Menilik Jejak Organisasi Rahasia Dunia 'Freemasonry' di Salatiga

22/07/2018, 17:19 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Warin Darsono, 30, juru rawat menunjukkan lambang Freemasonry pada kereta jenazah peninggalan era kolonialisme Belanda. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Salatiga merupakan sebuah kota di Jawa Tengah yang terbentuk pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia. Terkenal sebagai tempat pemukiman bangsa kulit putih karena letaknya berdekatan dengan kawasan perkebunan lokasi mereka bekerja. Hingga Indonesia merdeka, Salatiga masih menyimpan setumpuk peninggalan era kolonial.

Bergeser sedikit dari pusat keramaian penduduk, atau tepatnya di Kantor Kelurahan Kutowinangun Lor, Jalan Dr Muwardi, Tingkir, setiap dua minggu sekali atau pada akhir pekan, dapat ditemui salah satu jejak kompeni di Salatiga. Yakni tiga kereta jenazah buatan tahun kisaran 1800-an hingga awal 1900-an.

Ketiga kereta bergaya arsitektur campuran ini, kata Warin Darsono, 30, juru rawat, sekarang telah menjadi aset kebudayaan setempat. "Tahun 2015 didaftarkan ke BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) di Klaten. Sebenarnya pemerintah itu malah tidak tahu ada barang ini, kemudian saya ajak untuk nguri-nguri," katanya saat dijumpai di halaman Kantor Kelurahan Kutowinangun Lor, Sabtu (21/7).

Tiga kereta jenazah peninggalan era kolonialisme Belanda dipamerkan setiap dua minggunya di halaman Kantor Kelurahan Kutowinangun Lor, Tingkir, Salatiga. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Ia mengatakan, keberadaan ketiga kereta tersebut awalnya terdeteksi olehnya saat ia masih kecil, sekitar 20 tahun silam. Namun diakuinya, publik belum banyak tahu akan wujud peninggalan Belanda itu. "Dulu denger kereta, ngiranya gerbong. Pertama kali ketemu di garasi tua depan kelurahan ini," katanya.

Pasalnya, menurut pengakuan Warin dan beberapa warga sekitar, kantor kelurahan Kutowinangun Lor dulunya adalah kawasan pemakaman. Garasi tadi, ternyata juga sudah dibangun sejak lama sebagai kandang bagi ketiga kereta jenazah tersebut.

Namun ada hal yang kata Warin kerap mengundang banyak tanya bagi mereka yang menyaksikan kereta ini. Di beberapa bagian tubuh kereta, banyak terpampang simbol-simbol. Salah satunya adalah lambang organisasi rahasia Freemasonry.

Lambang itu terdapat pada salah satu kereta yang didominasi material kaca pada badan utamanya. Bukan terukir dari besi seperti simbol-simbol lain, melainkan dengan cat putih. Bergambar segitiga, lengkap beserta mata satu-nya. 

Simbol ini populer dengan nama mata ilahi yang pertama kali dipakai sebagai bagian dari ikonografi Freemasonry pada tahun 1797. "Memang, karena ini adalah kepunyaan pemerintah kolonial Belanda, miliknya Pejabat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda), karena kan Freemasonry itu isinya petinggi, orang-orang pintar," imbuhnya.

Akan tetapi, ia tak menyebut siapa sosok asli pemilik kereta ini. Yang jelas, ketiganya pernah digunakan untuk mengangkut jenazah orang-orang penting. Salah satunya adalah peletak batu pertama Gereja Indische Kerk di Jalan Jenderal Sudirman.

"Namanya tidak begitu terkenal, tapi cukup berpengaruh di Salatiga. Dia petinggi militer juga pendeta. Kebetulan buyut teman saya di Belanda," terangnya.

Warin mengatakan, kelompok Freemasonry dengan keanggotaan tertutup dan berisikan orang-orang dari kalangan intelektual itu pernah menapakkan kakinya di Kota Salatiga. Hal itu tak terlepas dari status kota-kota di Jawa Tengah saat era penjajahan silam.

Salatiga yang dijadikan pusat perkebunan semasa era kolonialisme Belanda, lanjut Warin, membuat Kota berisikan empat kecamatan itu tak luput jadi kesayangan bangsa kulit putih.

"Salatiga dan Magelang itu dulunya juga kota garnisun, Semarang dan Tegal itu pusat pertahanan angkatan laut. Kota-kota yang mempunyai organisasi masonic pada saat era penjajahan pasti dianggap penting," tuturnya.

Bukan asal bunyi, Warin mengaku mendapat semua informasi itu lantaran dirinya memang hobi mengulas akan sejarah. Seperti bagaimana getolnya ia menggali masa lalu ketiga kereta jenazah tadi melalui salinan manuskrip yang diperolehnya dari beberapa koneksinya asal Universitas Leiden dan Museum Bronbeek di Negeri Kincir Angin sana.

"Dokumen di sana malah jauh lebih lengkap. Ada data mengenai kapan kereta ini dibuat, perusahaannya, siapa saja yang pernah pakai dan diangkut. Bahkan tarif sewanya juga ada," katanya.

Mengenai keberadaan anggota Freemasonry di kotanya, ia memastikan kemungkinan besar sudah tidak ada. Lantaran, sebelum dilarang pendiriannya oleh Presiden Soekarno tahun 1962 lalu, hanya orang-orang asing saja yang sempat menjadi bagian dari organisasi penuh misteri tersebut.

"Saking tertutupnya, orang awam hanya bisa mengetahui keanggotaan Freemasonry kalau anggota tersebut sudah meninggal saja. Yakni bisa dilihat pada nisan, ada simbol organisasinya yang juga saya temui di beberapa makam di Salatiga. Salah satunya pemakaman Cina, Ngebong," tandasnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi