alexametrics

Rosiana Alim, Perempuan di Balik Komunitas Pejuang Dua Garis (1)

22 Juni 2022, 07:48:08 WIB

Sepuluh tahun sudah Rosiana Alim dan sang suami, Ken Kurniawan Sutanto, menanti buah hati. Sepanjang waktu tersebut, mereka menjajal beragam upaya. Mulai alternatif hingga medis, sampai dua kali gagal dalam program bayi tabung. Namun, keyakinan serta harapan tak pernah surut.

NURUL KOMARIYAH, Surabaya

SEBAGAI IVF warrior alias pejuang bayi tabung, sepuluh tahun menanti buah hati bukan waktu yang singkat. Namun, sebuah proses dan perjalanan terkadang harus diiringi sukacita, jatuh bangun, sekaligus pedih perih.

Dalam masa penantian tersebut, Mizz Rosie, sapaan akrab Rosiana Alim, kerap merasa tidak ada wadah bagi pejuang dua garis seperti dirinya untuk saling menemukan satu sama lain. Saling bertatap muka, berkomunikasi, memberi support, dan berbagi cerita bersama teman-teman yang senasib sepenanggungan.

”Untuk mencari info hingga menemukan orang-orang dengan kasus infertilitas yang sama itu tidak ada wadahnya. Maka, saya terpikir membentuk sebuah komunitas yang bisa menjadi magnet bagi sesama pejuang dua garis untuk berkumpul,’’ ujarnya.

Di tengah pandemi, tepatnya pada April 2021, dibentuklah Komunitas Pejuang Dua Garis. Tak butuh waktu lama, grup tersebut langsung dibanjiri anggota dari penjuru Nusantara.

Sampai saat ini anggota yang bergabung di Instagram mencapai 18 ribu pengikut. Sementara itu, di Telegram ada 500 laki-laki dan 700 perempuan dengan status infertilitas dan sama-sama sedang berjuang memperoleh keturunan. Rosie juga sudah merambah website dan YouTube. Dia sengaja mengaktifkan semua jenis platform medsos agar komunitas itu mudah ditemukan.

Di grup WhatsApp, dia kerap mengisi tulisan mengenai rekomendasi dokter, suplemen, hingga klinik akupunktur yang bagus. Tujuannya, para anggota tahu ke mana harus mencari skrining maupun treatment yang tepat. ”Sebab, jenis penyakit yang bisa bikin susah hamil itu ada banyak. Bisa karena hidrosalping, endometriosis, PCOS, dan sebagainya,’’ katanya.

Masing-masing penyebab punya treatment dengan dokter spesialis yang berbeda. Karena itu, dia ingin berbagi bekal ke mana harus mencari pertolongan untuk mengatasi ketidaksuburan.

Rosie juga sering berbagi mengenai pertanyaan apa saja yang perlu diajukan saat bertemu dengan dokter, terutama saat mau melakoni program bayi tabung. Hingga fasilitas kesehatan mana saja yang punya program bayi tabung lengkap dengan kisaran biayanya. Dia mengungkapkan, banyak pejuang garis dua yang tidak berani ke dokter karena tidak siap dengan diagnosisnya. Padahal, dalam dunia infertilitas, semakin cepat memeriksakan diri, semakin cepat bisa dibantu. Semakin ringan pula biaya yang mesti ditanggung.

”Saya sendiri memeriksakan diri di usia 28 tahun pada saat 1,5 tahun usia pernikahan. Teman-teman saya seperjuangan kebanyakan sudah nikah 7 atau 10 tahun baru mau mencoba bayi tabung,’’ ujarnya.

Dia menambahkan, setidaknya pasangan suami istri harus sedia anggaran mulai Rp 90 juta tanpa ada jaminan pasti berhasil. Sebab, persentase keberhasilannya sekitar 35 persen. Lewat Komunitas Pejuang Dua Garis, dia ingin mengajak pasangan suami istri untuk aktif mencari informasi. Terutama saat belum dikaruniai keturunan di usia satu tahun pernikahan tanpa kontrasepsi.

”Secepatnya cari info ke dokter. Tidak harus langsung program bayi tabung, tapi setidaknya kalian tahu ’what’s wrong’. Apalagi kalau sudah ada indikasi menstruasi enggak lancar, setiap kali menstruasi sakit, suami pernah sakit gondong saat masih kecil, itu semua pasti ada hubungannya dengan infertilitas,’’ terangnya.

Lewat komunitas itu, dia kepingin mereka itu aware, cerdas mengetahui diri sendiri dalam hal infertilitas. ”Cari tahu, jangan cuma pasrah,’’ tegasnya.

Dia pun miris jika perempuan harus menjalani treatment yang berbahaya tanpa mencari tahu terlebih dahulu diagnosis medis yang menjadi penyebab infertilitasnya. Sebut saja treatment pijat urat rahim yang justru bisa membuat tuba falopi lengket.

Perjuangan menjalani program hamil (promil) lewat metode bayi tabung pun sudah dilakoni Rosie dan suami sampai dua kali. Dan dua-duanya gagal. Tahun ini di usia kesepuluh pernikahan, mereka sedang menjajal program bayi tabung ketiga di Kuala Lumpur, Malaysia. ”Saat gagal program pertama, saya mulai mencoba minum pil penyubur, terapi steam cell, pijat akupresur, mendatangi sinse. Apa pun yang orang bilang saya coba. Karena waktu itu sempat putus harapan dan mikir,’’ terangnya.

Dua kali gagal bayi tabung membawanya pada sebuah penerimaan sekaligus kesadaran. Bahwa masing-masing manusia dipercaya memikul tantangan yang berbeda. Lantas, dia bersyukur sudah diberi waktu 10 tahun berjuang yang membuatnya menjadi pribadi lebih dewasa, lebih menghargai hidup, dan hubungan dengan suami yang justru makin dekat. ”Dengan membentuk komunitas, banyak orang terbantu dan memperoleh manfaat,’’ terangnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads