Dari Kompos yang Dibuat, Lahirlah Sajian Jamu untuk Para Pasien

21 November 2022, 14:34:30 WIB

Mau Akupunktur atau Hipnoterapi di Puskesmas Bangli Utara? Sediakan Dulu Sampah Organik

Puskesmas Bangli Utara di Bangli mengombinasikan layanan pengobatan tradisional yang diatur dalam peraturan gubernur (pergub) Bali dengan semangat menjaga lingkungan. Para terapisnya bersertifikat, tapi jumlahnya masih terbatas.

FERLYNDA PUTRI, Bangli

SUMERTADANA Gede Komang mempersilakan kami untuk mencicipi jamu yang disajikan dalam gelas-gelas. ”Jamu itu berbahan rempah dari kebun toga puskesmas kami, lho,” kata staf pengelola pengobatan tradisional Puskesmas Bangli Utara, Kabupaten Bangli, Bali, tersebut.

Kebun toga (tanaman obat keluarga) itu sekaligus mewakili inovasi puskesmas tersebut dalam membuat gebrakan layanan kesehatan. Penyubur berbagai tanaman di sana adalah sampah organik yang dibuat kompos. Sampah organik itu dibawa warga sebagai syarat untuk mendapatkan layanan pengobatan tradisional.

Bali adalah satu-satunya provinsi di mana pengobatan tradisional di berbagai fasilitas kesehatan diatur secara resmi lewat peraturan gubernur (pergub). Di Puskesmas Bangli Utara, layanan pengobatan tradisional yang tersedia adalah pijat, akupunktur, akupresur, dan hipnoterapi.

Puskesmas yang dipimpin Lalu I Made Arimbawa itu menambah inovasi dengan sampah organik agar bisa mengakses beragam layanan pengobatan tradisional tersebut. Kebetulan, sejak Februari tahun ini, desa-desa di sekitar Puskesmas Bangli Utara mulai memiliki program pemisahan sampah.

Sampah anorganik akan diberikan ke bank sampah untuk didaur ulang. Sementara itu, sampah organik ditujukan untuk pemupukan tanaman di kebun. ”Kan tidak semua orang punya kebun. Jadi, banyak sampah organik yang tidak dimanfaatkan,” ujar Sumertadana kepada rombongan yang dipimpin Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti saat berkunjung ke sana pertengahan bulan lalu (13/10).

Kepala Puskesmas Lalu I Made Arimbawa memiliki ide untuk mengolaborasikan pengobatan tradisional dengan sampah organik. Program pun segera disusun. Yang utama adalah manajemen di internal puskesmas.

Setelah itu beres, mereka melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Respons positif pun didapat. Menurut Sumertadana, masyarakat antusias karena mengumpulkan seember sampah organik yang bisa diperoleh dari sisa dapur bukan hal sulit. Toh selama ini juga tidak dimanfaatkan. ”Maret akhirnya mulai jalan,” ucapnya.

Semula, sampah organik itu akan digunakan untuk pupuk di kebun toga puskesmas. Namun, lama-kelamaan kebun itu tak mampu menampung semua kompos dari sampah organik pasien.

Akhirnya dilakukan perjanjian dengan dua kelompok tani. Mereka akan menerima sampah organik untuk dijadikan kompos. Sebagai gantinya, kedua kelompok tani memberi uang seikhlasnya yang nanti digunakan untuk masyarakat yang berobat. ”Dari masyarakat dan dapat dimanfaatkan untuk masyarakat,” imbuhnya.

Kendala dalam praktik layanan pengobatan tradisional tentu saja ada. Misalnya, terbatasnya jumlah pasien yang bisa dilayani saat layanan disediakan tiap Rabu. Selain belum semua warga tahu, jumlah terapisnya juga terbatas.

Hipnoterapi, misalnya, dikerjakan kepala puskesmas. Lalu, akupunktur dilakukan oleh dokter gigi. Meski seluruh terapis punya sertifikat, mereka juga memiliki kewajiban pekerjaan lain.

Belum lagi ketersediaan fasilitas penunjang untuk melakukan pengobatan tradisional. Di antaranya, jarum akupunktur, alat pijat, dan benda habis pakai lainnya. ”Ada dana dari BPJS Kesehatan yang bisa dipakai,” tuturnya.

Layanan pengobatan tradisional itu tidak berjalan sendiri-sendiri dengan pengobatan modern. Keduanya berkolaborasi. Sumertadana mencontohkan, pasien hipertensi yang akan pijat dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan tensi. ”Penyakit yang dikeluhkan harus checkup dulu,” jelasnya.

Arimbawa menyebutkan, layanan kesehatan harus memiliki inovasi untuk menarik minat masyarakat. Terutama peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program menukar seember sampah organik yang digagasnya itu juga bertujuan menjaga lingkungan. ”Angka kontak kami 150 orang per mil, seperti yang diminta BPJS Kesehatan,” paparnya.

Cakupan tersebut menjadi indikator penilaian kinerja fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas. Sejauh ini, dengan total 15.030 peserta JKN di wilayah Puskesmas Bangli Utara, ada 30 kunjungan per hari.

Sebenarnya ada program lain yang juga dilakukan. Yakni, pengelolaan penyakit kronis dan program rujuk balik. ”Inovasi berbasis digital juga dikembangkan. Terutama untuk mengakses layanan kesehatan,” terang Arimbawa.

Dirut BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mendukung upaya inovasi di Puskesmas Bangli Utara. Terutama penguatan promotif dan preventif lewat pengobatan tradisional. ”Apalagi, ada kolaborasi dengan program kesehatan lingkungan. Ini bisa diterapkan FKTP lainnya,” ungkapnya.

Jamu yang kami teguk siang itu adalah buah dari kolaborasi yang dimaksud Ghufron. Minuman itu juga tersedia untuk para pasien. Di tempat lain, siapa tahu, jika kolaborasi serupa diterapkan pula bisa menelurkan produk yang lain lagi.

INOVASI DAN KOLABORASI: Drg I Nyoman Pande Sutama memberikan terapi akupuntur kepada pasien di Puskesmas Bangli Utara, Bali. (Dokumentasi Sumertadana Gede Komang)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c18/ttg

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads