JawaPos Radar

Ketika Para Diaspora Diminta Membantu Pengembangan Pendidikan Tinggi di Kampung Halaman (2-Habis)

22/12/2016, 16:20 WIB | Editor: admin
Ketika Para Diaspora Diminta Membantu Pengembangan Pendidikan Tinggi di Kampung Halaman (2-Habis)
UNTUK TANAH AIR: Irwandi Jaswir (kiri) dan Dwi Susanto ingin iklim penelitian Indonesia maju. Mereka juga mengajak peneliti muda untuk tampil di dunia internasional. (Miftahul Hayat/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

Peneliti merupakan pekerjaan profesional. Pola pikir itulah yang ditularkan para ilmuwan diaspora saat diminta pulang kampung untuk berbagi pengalaman dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan tinggi di Indonesia.

 

AGUS DWI P.-M. SALSABYL, Jakarta

 

’’LAUT bukan pemisah, tapi penghubung,’’ tegas Raden Dwi Susanto, diaspora yang kini tinggal di Amerika Serikat, saat tampil di hadapan Wapres Jusuf Kalla pada acara Visiting World Class Professor di Jakarta, Senin (19/12). Pertemuan yang diprakarsai Kemenristekdikti itu menghadirkan 43 ilmuwan diaspora dari berbagai bidang yang menyebar di berbagai belahan dunia.

Dalam paparannya, Dwi sangat ingin mengubah paradigma tentang kelautan yang selama ini sering dianggap jurang pemisah antarpulau. ’’Urban planning itu tidak hanya bisa dilakukan di darat, di laut juga bisa dikembangkan,’’ ujarnya bersemangat.

Dwi memang pakar di bidang ilmu kelautan. Maklum, sejak 2000 dia masuk tim Ocean Surface Topography Science dan Ocean Salinity Science bentukan NASA (National Aeronautics and Space Administration), Amerika Serikat. Tim itu meneliti topografi permukaan lautan bumi hingga salinitas air laut.

Bagi peneliti, menjadi bagian dari tim tersebut merupakan impian. Karena itu, pria asal Jogjakarta tersebut sangat bangga bisa terpilih menjadi anggota tim peneliti di NASA.

Bersama puluhan ilmuwan dari berbagai negara lainnya, Dwi bertugas meng-update data tentang laut dengan memanfaatkan citra satelit. Pekerjaannya hampir sama dengan tugas BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dalam memperkirakan cuaca di Indonesia.

Memang, masuk tim peneliti NASA tak semudah membalik telapak tangan. Dwi harus berkompetisi dengan ratusan ilmuwan dari perguruan tinggi ternama di dunia. Dia mesti lolos serangkaian tes ketat dan wajib membuat proyek penelitian tentang laut.

’’Yang lolos biasanya hanya 15–20 persen (dari ratusan ilmuwan yang ikut proses seleksi, Red),’’ tutur Dwi.

 

Meski kini berkiprah di negara orang, Dwi tidak lantas melupakan Indonesia. Keinginan untuk pindah kewarganegaraan pun tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Dia justru ingin berkontribusi lebih nyata bagi pengelolaan laut tanah airnya. ’’Indonesia adalah negara kelautan. Dan, saya selalu menggunakan laut Indonesia sebagai objek penelitian,’’ tutur bapak satu anak itu.

Dwi juga tidak henti-henti memotivasi para ilmuwan muda dalam negeri untuk berani berkiprah di kancah internasional. Menurut dia, di lingkup Asia, ilmuwan Indonesia masih kalah banyak jika dibandingkan dengan Tiongkok, Korea, dan India. Hal itu tidak lepas dari minimnya peneliti muda Indonesia yang berambisi untuk berkompetisi di luar negeri. Khususnya di Amerika.

Hanya, dia mengakui, mengajak ilmuwan Indonesia untuk total menjadi peneliti memang terbilang sulit. Sebagian besar, kata dia, telanjur enjoy di zona nyaman. Apalagi peneliti yang sudah berkeluarga dan memiliki penghasilan dari proyek yang dikembangkan.

’’Kultur di Indonesia, ilmuwan itu masih dianggap gelar. Profesionalismenya masih kurang,’’ tutur ilmuwan senior di Department of Atmospheric and Oceanic Science University of Maryland itu.

Padahal, lanjut dia, persaingan antarpeneliti di luar negeri sangat terbuka. Ilmuwan bisa mengikuti kompetisi yang diadakan lembaga penelitian internasional. Namun, dia mesti memiliki kredibilitas dan penelitian yang berkualitas. ’’Memang sulit kalau kita sebagai peneliti sudah punya bisnis,’’ ujar alumnus ITB tersebut.

Untuk meyakinkan para peneliti Indonesia, Dwi tidak jarang berbagi pengalamannya menjadi peneliti di Negara Paman Sam. Menurut dia, beasiswa untuk menempuh studi lanjutan di Amerika sangat banyak. Tawaran itu bertebaran di berbagai website lembaga penyedia.

Bagi peneliti yang berat meninggalkan profesinya sebagai dosen, Dwi menyarankan untuk mengajar dengan menggunakan aplikasi Skype. Materi perkuliahan bisa diberikan melalui video call secara gratis di internet. Hal seperti itu dilakukan Dwi saat diminta mengajar mahasiswa Politeknik Sorong pada 2014.

’’Sekarang semua mudah karena data satelit bisa diakses gratis,’’ ungkap pria yang sudah 27 tahun melanglang buana di Amerika tersebut.

 

Ambisi Peneliti Indonesia

Lain Dwi Susanto, lain pula Irwandi Jaswir, dosen dan peneliti di International Islamic University Malaysia (IIUM). Pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat, itu tak pernah berhenti untuk meneliti dan menemukan inovasi baru di bidang teknologi pangan serta industri halal. Meski, dia mengaku baru mempunyai impian tersebut pada masa akhir kuliah.

’’Sebelum kuliah, pikiran saya cuma cari universitas bagus yang memungkinkan untuk cepat dapat pekerjaan. Saya memilih teknologi pangan saat tingkat dua karena standar jurusan itu paling tinggi,’’ jelas alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 1994 itu.

Mendekati kelulusan, ayah tiga anak tersebut baru bertekad penuh untuk hidup di jalur akademis. Gayung pun bersambut. Dia mendapat jalan untuk melanjutkan pendidikan dengan beasiswa pemerintah Malaysia di Universitas Pertanian Malaysia (UPM).

Di sana, Irwan terus mengembangkan keahliannya di bidang biokimia dan kimia pangan. Setelah bergelar master of science (MSc) pada 1996, Irwan langsung tancap gas mengambil program S-3 dengan gelar ganda dari Universitas British Columbia, Kanada, dan UPM Malaysia.

’’Saat itu, saya banyak meneliti minyak kelapa sawit karena industrinya sedang bangkit. Nah, itu juga yang akhirnya membuat saya ingat masalah makanan halal,’’ ungkap.

Awal 2000-an memang jauh dari booming industri halal. Alhasil, banyak industri pangan yang belum melirik pasar sekaligus mengikuti standar makanan halal. Saat di Kanada pun, Irwan sempat tertipu saat membeli keripik kentang rasa barbeque. Namun, selidik punya selidik, ternyata saus barbeque itu mengandung babi.

’’Saat itu susah menentukan mana makanan halal di sana (Kanada). Kalau kurang hati-hati, bisa kemakan,’’ jelasnya.

Setelah kembali dari Kanada dan menuntaskan studi S-3 di UPM, Irwan masuk menjadi staf akademis di IIUM pada 2001. Misinya cuma satu, menciptakan teknologi pangan bikinan sendiri untuk melacak zat nonhalal seperti lemak babi di makanan.

’’Saya pakai dasar ilmu saya yang tahu soal minyak saat D-3 untuk membuat alat tersebut,’’ ungkapnya.

Penelitian yang dimulai sejak 2002 itu sukses melahirkan FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) yang mengantarkan Irwan mendapat berbagai penghargaan. Misalnya, medali emas dalam pergelaran Ekshibisi Penemuan, Teknik Baru, dan Produk Ke-34 di Jenewa, Swiss, 2006.

Sejak itu, pria yang saat ini tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia, tersebut tak berhenti melakukan riset. Hasilnya, sedikitnya 75 makalah riset ilmiah pernah dihasilkannya. Dia juga memperoleh setidaknya 60 penghargaan internasional. ’’Saya bersama teman-teman juga membuat alat pendeteksi lemak babi dengan penciuman,’’ ujar dosen terbaik IIUM pada 2010 tersebut.

Namun, semua itu tidak berarti Irwan tidak lagi nasionalis. Dia tetap cinta Indonesia. Sampai saat ini, dia juga sering wira-wiri Malaysia–Indonesia. Selain mengajar sebagai dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, dia terus memotivasi para peneliti muda untuk terus berkarya.

’’Saya ke acara ini sekalian menghadiri sidang mahasiswa S-3 Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang saya bimbing. Dia membuat penelitian soal produksi gelatin halal dari kulit kambing lokal untuk cangkang kapsul obat,’’ ungkapnya.

Irwan berjanji terus membantu kemajuan iptek di Indonesia. Meski, kadang peneliti di Indonesia kurang berambisi untuk melakukan riset. Padahal, fasilitas penelitian antara Indonesia dan Malaysia hanya berbeda tipis.

’’Di Indonesia fasilitas penelitian yang bagus hanya ada di kota-kota besar dan jarang dibuka untuk kalangan luar. Berbeda dengan Malaysia yang merata di berbagai kota,’’ ungkapnya.

Para ilmuwan Indonesia, kata Irwan, juga kurang fokus dalam mengejar temuan-temuan baru. Dia tidak tahu penyebabnya. Apakah karena riset hanya pekerjaan sampingan (yang utama menjadi dosen) atau karena insentif yang diterima tidak sesuai dengan harapan.

’’Harusnya peneliti tak perlu melulu mencari insentif,’’ jelasnya.

Irwan menegaskan, pemerintah Indonesia harus mendorong dan menggencarkan penelitian bidang pangan halal. Sebab, banyak potensi Indonesia yang terbuang karena kurangnya teknologi untuk memanfaaatkan kekayaan sumber daya alam.

’’Contohnya rumput laut cokelat yang kurang dimanfaatkan masyarakat Kalimantan. Padahal, setelah diolah, ada perusahaan yang mau membayar Rp 3 juta untuk 10 miligram,’’ tegasnya. (*/c5/ari)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up