alexametrics

Imelda, Driver Ojek Online yang Galang Donasi Bagi-Bagi Susu Formula

Sudah Bagikan 410 Kardus
22 Juni 2020, 05:05:08 WIB

Meski pendapatannya sebagai driver ojek online pas-pasan, Imelda Kusprobowati tidak berhenti berbagi. Bahkan, dia rela meminjam uang jika donasinya kurang. Dia ingin membantu keluarga yang terdampak pandemi Covid-19 agar tetap bisa memberikan susu kepada anak balitanya.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya

Mengendarai sepeda motor matik dan berbalut jaket ojol, Imelda, sapaan akrabnya, memasuki gang sempit di kawasan Tambak Gringsing pada Kamis (18/6). Kedatangannya sudah ditunggu. Terutama bagi keluarga yang memiliki anak balita. Semua antusias menyambutnya.

Satu per satu susu formula dikeluarkan dari tasnya. Macamnya banyak. Bergantung usia. Warga yang semula wajahnya sayu menjadi tersenyum. Ada harapan anaknya bisa kembali minum susu. ’’Maaf ibu-ibu saya terkena macet,’’ ucap Imelda di hadapan warga yang sudah lama menunggunya.

Sebelum dibagikan, perempuan 44 tahun itu selalu memberikan sambutan. Lebih tepatnya sosialisasi. Bahwa, susu formula tersebut hanya dibagikan sekali. Sasarannya juga terbatas.

Kegiatannya juga bukan dari yayasan. Melainkan bantuan dari para donatur yang digalang di media sosial.

Pembagian susu formula itu berawal dari keprihatinan Imelda. Kerjanya yang dihabiskan di jalan membuatnya banyak menemui kisah pilu. Terutama saat pandemi seperti sekarang. Banyaknya orang yang di-PHK membuat perekonomian keluarga terguncang. Imbasnya, banyak balita yang tidak bisa minum susu.

Suatu hari, Imelda pernah bertemu sahabatnya. Dia menjadi korban PHK. Saat itu sahabatnya tersebut bingung ingin beli beras atau susu untuk anaknya. Dilema. Kondisi ekonomi pas-pasan. Terpaksa, sang buah hati yang berusia 2 tahun diberi susu kemasan saset.

Hati Imelda tercabik. Nelangsa. Belum lagi kisah lainnya yang banyak dijumpai. Misalnya, balita yatim yang tidak bisa tidur hanya karena tidak minum susu. Juga, sekardus sufor yang harus dibagi dengan tetangga. ’’Maaf, di Surabaya banyak anak yang mengalami gizi buruk,’’ tuturnya.

Berbagai kisah pilu itu dituliskan di halaman Facebook (Imelda Kusprobowati). Netizen mulai menanggapi. Responsnya baik. Pertengahan Mei Imelda membuat keputusan bulat. Dia menggalang donasi. Baik berupa uang maupun susu formula. Sebagian hasil jerih payahnya juga disumbangkan. Lumayan. Kegiatan pertama bisa mengumpulkan 30 kardus susu formula.

Sasaran penerima juga bukan sembarangan. Ada kriterianya. Yakni, anak yatim dan duafa. Biasanya, dia dibantu teman-temannya survei ke lokasi. Tujuannya, memastikan kondisi sebenarnya calon penerima bantuan. Sebulan berjalan, setidaknya 410 susu formula sudah dibagikan.

Kehidupan Imelda sebenarnya jauh dari cukup. Dia tinggal di rumah kontrakan. Imelda merupakan tulang punggung keluarga. Dia juga harus menghidupi tiga anaknya. Banting tulang. Pagi menjadi ojol, malamnya sebagai sekuriti di salah satu tempat hiburan. Semua dilakukan agar anaknya bisa makan dan sekolah.

Lima tahun menjadi ojol bukan berarti jalannya selalu mulus. Menyandang gelar sarjana, dia kerap dicibir. Namun, tidak ada pilihan lain. Ketiga anaknya harus sekolah. Dapur harus mengepul. Nah, di tengah pandemi seperti sekarang, bebannya semakin berat.

Pendapatannya didapat dari orderan offline. Banyak sahabatnya yang mengontak butuh jasanya. Biasanya untuk kirim barang. Sejak menggalang donasi, tugasnya bertambah. Yakni, menjemput susu formula ke rumah donatur.

Dia menyatakan setiap hari selalu keliling meski orderan sepi. Namun, rezeki kerap datang tanpa diduga-duga. Misalnya, tiba-tiba ada orang yang mengirim beras ke rumah. Saat di SPBU, ada yang mengisikan BBM secara gratis. Padahal, dia tidak mengenal orangnya.

Aksi bagi bagi susu juga tidak dapat ditunda. Karena sudah ditunggu, warga pun kerap menanyakan kepastian kedatangan Imelda.

Jika seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Imelda untuk berusaha mencari donasi. Termasuk menggunakan uang pribadinya. Bahkan harus meminjam uang.

Yang menjadi ketakutan Imelda bukan kehidupan keluarganya yang susah atau tabungannya yang habis untuk disumbangkan. Namun, kegiatan bagi-bagi susu formula berhenti. Sebab, donasi menipis, bahkan minggu ini sudah habis. Sementara itu, cerita pilu masih banyak ditemui. Terlebih di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu seperti sekarang.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c15/git



Close Ads