alexametrics

Achmad Rizki Fauzi, Difabel yang Menekuni Bisnis Sketsa

Bikin Video untuk Promosikan Karya
22 September 2019, 20:48:22 WIB

Rizki pemuda ulet. Kegemarannya menggambar sketsa sejak SD kini bisa menjadi sandaran hidup. Dia mempromosikan karyanya di dunia maya. Menerima order sketsa dari banyak orang.

R. AUFAR DHANI HIKMAWAN, Surabaya

PANDANGANNYA terfokus pada kertas berukuran A4 di tangan. Menggunakan pensil 2 B, Achmad Rizki Fauzi begitu lihai mengarsir. Sebentar kemudian, dia membuat coretan-coretan di kertas tersebut. Setelah beberapa lama, sebuah sketsa wajah milik pemesannya selesai dikerjakan.

Rizki memang akrab dengan aktivitas menggambar. Bahkan, hal itu dikerjakannya sejak dia duduk di bangku sekolah dasar. Mulanya dia menyukai menggambar tokoh anime Jepang seperti detektif Conan, Doraemon, dan Dragon Ball. ’’Ketika itu, belum bentuk pola. Jadi, ya cuma iseng gambar,” kata Rizki di Yello Hotel pada Kamis lalu (19/9).

Ketika itu, Rizki berkumpul bersama komunitas doodle art. Di antara anggota komunitas tersebut, Rizki terlihat paling berbeda. Namun, dia percaya diri.

Rizki belajar menggambar secara otodidak. Dalam keluarganya, tak ada darah seni. Dia juga tak pernah berguru kepada siapa pun. Yang dia punya hanya kemauan keras. Bila ada keinginan, tak ada satu pun yang bisa menghalangi. Termasuk belajar menggambar tadi. Jari jemarinya yang mengalami kecacatan sama sekali tak menghalangi hobinya Alas kertas yang digunakannya sering bergerak mengikuti gerakan pensil. Hal itu tak membuat Rizki patah arang. Meski, waktu menggambar yang dibutuhkan lebih lama.

Hasil karya Rizki kerap menuai pujian dari guru-gurunya. Namun, tak sedikit pula yang mengejek. Cacat fisik yang dialami seakan turut memengaruhi kehidupan sosialnya. Terutama dalam pergaulan dengan teman.

Rizki menyebut masa kecilnya penuh dengan kenangan buruk. Selalu mengalami perundungan. Apalagi, dia memilih menempuh pendidikan di sekolah umum. Tekanan demi tekanan pun dirasakannya. ’’Saat SD, saya disuruh-suruh beli jajan. Kalau enggak mau, dijauhi sama teman. Rasanya sedih banget,” ujar bungsu tiga bersaudara tersebut. Kondisi itu membuat dia begitu tertekan.

Ketika masuk SMP, Rizki berharap memori buruk saat SD tidak terulang. Terutama soal bullying. Namun, kenyataannya perundungan itu tetap saja ada. Pemuda asli Banyuwangi tersebut justru lebih stres. Sebab, aktivitas menggambar di SMP tidak intens. Dia lebih disibukkan dengan kegiatan lain. Yakni, belajar dan olahraga.

Kondisi itu mendorongnya untuk mencari cara lain. Yang ada di kepalanya saat itu adalah pelampiasan. ”Kumpul sama kakak kelas. Jadi anak mbeling pokoknya. Ngelakonisingenggaknggenahpokoke. Biasa, masih anak labil,” katanya.

Rizki melanjutkan ke jenjang sekolah menengah kejuruan (SMK). Di situ, tingkah lakunya berubah. Dia memulai kembali hobi menggambarnya. Kali ini, dia tidak sekadar menggambar. Rizki mencoba untuk mengeksplorasi berbagai jenis gambar. Misalnya, doodle art dan sketsa. Namun, dia lebih condong membuat sketsa. Setelah menyelesaikan satu sketsa, Rizki memamerkan karyanya itu ke temannya.

Dari situ, keran bisnis Rizki terbuka. Banyak yang tertarik ingin dibuatkan gambar sketsa wajah. Sebab, gambar yang dihasilkan Rizki cukup bagus. Dia pun berinovasi dengan membuat semacam video time lapse. Mulai sebelum pengerjaan hingga tuntas. Setelah itu, dia membagikannya ke medsos.

Rizki terus kebanjiran order. ’’Sudah enggak terhitung berapa. Yang jelas, hampir di seluruh Indonesia, kecuali wilayah Papua. Sebab, ongkos kirimnya lumayan mahal, hehe,” katanya. Setiap satu sketsa dihargai sekitar Rp 200 ribu. Sebulan, dia bisa mengantongi Rp 4 juta.

Saat ini Rizki juga berkecimpung dalam berbagai komunitas pencinta seni. Tujuannya sederhana. Salah satunya ingin menunjukkan bahwa kekurangan fisik itu bukan halangan untuk berkarya

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git



Close Ads