JawaPos Radar

From Zero to Hero

Santoso, Pembudidaya Ikan Hias yang Sukses dari Nol

23/02/2018, 04:58 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pengusaha Ikan
Santoso, pembudidaya ikan hias dari Berbah, Sleman (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Masa kecil Santoso sangatlah memilukan. Bahkan ia kerap makan dari hasil mengais sisa-sisa nasi kotak di tempat sampah. Maklum saja, Santoso lahir dari keluarga sederhana.

Sadar tidak dilahirkan sebagai orang kaya, ia terus bekerja keras dan bertekad menjadi orang sukses di kemudian hari. Sejak kecil, Santoso sudah menempa dirinya dengan sejumlah aktivitas yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Bahkan meski masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Santoso kecil sudah bekerja sebagai Caddy Tenis pada 1970-an silam di dekat kompleks TNI AU, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Pengusaha Ikan
Salah satu kolam budidaya ikan hias milik Santoso (Ridho Hidayat/JawaPos.com)

Waktu itu, Santoso hanya diberi upah Rp 100. Upahnya yang tidak seberapa waktu itu dirasa cukup untuk membantu dan meringankan beban orang tua dalam menghidupi keluarga. Maklum saja, Santoso lahir dari keluarga besar, ia dilahirkan dengan 8 bersaudara.

Karena keterbatasan dana, tingkat pendidikannya hanya mentok di Sekolah Dasar (SD). Meski demikian, semangatnya terus membara dan bertekad keluar dari garis kemiskinan yang menjeratnya selama ini. Terlebih setelah memutuskan untuk meminang perempuan pujaannya.

Pada 1993, Santoso kemudian mengadu nasib ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ternyata Jakarta waktu itu, tidaklah cocok bagi Santoso. Ia hanya bertahan sekitar 3 tahun saja. Sebab sejumlah lamarannya di sejumlah perusahaan ditolak. "Salah satunya melamar sebagai pegawai swalayan tapi ditolak. Nolaknya katanya jatah saya bukan jadi pegawai," katanya.

Santoso pun memutuskan untuk kembali ke kampungnya, di daerah Dusun Gendangan, Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah. Tidak patah arang, ia pun mencoba menggeluti budidaya ikan dengan menyewa tanah kas desa seluas 300 meter dari uang pinjaman. "Kenapa ikan karena saya senang dengan ikan sejak kecil," tuturnya, membagikan kisahnya kepada JawaPos.com, Kamis (22/2).

Perjalanan budidaya ikannya pun dimulai. Dari hanya budidaya ikan, Santoso mulai mengembangkan cara pembibitan benih. Santoso kemudian pergi ke Balai Benih Ikan (BBI) yang letaknya tak jauh dari kediamannya.

Namun pegawai di sana menyuruhnya untuk pulang, karena menganggap Santoso tidak punya uang. Ia pun tak kapok, 3 sampai 4 kali didatanginya kembali sampai petugas di sana luluh.

Akhirnya Santoso diperbolehkan, namun dengan syarat harus membeli bibit yang ada di satu kolam penuh. Demi menjalankan bisnis yang diminatinya ini, ia pun harus kembali mencari pinjaman untuk menebus benih tersebut.

Melihat tekad Santoso yang besar, pegawai di Balai Benih Ikan itu pun kemudian menantangnya. Jika mampu membuat bibit-bibit ikan itu bisa bertambah bobot 3 ons selama 3 bulan, maka akan dibeli dengan harga yang lebih tinggi dari pasaran.

Tantangan itu bak pelecut baginya. Santoso akhirnya berhasil membuat gemuk ikan-ikannya itu dalam waktu yang sesuai permintaan. "Ngasih makannya sedikit-sedikit biar jadi daging," ucapnya.

Hasil penjualan ikan tersebut kemudian dipergunakan untuk membayar hutang- hutangnya. Pada 1998, ia lalu melebarkan sayap dengan budidaya ikan hias jenis Koi. Sedikit demi sedikit, dirinya mulai merasakan hasilnya.

Pada 2007, usahanya terus berkembang dan mencoba peruntukan mengembangkan jenis ikan hias lain berupa Arwana. Ternyata pasar menyambutnya dengan baik. Tak hanya di dalam negeri saja, namun hingga sampai menembus ke Tiongkok, Singapura, hingga Jepang.

Ia yang kini juga sebagai Pengawas di Asosiasi Pecinta Koi Indonesia itu mengelola kolam seluas 1,4 hektare. Diisi dengan ikan-ikan hias seperti Koi, Arwana, maupun jenis lainnya.

Pendapatannya pun kini sudah mencapai ratusan juta. Dari hasil penjualan ikan hias yang nilainya bisa jutaan untuk seekor saja, dengan mempertimbangkan ukuran dan kualitasnya. Santoso selain bisa menghidupi keluarganya juga merekrut 11 tetangganya untuk menjadi karyawannya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up