Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Desember 2023 | 17.46 WIB

Jelajah Khazanah Pasar-Pasar Tradisional Jakarta (1): Darto Caswan 38 Tahun Berbisnis Batu Akik di Pasar Rawa Bening

PALING LAMA: Darto Caswan berada di kiosnya di Pasar Rawa Bening, Sabtu (25/11). Dia menjadi pedagang batu akik di Pasar Rawa Bening sejak 1985.

Darto Caswan berbisnis batu akik di Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur, sejak 1985. Selain jatuh bangun bisnis batu akik, dia menjadi saksi perkembangan Pasar Rawa Bening 38 tahun belakangan.

YOGI WAHYU PRIYONO, Jakarta

KILAU batu mulia menyambut setiap pengunjung Pasar Rawa Bening yang masuk ke area lantai dasar dan lantai 2. Geliatnya nyaris tak pernah hilang. Hampir setiap kolektor batu mulia di Jakarta mengetahui Pasar Rawa Bening yang juga disebut dengan Jakarta Gems Center.

Penjualan batu akik di Pasar Rawa Bening saat ini jauh berbeda dengan 38 tahun silam. Saat Darto mulai berdagang bersama sang istri. Kala itu, pedagang batu akik belum mendapat tempat di dalam pasar.

’’Tahun ’85 itu masih pasar tradisional, campur. Di atas ada Ramayana, Matahari, di bawah ini kiosnya tradisional. Jadi, batu akik masih di luar, pake bedeng,’’ kenangnya saat ditemui Jumat (24/11) lalu. Pedagang batu akik menempati area yang sekarang menjadi area parkir motor sisi timur.

Seiring berjalannya waktu, pasar tradisional mulai sepi pengunjung. Mereka kalah saing dengan toko modern di lantai 2. Banyak kios yang tutup. Kemudian, para pedagang baju mulai masuk, tetapi juga tak bertahan lama.

Akhirnya, kepala pasar saat itu memutuskan untuk merenovasi Pasar Rawa Bening. ’’Tahun 1987 pasar sudah direnovasi. Kepala pasar memasukkan pedagang batu akik ke dalam pasar. Termasuk saya dan istri,’’ lanjut pria kelahiran 1962 itu.

Pria asal Indramayu tersebut awalnya berdagang batu akik karena tidak punya banyak pilihan. ’’Basic saya kan sebenarnya teknik sipil. Saat itu saya masih kontraktor, tapi pada saat itu lagi krisis,’’ tuturnya.

Dia belajar dari mertuanya yang berdagang batu akik keliling. ’’Saat itu dibukain kios sama bos mertua yang merupakan orang India. Tapi, kiosnya masih ngontrak,’’ tutur pria yang saat ini menjabat ketua umum Koperasi Pasar Rawa Bening itu.

Kegigihan Darto membuat bosnya terkesan. Dia lalu ditawari untuk membeli kios berukuran 2 x 2 meter di Pasar Rawa Bening seharga Rp 5 juta. Karena tidak ada modal, dia menggunakan giro untuk membayarnya. ’’Nggak lama krisis, bank-bank pada tutup,’’ kenangnya.

Pada 1990-an, permintaan batu semakin tinggi. Banyak pedagang baru yang bermunculan. Bahkan, emperan pasar yang tadinya sudah steril kembali dipakai untuk lapak batu. Dua puluh tahun setelahnya, yakni 2010, PD (sekarang Perumda) Pasar Jaya kembali merenovasi pasar.

Hampir bersamaan, Pemprov DKI Jakarta berencana membangun gedung khusus pedagang batu akik. Para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Puspa Cakra lalu mengusulkan untuk menggunakan Pasar Rawa Bening.

Sejak saat itu, bisnis batu di Pasar Rawa Bening semakin berkembang. Pebisnis dari mancanegara seperti Tiongkok dan Taiwan mulai berdatangan. Menyusul pebisnis asal India dan Palestina yang eksis lebih dulu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore