alexametrics

Empat Bulan Cari Pekerjaan Tak Kunjung Dapat, Beralih Buka Usaha

21 Oktober 2020, 07:48:35 WIB

Pandemi Covid-19 memukul kondisi ekonomi masyarakat. Banyak pekerja yang dirumahkan lantaran kondisi perusahaan merugi. Misalnya, yang dialami Lianawati Kusumaningtyas. Perempuan yang akrab disapa Tyas itu sebelumnya berkerja di perusahaan advertising. Kini dia terpaksa memutar otak untuk bertahan.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

Begitu sampai di halaman rumahnya yang beralamat di Medayu Selatan XVI Blok P Nomor 4, Kelurahan Medokan Ayu, tercium aroma yang begitu sedap. Setelah masuk, ternyata tumpukan bawang di baskom dan bawang merah yang sudah dikupas tersusun rapi di atas meja. Tyas bersama ibunda, Budiarti, lantas berbagi tugas.

’’Saya mengiris bawang dengan alat pengiris ini. Ibu yang menggoreng,” kata perempuan 33 tahun itu sembari bekerja.

Sesekali, Tyas bergerak ke belakang untuk membantu penggorengan. ’’Prosesnya tidak terlalu lama. Setelah matang, langsung ditiriskan. Tunggu lima menit, lalu dimasukkan dalam stoples,” ujarnya.

Stoples yang digunakan, antara lain, berukuran 50 gram, 100 gram, hingga 150 gram. ’’Tiap stoples dikenai harga berbeda,” ungkap dia. Yang berisi 50 gram Rp 8 ribu, 100 gram Rp 15 ribu, serta 150 gram Rp 20 ribu.

Inspirasi pembuatan bawang goreng sebenarnya muncul setelah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami Tyas. ’’Saya diberhentikan pada April lalu. Sudah merasa enggak enak sejak akhir Maret,” ujar alumnus Manajemen Pemasaran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jatim itu.

Saat itu, di grup WhatsApp, mulai tidak ada pembahasan soal bisnis di kantornya yang meredup. Hal tersebut menimbulkan rasa waswas di kalangan 45 karyawan, termasuk Tyas. ”Pemutusan hubungan kerja dilakukan secara serempak.

Gaji kita dibayar kemudian. Tapi, usaha memang sudah tidak ada lagi. Putus.. tus… tus,” katanya.

Setelah diberhentikan, dia lantas mencoba cari pekerjaan lain. Selama empat bulan, apa yang diharapkan tak kunjung tiba. ’’Bosan dengan keadaan seperti itu, saya pun coba buka usaha yang setidaknya bisa menghasilkan,” ujar Tyas. Usaha bawang itu muncul setelah ada seorang teman yang menjajakan bawang goreng kepada saudaranya. ’’Saya tes. Terus, langsung muncul ide. Saya bilang ke ibu. Ternyata oke. Jadilah seperti ini,” tuturnya sembari menunjukkan bawang goreng yang sudah dikemas.

Sekarang produk tersebut masih dipasarkan secara terbatas. Mulai ke tetangga hingga teman-teman di grup WhatsApp. ”Ibu saya juga kader Bumantik Rungkut Kidul dan anggota fasilitator kelurahan. Jadi, memanfaatkan jejaring yang ada,” ujarnya.

Nah, ke depan dia berniat mengembangkan produknya lebih luas. ’’Pemasarannya dikonsentrasikan lewat media sosial,” tambahnya.

Tyas berkeinginan produknya bisa dinikmati banyak orang. Dia mengklaim rasanya berbeda dari yang lain. ’’Saya pakai bawang Bojonegoro. Ini yang terbaik,” ucapnya. Sebelumnya, dia mencoba menggantinya dengan bawang dari Nganjuk. ’’Rasanya beda. Konturnya juga agak basah. Tidak kering. Saya kembali lagi pakai bawang Bojonegoro,” ucap dia.

Respons pelanggan ternyata bagus. Banyak yang order untuk kebutuhan sehari-hari. ”Nah, pesanan disesuaikan dengan keinginan pelanggan. Tapi, kami coba produksi secara rutin. Seminggu bisa hasilkan puluhan kilogram,” tambahnya. Usaha itu sudah jalan satu setengah bulan.

”Keuntungannya sudah mencapai Rp 400 ribu. Hal ini membuat kami kian termotivasi,” kata Tyas.

Ke depan, yang juga perlu diperhatikan adalah soal pengemasan. ’’Saat ini masih sederhana. Bawang gorengnya dinamai Ambyar. Soalnya, ibu penggemar almarhum Didi Kempot,” ucap dia sembari menunjukkan kemasan.

Pernak-pernik dan tagline produk yang menarik juga perlu dimatangkan. ’’Yang utama bisa menghasilkan dulu,” katanya.

Sementara itu, Budiarti mengakui sulit rasanya menerima kondisi Tyas. Sebelumnya, biasa menerima gaji setiap bulan kini harus memutar otak untuk mencari penghasilan. ’’Tapi, saya yakin di setiap masalah, ada solusi yang diberikan oleh Allah. Ternyata, ini jalannya,” kata dia.

Butuh usaha yang tak mudah untuk bisa recovery dari kondisi pasca pemutusan hubungan kerja yang dialami Tyas.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/git



Close Ads