JawaPos Radar

Kreasi Pak Jenggot Menyulap Limbah Kayu Bernilai Tinggi

22/02/2018, 11:15 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Kreasi Kayu
ak Jenggot sedang menunjukkan karya miniatur motor dari bahan potongan limbah kayu. (Yudi Handoyo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Di tangan ahlinya, sebuah benda atau barang dapat diproses dan menghasilkan sesuatu dengan value lebih. Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang pria dari Kabupaten Bojonegoro, Jatim ini. Namanya Dodi Rosidi atau yang biasa dipanggil Pak Jenggot.

Ia memiliki segudang keahlian. Salah satu skill-nya adalah membuat miniatur sepeda motor komunitas. Seniman berumur 43 tahun ini, menyulap limbah kayu menjadi miniatur yang memiliki harga jual tinggi. Setiap hari ia tidak hentinya dalam berkarya.

Dari depan, rumahnya terlihat sederhana. Namun ketika masuk ruang tamu, mata langsung terbelalak melihat aksesoris di dindingnya yang semuanya terbuat dari bahan kayu bekas dan produk-produk miniatur hasil karyanya tersaji di meja ruang tamu.

Siapa sangka rumah yang berada di gang kecil jalan Brigen Sutoyo, Gang Kastamin Nomor 1 B, Bojonegoro Kota ini menjadi tempat produksi miniatur karya-karyanya. Pekerjaan ini, sudah digelutinya selama lima tahun terakhir.

Sebelum berkecimpung di dunia seniman, Pak Jenggot bekerja sebagai karyawan mebel yang tak jauh dari rumahnya. Pertanyaannya kenapa alih profesi? Bukannya menjadi tukang mebel sudah cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun bukan soal materi yang menjadi tolak ukur dalam kehidupannya, tetapi jiwa seni yang membuatnya cinta akan keunikan.

"Sudah lima tahun saya menikmati pekerjaan ini. Sudah banyak karya yang telah saya buat, salah satunya ya miniatur sepeda ini," kata Pak Jenggot, saat ditemui JawaPos.com di kediamannya, Rabu (21/2).

Ayah tiga anak ini, dapat menyelesaikan satu unit miniatur sepeda motor komunitas dalam waktu tiga hari. Ada beberapa macam miniatur yang diproduksinya seperti, sepeda motor vespa, CB, Astrea Gren, Harley Davidson dan masih banyak produk lainya.

"Awalnya kesulitan, membuat satu miniatur saja membutuhkan waktu dua minggu. Sekarang sudah terbiasa, tiga hari juga selesai," ucap dia.

Dalam membuat miniatur motor, Pak Jenggot memanfaatkan potongan limbah kayu dari industri sekitar rumahnya. Dengan kreatifitasnya, dia merubah sampah kayu bekas menjadi miniatur klasik yang bernilai seni tinggi.

"Daripada dibuat kayu bakar, saya manfaatkan menjadi karya. Ya lumayan, bernilai ekonomi plus lah, hitung-hitung buat tambahan income (pendapatan) mas," ucapnya.

Peralatan yang digunakan pun seadanya seperti gerinda dan lem tidak menghalangi dirinya untuk menciptakan setiap produk miniatur motornya. Mulai dari tahapan merancang dan membuat pola serta tahap produksi, semua dikerjakan sendiri secara manual.

"Dalam pembuatannya, jelas membutuhan ketelitian dan kejelian. Miniatur ini, kualitasnya jauh berbeda dibandingkan produk cetakan, saya buat sedetail mungkin, satu persatu seperti pemasangan sparepart motor sehingga terlihat seperti hidup bersekala," jelas dia.

Menurut pak Jenggot ketertarikannya dalam dunia miniatur sepeda motor ini berawal, ketika dirinya melihat karya-karya miniatur dipameran. "Barang-barang yang terlihat menarik dan ada komunitasnya, saya buat miniatur," tutur seniman kota ledre itu.

Alasan lainnya, karena dirinya ingin menciptakan suatu karya dengan inovasi baru yang lebih menarik sehingga dapat mengakat nama daerah, yakni Bojonegoro.

"Di Indonesia jika bicara soal mebel sudah pasti Jepara kalau Jatim ya di Pasuruan tak lepas dari itu. Nah, dari itu tidak mungkin mebel mengkat daerah GO Nasional, sebab sudah tertiggal jauh baik nama, brand dan dari segi apapun," papar pak Jenggot.

Hasil karyanya, pernah masuk 25 besar pameran seluruh Indonesia. Yang mana, mampu mengalahkan seniman-seniman hebat dari kota-kota besar, yang tidak diragukan lagi dalam segi kualitas karyanya.

"Banyak seperti seniman asal Jogjakarta, Semarang, sudah mulai berjatuhan saat babak penyisihan dalam pameran seluruh indonesia," ujarnya.

Soal pemasaran, pak Jenggot biasanya menjual karyanya melalui media sosial dan ketika event-event besar seperti pameran. Selain itu, dirinya juga sering mengikuti pameran di luar Kabupaten Bojonegoro.

Saat ditanya terkait omzet hasil menjual kerjinannya tersebut, pak Jenggot enggan menjelaskan terperinci, karena tidak begitu ingat. Akan tetapi, dirinya mengatakan setiap pameran saja dirinya mampu meraup keuntungan 10 juta.

"Tergantung cuaca, kalo musim kemarau pendapatan menjanjikan, jika musim hujun meskipun itu even besar pendapatan ya menurun kadang hanya cukup untuk biaya tranportasi. Karena musim saat hujan, untuk mendapatkan stan jualan saja kadang kesulitan," ujar dia.

Harganya sendiri bervariasi tergantung kerumitan dalam pembuatanya, khusus untuk miniatur Harlay Davidson per unit seharga Rp 500 ribu sedangkan miniatur motor lainnya dipatok Rp 250 ribu. Sementara kerajinan lain yang juga digarapnya seperti miniatur kotak perhiasan dan kotak rokok dijual Rp 30 ribu sedangakan miniatur pesawat dan gandulan kunci Ro 15 ribu.

Dia berharap, pengrajin terutama Usaha Menengah Kecil Menengah (UMKM) Bojonegoro, jangan mudah putus asa jikalau pasar sedang mengalami ekonomi lesu, harus mencarau solusi berinovasi. "Kadang didaerah lain ada yang menarik kita kombinasikan dengan produk kita supaya lebih menarik lagi." tutup pria yang juga sebagai ketua Asosiasi pengrajin kayu (APIK) Bojonegoro itu.

(yud/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up