alexametrics

Di Balik Taman Mozaik yang Sudah Viral meski Baru Selesai 25 Persen

23 November 2019, 20:48:11 WIB

Belakangan, foto dengan latar belakang rumah bertembok kaca aneka warna kerap muncul di media sosial. Rumah yang terletak di taman kawasan Wiyung Praja itu Instagrammable banget. Padahal, pembangunannya belum selesai.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

MEJA berukuran 1,5 x 0,5 meter menjadi pusat diskusi tim dinas kebersihan dan ruang terbuka hijau (DKRTH) seksi ruang terbuka hijau (RTH) kemarin (22/11). Mereka membicarakan beberapa tanggungan pekerjaan yang masih harus dikebut. Salah satunya, desain tahap kedua pembangunan taman mozaik. Taman yang dibangun di wilayah Wiyung Praja, Kecamatan Wiyung, tersebut sudah terkenal di Surabaya meski pengerjaannya baru mencapai 25 persen Taman mozaik memang berbeda dengan taman sebelumnya. Titik utama taman tersebut adalah sebuah rumah yang memiliki dinding dan atap dari kaca akrilik aneka warna. Apalagi, saat siang, pantulan sinar matahari dari kaca memendarkan cahaya. ”Pantulan sinar matahari memunculkan mozaik warna yang keren,” ujar Kasi RTH Rochim Yuliadi.

Siapa sangka, taman yang menghabiskan anggaran Rp 1,2 miliar itu dibuat dadakan. Awalnya Ochim –sapaan akrab Rochim Yuliadi– mendapat tugas membuat taman di Wiyung sekitar Maret. Tantangan awal adalah menentukan lokasi. Sebab, belum ada rencana taman dibangun di sebelah mana.

Perintah wali kota saat itu, hanya membuat taman di daerah Wiyung. Maklum, di sana belum ada taman aktif berskala sama dengan yang ada di pusat. Untungnya, saat itu dengan anjuran dinas pengelolaan bangunan dan tanah (DPBT), Ochim menemukan satu lokasi yang dianggap cukup strategis. Meski, banyak orang yang belum mengetahui letak Wiyung Praja.

Proses pradesain dimulai Maret. Tahap itu dilakukan sembari menunggu lokasi fix. Karena taman harus segera dibangun, Ochim dan empat stafnya harus lembur. Biasanya desain dibuat dan didiskusikan selepas jam dinas. Sekitar pukul 16.00–21.00. Maklum, mereka benar-benar berniat taman tersebut dibikin berbeda dengan yang lain. ”Harus memiliki ciri khas sendiri,” kata Ochim.

Akhirnya, dari diskusi tersebut, mencuatlah ide membuat rumah kaca aneka warna. Taman itu awalnya disebut taman warna-warni. Tetapi, karena dianggap kurang kekinian dan kurang menarik pengunjung, Ochim mencetuskan nama mozaik. Namun, itu juga belum nama resmi. Itu hanya memudahkan penyebutan. ”Nama pastinya nanti masih menunggu wali kota. Bisa jadi, berganti nama,” sambungnya.

Proses pengerjaan pun tidak selalu lancar. Misalnya, pemesanan kaca. Pengerjaan rumah yang dimulai Juli tersebut terhambat karena tidak mudah mencari perajin kaca. ”Itulah yang paling memakan waktu,” ulasnya.

Alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu menuturkan, pengerjaan taman mozaik berhasil berkat sinergi antardinas. Salah satunya, dinas pekerjaan umum bina marga dan pematusan (DPUBMP). Sebab, sebelum pengerjaan fisik, lahan bekas Bulog yang masih rawa-rawa diuruk satgas DPUBMP. Proses itu juga tak mudah. Petugas sempat ditolak warga setempat. Setelah ada rembuk antara pemkot dan warga, pembangunan taman pun bisa dilaksanakan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/tia



Close Ads