIH M., ANDRI B.S., MASRIA P., FERLYNDA P., Jakarta

MALAM kian larut. Di tengah ketegangan di depan kantor Bawaslu, Jakarta, Kombespol Harry Kurniawan berdiri di atas mobil komando. Lewat pelantang suara di tangan, dia memohon kepada mereka yang ada di seberang.

“Pak Ustad, bantu kami. Kami bertahan, tolong para korlap bantu kami. Tolong jangan lakukan ini,” kata Kapolres Metro Jakarta Pusat itu.

Massa demonstran yang berada di seberang barikade pengamanan yang dilakukan polisi tampak mendengar seruan itu.

“Jangan lakukan itu teman, kami bertahan Pak Ustad, jangan disusupi orang-orang yang tak ingin aksi damai ini. Pak Ustad bantu kami, korlap bantu kami,” kata Harry lagi.

Seruan-seruan dari pria yang menjabat Kapolres Metro Jakarta Pusat sejak Februari lalu itu mendinginkan suasana. Massa menjadi lebih tenang. Ketegangan pun agak mereda.

Pasukan Anti Huru Hara (PHH) memberikan pengamanan terhadap Aksi damai di depan gedung Bawaslu pada 21 Mei 2019 lalu. (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)

Saat ribuan orang yang menolak hasil Pemilu Presiden 2019 turun ke jalanan Jakarta sejak Selasa malam (21/5), ada banyak sosok seperti Harry yang bertebaran di mana-mana. Mereka yang dengan peran masing-masing ikut menjaga ibu kota sehingga keadaan yang lebih buruk terhindarkan.

Para unsung heroes, sosok-sosok berjasa yang mungkin hanya beberapa yang tersorot kamera. Yang disebut di sini pun cuma sebagian di antara mereka.

Harry kebetulan memang dikenal dekat dengan kalangan ulama dan pesantren. Selama dua tahun bertugas sebagai Kapolres Metro Tangerang sebelum pindah ke Jakarta, dia menjalankan program bedah rumah marbot masjid dan program polsantren (polisi sambang pesantren). Melalui program bedah rumah, alumnus Akpol angkatan 1995 itu membedah dan memperbaiki rumah marbot-marbot masjid dan pemandi-pemandi jenazah di Tangerang. Sementara itu, program polsantren merupakan upaya silaturahmi antara jajaran kepolisian dan pesantren, pengajian, majelis taklim, dan masyarakat.

“Upaya ini merupakan wujud dari semboyan saya yang selalu ditanamkan pada anak buah agar menjadi polisi yang pandai ‘menembak’ hati rakyat.”

Pasukan Brimob dalam bertugas mengamankan gedung Bawaslu, Jakarta sejak Selasa (21/5).(MIFTAHULHAYAT/JAWA POS)

Selain Harry, di antara ribuan polisi yang bertugas, juga ada Ridho Vernando. Di tengah rasa lelahnya, Brimob berpangkat bharatu asal Padang, Sumatera Barat, itu masih menyempatkan diri menghibur para kolega dan awak media. Dengan cara bermain sulap.

Seperti pada Rabu malam lalu itu, situasi pun jadi cair ketika Ridho unjuk kebolehan. “Inisiatif saya untuk menghibur rekan-rekan yang kecapekan dan mencoba berinteraksi agar tidak terjadi kejenuhan di sela-sela tugas. Saya bahagia melihat semua terhibur,” ucap Ridho yang menekuni sulap sejak 2008 itu.

Demi turut menjaga Jakarta, dia harus meninggalkan keluarga di Padang sejak 17 Mei. Namun, dia mengaku bisa berangkat dengan tenang.

“Ada doa dari istri yang mengiringi agar saya mendapat perlindungan dan keselamatan saat bertugas menjaga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” ucapnya.

Yang juga tak kalah berkeringat menjaga keamanan wilayah adalah Lurah Kebon Kacang Aiman Abdul. Kebetulan kelurahan yang dia pimpin bertetangga dengan Kelurahan Gondangdia tempat kantor Bawaslu berada. Dan, di sekitar kantor Bawaslu itulah demonstran memusatkan kekuatan.

Sejak Senin malam, pria yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat, itu memilih menginap di kantor tempat bekerja. Agar bisa terus memantau kondisi wilayah. Pada saat kerusuhan meletus, banyak pendemo yang berhamburan ke kampung warga di wilayah yang dipimpin Aiman. “Untungnya, tidak ada warga saya yang menjadi korban dalam aksi tersebut.”

PPSU mulai membersihkan jalanan di sekitaran Gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (23/5). (Gunawan Wibisono/ JawaPos.com)

Seperti keluarga Aiman, istri dan anak-anak Syaiful Makmur Barus sejatinya juga berat melepas kepergian sang kepala keluarga. Yang harus bertugas membersihkan Jalan Jati Baru yang terdampak aksi kerusakan pada 22 Mei. “Istri khawatir karena dia menganggap kondisi belum sepenuhnya kondusif,” kata Syaiful, salah seorang petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU).

Namun, karena sudah panggilan tugas, bersama 62 petugas lain, dia turun membersihkan jalan. Walaupun kedua mata harus menahan perih dan sedikit sesak karena aroma gas air mata yang masih kental terasa. “Saat kerusuhan, kami sedikit menghindari, tapi tetap monitoring. Setelah kondusif, baru lakukan pembersihan dengan dikawal aparat keamanan,” katanya.

PPSU Kelurahan Kebon Sirih Bambang turut bertugas membersihkan kawasan Bawaslu. Karena pernah bertugas saat terjadi bom Sarinah beberapa tahun lalu, dia sudah siap mental. “Terpenting, kami tetap harus menjaga diri saat bertugas,” ucapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c10/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads