Adaptasi dan Riset Ulang Lagi Tiap Kali Tentukan Lokasi Manggung

24 Januari 2023, 14:52:01 WIB

Adnan Guntur-Marsela Eka Putri, Berproses dan Bersenang-senang lewat Teater

Memainkan lakon karyanya, Adnan Guntur membawa Teater Gapus tur keliling yang di beberapa kota di antaranya tiketnya terjual habis. C4, pentas yang dimainkan teater dari Unair itu, juga membawa Marsela Eka Putri dari belakang layar ke atas panggung.

LAILATUL FITRIANI, Surabaya

AWALNYA pantomim yang mencuri perhatiannya. Dari sana minat Adnan Guntur pada kesenian meluas. Mulai karawitan, pantomim, teater, hingga puisi dia jajal semua.

’’Puncaknya saat SMA (2 Pandeglang, Banten) ada ekstrakurikuler teater. Teater Agata membukakan pintu untuk saya mengembangkan minat di dunia seni pertunjukan hingga sekarang,” tutur pemuda 23 tahun itu kepada Jawa Pos Senin (9/1) dua pekan lalu.

Begitu masuk jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga (Unair), kepiawaiannya mencipta dan membaca puisi semakin matang. Berbagai kompetisi skala regional hingga internasional dia sikat. Di bidang seni peran, Adnan menceburkan dirinya ke dua teater sekaligus: Teater Gapus Fakultas Ilmu Budaya Unair dan Teater Mata Angin Unair.

’’Ortu (orang tua) sempat tidak senang. Bukan karena kegiatannya, tapi waktunya yang sampai pulang larut,” beber pendiri Saung Teater itu.

Dedikasinya pada sastra dan seni perlahan menunjukkan hasil. Dari membaca karya orang lain hingga menerbitkan buku sendiri. Dari seorang aktor hingga menjadi sutradara. Adnan juga membawa Teater Gapus yang telah membesarkannya keliling Jawa Timur. Alumnus Unair itu mengajak serta 13 mahasiswa dalam pementasan lakon C4.

’’Teater Gapus sudah sangat sering pentas di luar rumahnya, Surabaya. Saya coba hidupkan kembali bersama kawan-kawan lewat pentas keliling Jawa Timur,” ujar penulis antologi puisi Tubuh Mati Menyantap Dirinya Sendiri itu.

Pentas keliling, lanjutnya, adalah upaya dia dan teman-teman untuk berproses lebih luas. Sebab, inti kegiatan tersebut untuk melatih kemapanan dan manajerial pementasan anggota Teater Gapus.

’’Sudah lima kali pentas, di Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, Surabaya dua kali, dan Maret nanti akan pentas di Malang. Lakon yang sama, namun bentuk pertunjukan yang berbeda,” imbuhnya.

PENGALAMAN BERHARGA: Adnan Guntur mengarahkan aktor dalam sebuah latihan di Surabaya. (Adnan Guntur untuk Jawa Pos)

Adnan dan tim memulai segala persiapan sejak September, sebulan sebelum pentas perdana di bulan November. Sejak itu, mereka rutin latihan secara intens. Mulai dasar keaktoran, olah tubuh, olah vokal, hingga olah sukma.

Tentang lakonnya, C4, menurut Adnan tentang pengembalian kekuasaan dalam kebijaksanaan sebagai makhluk yang datang dari suatu yang tak berbentuk hingga ke berbentuk. Tentang pencarian, ledakan, keilahian, dan pembentukan.

Dari pementasan yang sudah berlangsung, kendala tentu ada. Menurut Adnan, justru itu yang dicari. Setiap daerah memiliki medan dan kondisi yang berbeda. Mau tidak mau, mereka harus pintar membaca suasana dan terus mengubah konsep berdasar evaluasi yang dilakukan.

’’Kami harus adaptasi ulang dan riset lagi sebelum memutuskan lokasi. Itu berpengaruh ke bentuk pementasannya. Dan karena semuanya mandiri, jadi banyak serunya daripada masalahnya,” ungkapnya.

Semua itu terbayar dengan apresiasi yang didapat. Adnan tidak menduga, di beberapa tempat, tiket VIP ludes terjual dalam waktu 16 menit setelah poster tersebar. ’’Penonton yang dikira cuma 150-an, ternyata sampai 300, dan full ruangan,” lanjut pemuda yang aktif berkegiatan di Bengkel Muda Surabaya itu.

Ini memang bukan kali pertama Adnan menyutradarai sebuah pementasan. Namun, ini menjadi momen perdananya keliling Jawa Timur membawakan lakon karyanya sendiri.

Bagi Marsela Eka Putri, C4 juga pengalaman pertamanya sebagai aktor. Selama ini mahasiswi yang akrab disapa Sela itu bekerja di belakang layar sebagai tim tata panggung.

Tentu, bukan perkara mudah. Terlebih lakon C4 bergaya surealis yang lebih banyak menonjolkan olah tubuh daripada dialog.

’’Karena ini naskah surealis yang nggak bisa kita bayangkan, jadi aku nggak bisa cari referensi bagaimana memerankannya,” ungkapnya.

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia Unair itu harus memerankan sosok yang skeptis. Di setiap sesi latihan, dia dan Regina Jawa, rekan sesama aktor lainnya, banyak mempelajari variasi gerakan. Termasuk latihan olah tubuh untuk melatih pernapasan dan ketahanan fisik.

’’Emosi yang aku bawakan itu lebih ke mempertanyakan kesadaran dan eksistensiku sebagai manusia serta menentang segala keilahian,” imbuh Sela.

Vokal menjadi persoalan lain. Warna suaranya sempat mendapat komentar lantaran masih persis aslinya. Padahal, dia harus bersuara cempreng, tapi dalam. Sela mengaku cukup kesusahan meskipun telah beberapa kali latihan olah suara.

’’Aku biasanya mengingat dalam hati dialog yang dicontohkan sutradara, baru aku keluarkan. Yang pasti aku mau gali lebih dalam lagi karena aku merasa sangat kurang di situ,” tutur perempuan 20 tahun itu.

Sela sendiri sebenarnya sudah mengenal teater sejak duduk di bangku SMA. Saat itu dirinya belum begitu melirik bidang seni peran tersebut. Hingga salah satu mata pelajaran menugaskan untuk membuat sebuah pementasan.

Ketika itu Sela kedapatan bagian menulis naskah. ’’Kok kelihatannya seru bisa memerankan peran yang lain dari diri kita. Akhirnya pengin belajar jadi aktor dan penulisan naskah yang baik,” ungkap anggota Teater Gapus Surabaya tersebut.

Karena itu, Sela sangat antusias dengan peran pertamanya. Beruntung, dia mendapat tim yang solid dan sutradara yang suportif. Setiap akan naik panggung, Adnan akan mengajak Sela dan yang lain berkumpul dan sejenak melakukan meditasi.

’’Kita diminta memejamkan mata untuk mengembalikan fokus kita dan mengumpulkan apa yang sudah kita latih selama ini,” kata mahasiswi asal Lumajang, Jawa Timur, itu.

Adnan memang ingin mengaplikasikan motonya kepada tim dalam pementasan itu. Yakni, mari bersenang-senang! Artinya, tidak hanya senang bahagia, tetapi berproses secara penuh dan penyerahan diri secara utuh. Dengan begitu, tidak akan ada kekurangan dalam gerak selama kurang lebih 50–60 menit pementasan.

’’Di tengah kesibukan bekerja, saya akan terus menjalani hal yang saya senangi ini,” kata Adnan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c17/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads