alexametrics

Terlalu Banyak Kasus Kekerasan Seksual di Kampus yang Tak Tuntas

21 November 2021, 20:43:35 WIB

SEIRING dengan bergulirnya polemik Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021, media terus memunculkan kasus-kasus kekerasan seksual. Baik yang terjadi di lingkungan pendidikan, di tempat kerja, maupun di rumah. Kasusnya terus bertambah. Pandemi Covid-19 membuatnya makin parah.

Namun, yang muncul di hadapan publik itu hanyalah puncak gunung es. Ada jauh lebih banyak kasus yang tidak terpublikasi karena sistem penanganan di Indonesia belum komprehensif. Pernyataan itu disampaikan Koordinator Pelaksana Harian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) Khotimun Sutanti dalam wawancara dengan Jawa Pos pada Kamis (18/11).

Perempuan yang akrab disapa Imun itu menyatakan, kantor perwakilan LBH APIK di 16 provinsi pernah menangani kasus kekerasan seksual di kampus. ”Memang kasusnya banyak. Tapi, lebih banyak yang tidak terselesaikan,” ujarnya.

Sebagian besar kasus dugaan kekerasan seksual di kampus menguap tanpa penyelesaian yang berkeadilan. Beban yang ditanggung korban terlalu besar. Beban itu, menurut Imun, bahkan muncul sejak pelecehan terjadi. Umumnya, korban tidak tahu harus mengadu ke mana. Itu wajar. Sebab, sampai hari ini pun, mayoritas kampus tidak punya standard operating procedure (SOP) yang jelas.

”Mau mengadu ke mana yang menjamin rasa aman? Yang seperti itu sering menjadi kekhawatiran korban,” ungkap Imun.

Pada saat yang sama, korban menanggung beban psikologis. Trauma, takut, dan khawatir. Itu diperparah sikap kampus yang biasanya cari aman. Hanya menempatkan diri sebagai lembaga pendidikan tanpa mau tahu kasus-kasus kekerasan di sana. ”Kadang kampus khawatir nama baiknya menjadi buruk karena terjadi kekerasan seksual di sana,” paparnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : far/c14/hep




Close Ads