alexametrics
Festival Keraton Masyarakat Adat ASEAN

Raja dan Sultan Belajar Kisah Sukses Keraton Buton

22 November 2019, 17:28:58 WIB

Keraton membentuk Indonesia yang ada sekarang. Namun, keberadaannya semakin dilupakan. Puluhan raja dan sultan berkumpul di Baubau, Sulawesi Tenggara, untuk mencari solusi keberlangsungan keraton.

Debora Danisa Sitanggang, Baubau, Jawa Pos

CUACA Baubau sedang panas-panasnya. Namun, terik matahari tidak menghalangi masyarakat dan para bangsawan di sana untuk menggelar acara adat Rabu siang lalu (20/11). Acara itu sengaja digelar bertepatan dengan Festival Keraton Masyarakat Adat (FKMA) ASEAN.

Acara itu sebenarnya rutin diadakan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN). Namun baru kali ini diselenggarakan di Baubau, Sulawesi Tenggara, yang dulu merupakan bagian dari Kesultanan Buton. Para raja dan sultan dari berbagai wilayah di Indonesia dan Asia Tenggara hadir, mewakili masyarakat adat masing-masing.

Meski acara utamanya lebih banyak bersifat seremonial, warga tetap antusias memeriahkan festival berskala paling besar di daerah mereka itu dengan serangkaian acara. Salah satunya peka kande-kandea.

Kande-kandea, dalam bahasa Baubau berarti makan-makan, adalah momen ketika para tamu dan warga berkumpul untuk makan bersama. Para tamu bangsawan bertempat di Baruga Masjid Agung Keraton Buton, para warga berkeliling di sekitar kompleks keraton seluas 3 kilometer persegi itu.

Dalam tradisi peka kande-kandea, para tamu dijamu gadis asal Baubau dengan berbagai makanan yang ditutup talang atau tudung saji. Begitu pembawa acara meneriakkan ”tongpalaijo” yang kurang lebih berarti ”buka tutupnya”, para gadis harus membuka tudung dan menyajikan makanan dengan segera bagi para tamu. Makanan disuapkan. Sebagai ucapan terima kasih, para tamu menyelipkan uang ketika bersalaman.

Peka kande-kandea itu diyakini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah dan baru dicatatkan dalam Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri). Dalam keseharian, kande-kandea sebenarnya sering diadakan warga dalam lingkup kampung, ketika Lebaran, atau hanya untuk silaturahmi sekaligus ajang cari jodoh bagi para lajang.

Acara makan-makan itu bisa dibilang sebagai puncak Festival Keraton ASEAN yang dimulai Senin lalu (18/11). Sekitar 42 kerajaan dan kesultanan dari berbagai daerah hadir di Baubau untuk bermusyawarah. Agenda besar mereka, bagaimana melestarikan kebudayaan melalui keberadaan keraton. ”Ini harus menjadi perhatian pemerintah,” ungkap Ketua Umum FSKN Prabu Arief Natadiningrat yang juga sultan sepuh XIV Keraton Kesepuhan Cirebon.

Arief menjelaskan alasan pemilihan Baubau sebagai lokasi festival sekaligus musyawarah kali ini. ”Peninggalan keraton di Baubau masih terpelihara, baik fisik maupun nonfisiknya,” ungkapnya.

Benteng keraton masih ada dan kerap dijadikan tempat acara warga, masuk ke dalam peninggalan fisik. Peninggalan nonfisiknya berupa tradisi yang masih dijalankan masyarakat. Salah satunya kande-kandea. Untuk itulah, puluhan raja dan sultan diundang supaya bisa belajar dari keberhasilan pelestarian Keraton Buton.

Kesultanan Buton tidak hanya berlokasi di Baubau. Festival Keraton Buton biasanya diadakan di sisi timur pulau. Tepatnya di Pasarwajo yang berjarak sejam perjalanan dari Baubau di sisi barat. Skalanya lokal, tidak sampai mengundang kerajaan luar pulau apalagi luar negeri seperti saat ini. ”Kami mengundang kerajaan di Asia Tenggara juga karena melihat sejarah,” lanjut Arief.

Jika ditarik ke zaman kerajaan, wilayah kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit mencakup beberapa daerah yang kini menjadi teritori negara lain di Asia Tenggara. Sisa-sisa peninggalan kerajaan masa lampau juga mungkin tersisa di negara-negara tersebut. Tidak harus berupa fisik, tetapi juga keturunannya. ”Misalnya, kalau kita lihat di Singapura, masih ada keturunan dengan nama Tengku dan Datuk,” jelasnya.

Beberapa kerajaan atau kesultanan lain juga masih terlestarikan. Namun, tidak sedikit yang mulai punah. Kondisi itulah yang mendorong FSKN untuk mengadakan forum tersebut sehingga bisa membantu menghidupkan kembali kerajaan atau kesultanan yang hampir mati digerus zaman.

Salah satu usaha yang berhasil terjadi pada Kerajaan Galuh. Letaknya di Ciamis, Jawa Barat. Prabunya, Rasich Hanif Radinal, menyatakan eksistensi kerajaan tersebut hampir punah beberapa tahun lalu. Sebagai anggota kerajaan, dia dan keluarganya kemudian berinisiatif menghidupkan kembali adat istiadat mereka. ”Pertama dimulai dengan mengumpulkan pusaka-pusaka,” jelas Rasich.

Lewat pengumpulan pusaka di beberapa wilayah Ciamis dan sekitarnya itu, Rasich ternyata menemukan masih banyak warga yang menjalankan tradisi Kerajaan Galuh. Mereka terbagi menjadi ratusan kabuyutan (semacam komunitas masyarakat dalam satu wilayah kecil). Dari situlah keluarga kerajaan mendorong partisipasi masyarakat agar tradisi kerajaan mereka hidup kembali.

Usaha itu dimulai pada 2015. Artinya, sudah lebih dari empat tahun Rasich sebagai prabu bergerak merevitalisasi kerajaan. Usahanya cukup membuahkan hasil. Situs-situs Kerajaan Galuh yang perlu dipugar atau diperbaiki akan masuk dalam program pemerintah pusat pada 2020. ”Tahun 2020 ini diusahakan menjadi ikon Ciamis,” lanjutnya.

Kisah yang kurang berhasil terjadi pada Kesultanan Aceh. Pangerannya, Teuku Rafly Pasha, yang hadir dalam festival kali ini mengakui bahwa masyarakat sudah tidak meyakini adanya kesultanan. Keluarga kesultanan perlu memikirkan upaya revitalisasi yang agak berbeda. Bukan dalam bentuk membangun keratonnya kembali. ”Tetapi pemugaran situs lain yang ada. Juga, disediakan fasilitas bertemu masyarakat,” jelas Rafly.

Gol festival kali ini adalah pelindungan bagi kerajaan dan kesultanan. Melihat banyaknya keraton yang mulai punah, sudah saatnya pemerintah turun tangan. Khususnya dalam bentuk regulasi untuk pelestarian budaya melalui keraton. ”Semua adat budaya zaman dulu kan dimulai dari keraton. Seni, kuliner, pakaian, bahasa, dulu semua dipusatkan di keraton,” papar Arief.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c5/ayi



Close Ads