JawaPos Radar

Subuh Perdana Novel Baswedan Usai Kembali dari Negeri Singa

24/02/2018, 09:19 WIB | Editor: Kuswandi
Novel Baswedan
Novel Baswedan saat keluar dari kediamannya berjalan menuju Masjid Al-Ihsan dengan dikawal petugas KPK dan Anggota Kokam, Jumat (23/2) (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bukan Novel Baswedan namanya jika takut melawan teror. Meskipun kini hanya bisa melihat dengan sebelah mata, namun penyidik senior KPK tersebut tak ciut nyali. Novel bahkan menegaskan jika hal tengah dialaminya bukanlah sebuah kelemahan. Namun, hal itu dia jadikan sebagai penyemangat dalam hidupnya. Kini Novel bisa kembali beraktivitas seperti semula, meskipun harus berjibaku menanggung perihnya sakit mata yang dialaminya.

Setelah lebih dari sepuluh bulan, Novel Baswedan kembali berjalan kaki melewati jalan tempat dia disiram air keras untuk berjamaah Subuh. Jamaah dan tetangga mengharapkan dia bisa kembali rutin ikut pengajian.

Novel Baswedan
Novel Baswedan (ketiga dari kiri) saat hendak menunaikan salat Subuh berjamaah di Masjid Al-Ihsan Jakarta, Jumat (23/2) (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

AGUS DWI PRASETYO, Jakarta

Waktu menunjukkan sekitar pukul 04.46 WIB. Namun, kendati udara Jumat (23/2) pagi itu masih menusuk tulang sumsum, Novel Baswedan tampak semangat melangkah menuju Masjid Al Ihsan. Mengenakan celana hitam, baju koko cokelat, dan peci putih, Novel Baswedan melangkah menuju masjid yang jaraknya sekitar 70 meter dari kediaman kepala satuan tugas penyidikan KPK itu.

Novel keluar dari kediamannya, tak berapa lama dari Azan Subuh yang berkumandang beberapa menit sebelumnya.

Jalan Deposito di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada pagi buta kemarin itu (23/2) tampak terang. Sebab, di sisi timur, dekat Masjid Al Ihsan, ada lampu sorot radius 100 meter yang terpasang. Lampu serupa juga dipasang warga setempat di sisi barat rumah Novel.

Penerangan itulah yang tak ada pada ‘pagi jahanam’ 11 April tahun lalu. Saat Novel disiram air keras oleh pelaku yang sampai kini belum juga tertangkap.

Serangan yang mengakibatkan penyidik andalan KPK itu harus dirawat di Singapura selama lebih dari sepuluh bulan dan mengakibatkan mata kirinya belum sepenuhnya pulih. Sampai kini.

Kemarin, untuk kali pertama dalam 10 bulan 11 hari sejak diserang, Novel meniti kembali jalan tersebut. Ayah lima anak itu melangkah mantap. Tak terlihat trauma di wajahnya.

Hanya agak mengeluhkan pandangan matanya. ”Mata saya kabur sekali,” tuturnya kepada Jawa Pos yang turut mendampinginya menuju masjid untuk menunaikan salat Subuh.

Sekitar tiga jam sebelumnya...

Cangkir kopi di bawah kursi plastik itu tinggal ampasnya. Tak jauh dari situ, ada bungkus lemper dari daun pisang. Isinya sudah lenyap.

Di sampingnya beberapa gelas plastik air mineral berserakan. Sudah tidak ada air lagi di dalamnya. Di atas meja dekat kursi beberapa potong martabak dalam dus kecil masih tersisa. Hanya, bentuknya sudah lepek.

Tapi, Maryoto tetap bersemangat bicara ngalor-ngidul. Matanya masih terang. Padahal, angka penunjuk waktu di layar ponsel anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) DKI Jakarta tersebut sudah menunjukkan pukul 01.34 WIB.

Sudah sejak Kamis sore (22/2) Maryoto berjaga di depan rumah Novel. M Yahya, 23, anggota Kokam DKI Jakarta lain ikut menemani.

Selain mereka, ada empat pegawai KPK yang berjaga. ”Yang lain sudah tidur,” ujar salah seorang petugas KPK yang masih melek dini hari tersebut.

Novel tiba kembali di Jakarta dari Singapura pada Kamis siang lalu. Dari bandara, mantan Kasatreskrim Polres Bengkulu itu langsung menuju Kantor KPK.

Di sana dia disambut rekan-rekannya sesama pegawai KPK dengan semringah. Termasuk mantan Ketua KPK Abraham Samad. Para aktivis antikorupsi juga tidak ketinggalan memberikan ucapan yang sama lewat teriakan dan yel-yel.

Setelah menyapa rekan-rekannya, Novel lantas berbicara di ambang pintu lobi gedung. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan perhatian dan dukungan pascateror penyiraman air keras pada 11 April tahun lalu. Dia pun tidak ingin penyerangan yang hingga kini belum terungkap pelakunya itu melemahkan semangat pemberantasan korupsi.

”Saya ingin bisa menularkan semangat hal yang sama,” ujar suami Rina Emilda tersebut ketika itu.  

Dari Kantor KPK, baru kemudian Novel pulang ke rumah. Di sana KPK telah menyediakan ”fasilitas” untuk berjaga.

Misalnya, tenda kecil berukuran 2 x 2 meter yang di dalamnya berisi satu tempat tidur dan sebuah meja. Di atas meja ada dispenser air panas dan dingin untuk membuat kopi atau teh. Ada pula terminal listrik untuk memudahkan mengisi ulang daya baterai gadget.

Selain lampu yang menerangi Jalan Deposito, di ujung barat dan timur jalan tempat rumah Novel berada juga dipasang portal kayu. Tingginya 1,5 meter. Portal di tengah jalan itu lumayan menghambat laju kendaraan, khususnya mobil, yang akan lewat di depan rumah Novel, sehingga setidaknya bisa meminimalkan ancaman serangan.

Pukul 04.52

Dengan dikawal Maryoto, Yahya, dan beberapa petugas KPK, Novel akhirnya sampai ke masjid. Novel lantas melaksanakan salat sunah Tahiyat Masjid atau qabliyah. Seperti kebiasaannya, dia memilih saf paling depan.

Tak berselang lama, suara iqamah terdengar. Semua jamaah berdiri dan beringsut merapatkan saf. Salat Subuh berjamaah pertama Novel di Masjid Al Ihsan sejak 11 April tahun lalu itu diimami H Abdul Rokhim Hasan.

Salat usai, Novel dan para jamaah saling bersalaman sembari bersalawat. Beberapa jamaah sempat memeluk dan saling tempel kening dengan Novel.

”Kami menyambut dengan kegembiraan,” kata Hasan.

Sama dengan para pegawai KPK, mayoritas jamaah masjid tersebut, kata Hasan, juga selalu mendukung dan memberikan perhatian lebih kepada Novel selama lebih dari sepuluh bulan.

Hasan mengatakan, awalnya warga setempat berharap pengobatan mata Novel di Singapura bisa lebih cepat. Namun, harapan itu harus tertunda dan baru terwujud kemarin.

”Jadi, dulu setelah dibawa ke Singapura, kami menyangka bulan Ramadan (2017) akan bareng sama dia (Novel, Red). Biasanya, bulan Ramadan di sepuluh malam terakhir itu full di masjid,” ujar pria yang menekuni usaha dagang tersebut.

Selama Novel di Singapura, setiap kali ada warga yang membesuk Novel di Singapura, begitu pulang pasti langsung diserbu untuk ditanya soal kondisi terkini penyidik KPK yang banyak menangani kasus-kasus besar itu.

”Memang dia (Novel) dicintai warga,” ungkap Hasan.

Selain gembira, Hasan merasa ada kemajuan rohani yang luar biasa terhadap diri Novel. Perbedaan tersebut dia rasakan lantaran Novel tidak hanya terlihat tegar menghadapi ujian penyerangan air keras. Tapi juga bersyukur.

”Itu kan sulit sekali,” terangnya.

Yono, tetangga yang lain, mengaku turut berbahagia dengan kepulangan Novel. ”Kami sebagai tetangga mendoakan mudah-mudahan cepat sembuh matanya,” ujar kakek 70 tahun itu.

Selain itu, Novel diharapkan kembali rutin ikut pengajian setiap Sabtu seusai salat Subuh. ”Seperti dulu lagi,” katanya.

Novel tentu saja juga sangat bergembira bisa berjamaah Subuh dan bertemu dengan tetangga-tetangganya lagi. ”Alhamdulillah,” katanya dalam perjalanan dari masjid.

Pukul 5.15, matahari telah samar-samar muncul saat Novel sampai di rumah. Setelah mengucapkan terima kasih kepada Maryoto, Yono, para petugas KPK, dan Jawa Pos yang turut mendampingi, Novel masuk ke rumah.

Pintu ditutup. Simbol keteguhan KPK dalam memberantas korupsi tersebut telah benar-benar pulang.

(wnd/tyo/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up