alexametrics

Desmonda Paramartha, Korban Bom Gereja yang Tak Sabar Lanjutkan Hidup

Pulang ke Rumah, Langsung Belajar untuk UAS
22 Mei 2018, 03:00:43 WIB

Nggak enak, Kak, ujian sendirian. Lagi pula, aku harus tunjukkan kalau aku nggak takut. Bukan cuma di mulut, tapi pesan nyata ya lewat aksi. Semua akan baik-baik saja.

RESVIA AFRILENE, SURABAYA

Desmonda Paramartha, Korban Bom Gereja yang Tak Sabar Lanjutkan Hidup
Desmonda Paramartha (duduk di kasur) saat dikunjungi jemaat Gereja SMTB. (RESVIA AFRILENE/JAWA POS)

KALIMAT itu diutarakan Desmonda Paramartha ketika ditanya kenapa bersikeras ingin ikut ujian akhir semester (UAS) di kampusnya, Universitas Katolik Widya Mandala, Senin (21/5). Perempuan 20 tahun itu tidak trauma dengan bom yang membuatnya harus menjalani operasi berjam-jam untuk mengeluarkan serpihan metal yang masuk ke tubuhnya. Dia malah khawatir dengan teman-temannya yang kini agak ketakutan.

”Kalau saya datang ke kampus, teman-teman pasti jadi ikutan berani,” kata perempuan yang tercatat sebagai mahasiswi semester IV di jurusan bahasa Inggris FKIP tersebut. Karena insiden bom di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5), Desmonda harus menghabiskan sekitar lima hari di RS Bedah Surabaya. Jumat (18/5) dia diperbolehkan pulang karena kondisinya stabil.

Kediamannya yang berada di kawasan Ngagel Rejo Lebar tiba-tiba menjadi tempat yang sangat dirindukan. ”Rasanya plong banget waktu bisa lihat rumah lagi.

Duduk di ruang keluarga. Istirahat di kasur kesayangan,” ujarnya riang. ”Besok langsung harus fokus belajar buat UAS. Ketinggalan banyak soalnya,” lanjutnya. Desmonda mengaku tak bisa bicara banyak karena masih ada luka di lehernya.

Dia menggunakan hari pertamanya di rumah untuk beristirahat dan memperbanyak doa. Apalagi, dia diberi Maria Peta oleh Romo Thomas Agustinus Wibowo yang mengunjunginya di rumah sakit bersama rombongan jemaat Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Kamis (17/5). ”Aku sama sekali sudah nggak trauma kok. Malahan segera kepingin lihat kondisi gereja,” katanya.

Ketika diizinkan pulang, kondisi kesehatan Desmonda cenderung stabil. Dia tak perlu mendapatkan operasi lain. Hanya, Desmonda harus mengikuti anjuran dokter untuk merawat luka-lukanya tersisa di leher, dahi, dan kaki. Checkup perkembangan kesehatan. Yang terpenting, pemeriksaan kondisi psikologis tetap harus dilakukan.

Serpihan bom berupa lempengan besi hampir meretakkan tulang kaki kanan Desmonda. Belum lagi luka sayatan yang diterimanya di jari-jari kaki, paha kanan, dan lutut kiri yang mengharuskan Desmonda menjalani operasi hampir empat jam. ”Waktu kejadian, pas bomnya meledak, aku cuma berjarak sekitar 5 meter dari dia (pelaku bom bunuh diri, Red). Terus, aku masih kuat lari sekitar 7 meter,” tuturnya. Setelah itu, kepulan asap membubung dan pandangannya mulai kabur.

Rasa perih dan panas yang teramat dirasakan di lutut kanan yang ditembus serpihan besi. ”Habis kena ledakan, aku lari itu. Aku masih sambil nyariin temanku yang tugas jaga parkir juga. Yongki namanya (korban lain yang kini dirawat di RS Premier, Red),” lanjutnya.

Pagi itu Desmonda dan Yongki yang tergabung dalam organisasi Orang Muda Katolik (OMK) Gereja SMTB tengah bertugas menjaga area parkir. Misa pagi dengan jemaat terbanyak biasanya diadakan pada pukul 07.30. Tak heran jika Desmonda bersiap di halaman parkir gereja sejak jam 6 pagi.

Untung, kawan-kawan Desmonda sesama OMK tanggap. Mereka mengantarkan Desmonda untuk mendapat pertolongan pertama di RSBS. Mereka langsung memberikan kabar kepada orang tua Desmonda.

Kini, rangkaian kejadian tersebut tak ubahnya pengalaman hidup yang berharga bagi Desmonda. Dia bersyukur diberi umur lebih lama. Tak ada kegetiran dalam dirinya untuk kembali aktif di gereja. Bahkan, Desmonda berjanji lebih aktif di kegiatan OMK dan makin meluangkan banyak waktu sebagai pengajar di sekolah Minggu.

Desmonda juga mengaku telah memaafkan pelaku bom bunuh diri. ”Mungkin mereka kurang mengenal kami dan merasa iri saja. Aku malah mendoakan supaya mereka pergi dengan damai,” tuturnya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (*/c16/any)

Desmonda Paramartha, Korban Bom Gereja yang Tak Sabar Lanjutkan Hidup