alexametrics

Kartinian di Desa Kelahiran Kartini, di Tengah Impitan Pemilu

Kali Ini Tak Ada Yang Sampai Menginap di Salon
23 April 2019, 15:26:57 WIB

Kartinian bagi anak-anak di desa kelahiran Kartini adalah kesempatan naik kereta kelinci dan kegembiraan bermain bersama teman-teman sebaya. Mereka punya penafsiran masing-masing tentang siapa itu Kartini.

CHARINA MARIETASARI, Jepara

BOCAH lelaki itu seperti tak sabar melihat sang bunda yang tengah bersiap. Apalagi, jemputan sudah tiba. “Bu, ayo cepet lari ke kereta,” seru Arga, bocah tersebut, dengan wajah yang sudah tak tahan ingin segera berlari.

Matahari belum terlalu lama bangun dari peraduan. Tapi, Sabtu lalu itu (20/4) Desa Pelemkerep, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, memang bangun lebih awal.

Maklum, itu hari istimewa: pawai perayaan Hari Kartini. Kartini, pahlawan nasional, simbol kekuatan perempuan Indonesia, lahir di desa yang juga menjadi pusat Kecamaan Mayong tersebut pada 21 April 1879.

Di desa itu pula terletak Monumen Ari-Ari, tempat plasenta Kartini berada. Di monumen yang terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Mayong itu pula pawai kali ini dihelat.

Pawai itu pula yang membuat Arga begitu bersemangat pagi itu. Dia rela bangun pukul setengah enam pagi, lebih cepat daripada biasanya. Mandi, sarapan, lalu memakai baju polisi.

Semua selesai dalam satu jam. Padahal, instruksi berkumpul di sekolah baru pukul 8 pagi. Juga, TK Aisyiyah Bustanul Athfal, Mayong, tempatnya bersekolah, cuma 10 menit dari kediaman dia dan orang tuanya.

Namun, begitu melihat dua kereta penjemput telah datang, yang ada di benaknya hanya satu: harus segera naik. “Ayo, Bu, nanti ditinggal kereta,” teriak dia kepada sang bunda sekali lagi.

***

Pelaksanaan pemilu serentak pada 17 April lalu membuat agenda Kartinian di Mayong tahun ini agak berbeda dari biasanya. Gebyar Mayong, demikian peringatan itu dinamakan, tak lagi dihelat pada 19-21 April. Melainkan diundur pada 27-28 April mendatang. Lalu dilanjutkan dengan pawai budaya serentak pada 1 Mei sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional.

“Tanggal 21 sampai 25 April kami kan harus melakukan penghitungan suara secara manual hasil pemilu,” kata Sekretaris Kecamatan Mayong Arif Budiyanto kepada Jawa Pos.

Apalagi, pada 22-25 April ada pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer untuk SMP. Di kurun yang hampir sama pula, 22-24 April, anak-anak kelas VI SD harus mengikuti ujian sekolah berstandar nasional.

“Akhirnya, solusi yang pas adalah menggeser acara Kartini di akhir April agar semua bisa terlaksana dengan baik,” tutur pria kelahiran 1972 itu.

Namun, sejumlah sekolah mengambil inisiatif untuk melakukan “pemanasan” dengan mengadakan pawai sebelum Gebyar Mayong. Sebelum nantinya juga tetap berpartisipasi dalam acara tahunan yang biasanya diisi pentas seni dan berbagai lomba untuk anak PAUD hingga SMA tersebut.

Karnaval Sabtu lalu setidaknya diikuti TK Aisyiyah Bustanul Athfal, TK Pertiwi, dan TK Balaikambang. “Kami memilih pawainya hari Sabtu. Tapi, ada juga sekolah lain yang pawai sendiri hari Minggu atau Senin. Tahun ini tidak serentak,” ujar Kepala Sekolah TK Aisyiyah Bustanul Athfal Ulin Nuha.

Para murid, menurut Ulin, selalu bersemangat saat diajak pawai Kartinian. Berkeliling Mayong dengan naik kereta sebelum berkumpul di Monumen Ari-Ari.

Setiap anak dibebaskan untuk memakai baju apa saja. Boleh pakai batik, kebaya, atau baju yang sesuai dengan cita-cita mereka.

Talita, murid TK Aisyiyah Bustanul Athfal lainnya, memilih kebaya. Lengkap dengan kerudung. Semua berwarna ungu. Ada pulasan make-up tipis di wajah upik yang berusia 5 tahun itu.

“Dirias mama dari jam lima pagi tadi,” katanya sambil menoleh ke ibunya.

Itu berarti 3,5 jam sebelum ke-66 murid TK Aisyiyah berkumpul di depan sekolah. Dua kereta telah disiapkan sekolah untuk membawa mereka. Bukan kereta dalam arti sebenarnya, melainkan apa yang umum dikenal sebagai kereta kelinci.

Sekitar satu jam sebelum para murid TK Aisyiyah bergerak ke Monumen Ari-Ari, 6 kilometer dari sana, sebuah kol brondol -sebutan warga setempat untuk pikap bak terbuka- berjalan pelan. Di bak dan kursi depan, ada 23 murid dan guru TK Pertiwi.

Berangkat dari Kecamatan Nalumsari, Jepara, tujuan mereka sama: Monumen Ari-Ari. “Kami sebenarnya tak berencana pawai karena belum ada jadwal yang jelas dari kecamatan. Apalagi, jarak ke Mayong dari Nalumsari kan lumayan jauh,” kata Munjainah, guru TK Pertiwi.

Tapi, para murid yang meminta. Akhirnya, pihak sekolah mengiyakan. “Anak-anak bersemangat sekali. Momen ini kan juga kesempatan untuk memberikan pengetahuan tentang sejarah Kartini,” tuturnya.

***

Ada yang agak berbeda di Salon Menix dalam perayaan Hari Kartini di Mayong. Kali ini tak ada anak dan orang tua yang sampai menginap.

“Takut nggak nutut kalau subuh ke sini. Jadi, biasanya kalau mau nginap, mereka datang jam 9 malam,” jelas Menix, si pemilik salon di Mayong, kecamatan yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Jepara.

Di tahun-tahun sebelumnya, saat Gebyar Mayong rutin diadakan pada 19-21 April, semua salon di sana panen. Antrean anak-anak yang butuh dirias selalu panjang.

Nah, mereka yang rumahnya jauh dari pusat kecamatan biasanya memilih bermalam di salon tujuan. Juga, pemilik salon, di saat-saat Kartinian seperti itu, memang selalu menyediakan tempat menginap.

Tahun lalu, misalnya, Menix merias sampai 80 anak. Tapi, Sabtu lalu dia hanya menerima order make-up untuk 12 anak TK. Dia dibantu dua asistennya. Rata-rata per anak butuh 30 menit untuk dirias.

“Kalau tahun lalu, saya mulai merias jam 1 pagi karena ramai. Tapi, kalau cuma 12 anak, mulai meriasnya habis subuh,” tuturnya.

Pemilik Salon Kayla Afif Asari juga mengalami penurunan order. Tahun lalu dia mampu merias sekitar 35 anak TK sejak pukul 2 pagi. Tapi, Sabtu lalu (20/4) dia hanya menangani 10 anak dengan dibantu 4 rekan. Karena itu, tidak ada yang sampai menginap di salon. Bahkan, ada juga konsumennya yang baru datang pukul setengah tujuh pagi.

Gelaran pemilu membuat Menix bisa memaklumi penurunan order yang cukup drastis tersebut. Namun, dia tetap berharap, saat pentas seni minggu depan order salonnya bisa membeludak lagi seperti tahun lalu. “Dilihat saja nanti. Tapi, sampai sekarang belum ada permintaan rias untuk pentas Gebyar Mayong,” lanjut dia.

Afif juga menyatakan bahwa job riasnya April ini menurun sangat drastis. “Tidak semua sekolah melakukan pawai hari ini (Sabtu, 20/4). Jadi, ya salon-salon di Mayong ada yang dapat job, ada yang tidak,” tuturnya.

Untuk merias satu anak, Afif hanya butuh waktu sekitar 40 menit saja. Tarif rias dan sewa baju anak di Salon Kayla Rp 200 ribu.

***

Berbentuk teratai, monumen di dekat kantor Kecamatan Mayong itu berdiri di tanah seluas 100 meter persegi. Ada pohon mangga, rambutan, kelengkeng, dan bunga kantil yang mengelilingi.

Di sanalah dulu, konon, kata warga setempat, Kartini kecil biasanya bermain. Sebuah rumah yang dulu dipercaya sebagai kediaman keluarga inspirator jutaan perempuan Indonesia itu terletak tak jauh dari monumen.

Juga, di tempat plasentanya ditanam itulah, Sabtu lalu anak-anak dari Mayong berkumpul. Bermain riang dalam balutan baju polisi, tentara, dokter, perawat, sebagainya.

“Kata bu guru, Kartini itu pintar,” kata Fitri, upik berusia empat tahun yang ditemui Jawa Pos saat asyik bermain di monumen itu.

“Kartini itu wanita,” kata Jihan, upik lain yang berada di sana.

“Kartini itu cantik,” sebut Wulan yang masih duduk di TK A.

“Kartini itu bagus. Baik,” kata Arga yang bercita-cita menjadi polisi.

Putri yang ditemui Jawa Pos saat dirias di Salon Afif seperti mengonklusikan jawaban semua rekan sebayanya itu. “Kartini itu perempuan hebat,” katanya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c11/ttg)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads