Heppy Kurnia Putri, Sociopreneur yang Lestarikan Ludruk Anak

23 November 2022, 07:48:55 WIB

Membatik, bagi Heppy, bukan sekadar mendulang rezeki. Ada misi sosial untuk memberi anak-anak ruang kreativitas. Sebagian pendapatan yang dia peroleh disisihkan untuk mendukung kegiatan anak-anak berekspresi. Lewat ludruk.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

Tanah merah kaliondo

Tuku srikoyo dicampur bakwan

Jembatan Merah tinggalane Londo

Suroboyo dadi Kota Pahlawan

LENGKINGAN kidung yang dinyanyikan bocah kelas VI SD, Azizatus Jamalia, itu balapan dengan deru roda dan mesin kereta yang melintas. Siang itu, anak-anak di kawasan Gang Kapasari DKA sedang berlatih ludruk. Basecamp Ludruk Arek Kapasari (LAK) tersebut memang hanya berjarak 10 meter dari jalur besi kereta api.

Berdiri sejak 2020, hingga kini perkumpulan anak-anak yang tertarik seni peran, tari, dan suara itu terus eksis. Pentas awal mereka hanya di sebuah gang kecil.

Berawal di panggung berukuran lebar kurang dari 3 meter, kini pentas besar sudah jadi langganan mereka.

”Dulu saking kecilnya, panggung pentas itu hanya cukup empat orang. Sekarang anak-anak senang, tampilnya di panggung besar. Seperti Convention Hall sampai Balai Pemuda,’’ ujar perintis dan pelatih LAK Heppy Kurnia Putri.

Di balik kegiatan yang kini diikuti 20 anak-anak kampung Kapasari itu, ada sosok Heppy. Dialah yang mendampingi anak-anak hingga menjadi seperti sekarang. Dari sebuah niat untuk menyediakan tempat bagi anak-anak belajar bareng, kini berkembang menjadi wadah untuk kegiatan anak-anak mendapatkan pendidikan karakter.

”Di ludruk ini mereka bisa menari, kidungan, dan bermain seni peran. Jadi, lebih banyak cara untuk anak berekspresi. Ternyata, mereka sangat suka, bahkan untuk menghafal skrip sangat cepat,’’ ujar alumnus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) itu.

Bukan saja tenaga dan pikiran, Heppy pun turut menyisihkan pendapatannya dari membuat batik jumput untuk mendukung kegiatan anak-anak. Sepuluh persen dari pendapatan bulanan disisihkan untuk mereka, mulai membeli kostum hingga healing tipis-tipis untuk anak-anak.

”Sejak awal, saya sudah bilang ke Ibu bahwa usaha saya membatik ini bukan sekadar mencari uang. Tapi, saya ingin membangun social entrepreneur. Bagaimanapun, saya harus memberikan manfaat untuk kampung saya,’’ kata pendiri batik Galuh Surabayan tersebut.

Niat itu didukung penuh oleh keluarga. Apalagi latar belakang keluarga juga sudah akrab dengan berbagai kegiatan sosial. Bahkan, kedekatan anak-anak LAK layaknya keluarga besar bagi keluarga Heppy.

LAK pun kini bersinergi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya. Ada misi khusus yang ditugaskan ke LAK. Saat tampil, mereka membawa pesan edukasi soal stunting, pernikahan dini, hingga kenakalan remaja.

”Ada 15 tema, saya membuat semua skripnya dan dimainkan anak-anak. Saat itu, Pak Tomi (kepala DP3APPKB) melihat langsung penampilan anak-anak. Dan beliau mendukung kami sekaligus menyampaikan pesan kepada masyarakat umum lewat LAK,’’ ujarnya.

Setiap hari LAK memiliki jadwal latihan. Yakni, malam setelah anak-anak mengaji. Tetapi, Heppy memastikan anak-anak itu sudah menuntaskan tanggungan sekolah mereka. Tidak mengganggu kegiatan bermain atau sekolah mereka.

Meski kegiatan itu baik untuk mereka, Heppy ingin anak-anak tetap berprestasi. Buktinya, banyak yang menjadi juara kelas. Bahkan, Heppy memasang aturan ketat. Mereka tidak boleh ikut LAK jika prestasinya turun.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : gal/c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads