JawaPos Radar

Cerita Minggu

Sulawesi Tengah Bangkit, Patah Tumbuh Hilang Berganti

Gelar Penikahan di Pengungsian

21/10/2018, 13:06 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sulawesi Tengah Bangkit, Patah Tumbuh Hilang Berganti
JADI PERHATIAN WARGA: Pasangan kekasih mengabadikan moment di Jembatan Palu IV, Palu, Sulawesi Tengah, sesaat setelah melangsungkan prosesi pernikahan, Kamis (18/10). (Mugni Supardi/Radar Sulteng/Jawa Pos Group)
Share this

Pernikahan-pernikahan di tempat pengungsian bukan unjuk kegembiraan di tengah kedukaan. Tapi, untuk mengirim pesan: warga Palu dan Sulawesi Tengah harus bangkit dari kesedihan.

MURTALIB, Palu

---

Sulawesi Tengah Bangkit, Patah Tumbuh Hilang Berganti
PALU BERZIKIR: Warga Kota Palu, Sulawesi Tengah, memadati pesisir Teluk Palu dalam kegiatan Palu Berzikir, Jumat (19/10). (Mugni Supardi/Radar Sulteng/Jawa Pos Group)

BENDERA putih berganti hiasan pernikahan. Makanan-minuman sekadarnya ditata secara sederhana. Tak ada alat pengeras suara. Tapi, pada Kamis lalu (18/10) itu, setidaknya untuk sejenak, duka menjauh.

Dari tempat pengungsian di kawasan Jalan Zebra, Palu. Berganti dengan suasana sakral dan rasa syukur.

Saat Muhamad Rizal Suleman dan Inne Chyntia resmi menjadi suami istri. Dalam sebuah ijab kabul yang tak sempat disaksikan keluarga besar dari kedua pihak.

"Ini bukan unjuk kebahagiaan kepada orang lain (yang sedang berduka). Tapi, untuk menunjukkan, kita tidak boleh terus larut dalam kesedihan dan harus bangkit," kata Muchtar Daeng Bella, ayah Inne, kepada Radar Sulteng.

Di tempat pengungsian Jalan Zebra itu memang berkumpul para korban gempa dan tsunami yang menghembalang Palu. Rumah Muchtar dan keluarga juga rusak parah akibat bencana yang terjadi pada 28 September lalu itu.

Tapi, hidup tentu tak lantas boleh berganti. Pernikahan Rizal dan Inne, juga Sudirman dan Sitti Aminah dua pekan sebelumnya di tempat pengungsian di Terminal Mamboro, adalah upaya untuk bangkit. Meminjam petikan lirik duo Banda Neira, "yang patah tumbuh, yang hilang berganti."

Dan di Palu, juga di Donggala serta Sigi yang terpapar bencana serupa, tanda-tanda kebangkitan itu tampak nyata. Wartawan Jawa Pos Hesti Edi Sudrajat dan Ghofur Eka yang menyusuri pesisir timur dan barat Sulawesi Tengah sepanjang pekan lalu menyaksikan bagaimana rumah sakit terus beroperasi, pasar menggeliat, bank dan pusat perbelanjaan kembali buka.

Tapi, tentu tanda-tanda kebangkitan itu tak selalu harus diasosiasikan dengan "tempat publik" atau "sesuatu yang masif". Sekecil apa pun geliat di tempat-tempat pengungsian, seperti pernikahan atau kelahiran, harus dibaca pula sebagai sinyal atau upaya untuk lepas dari timbunan kedukaan.

Di Terminal Mamboro pada 4 Oktober lalu Sudirman dan Sitti Aminah membuktikan itu. Rumah keluarga mereka rusak dihajar gempa dan tsunami enam hari sebelumnya. Kelurahan Mamboro, khususnya RT 002, RW 001, tempat berdomisili pasangan itu, merupakan salah satu wilayah di jalur trans-Sulawesi yang terparah kondisinya.

Tapi, dengan segala kebersahajaan, pernikahan tetap mereka langsungkan. "Hanya akad nikah, sederhana, namun penuh kebahagiaan. Kedua orang tua kami juga ada karena mengungsi dalam satu tenda," kata Sudirman kepada Radar Sulteng.

Jauh sebelumnya, pernikahan itu sebenarnya dirancang akan dihelat pada 1 Oktober. Tapi, malang tak dapat ditolak. Bencana menimpa.

Sebagai ketua RT, Sudirman tentu tak bisa hanya memikirkan kepentingan pribadi. Dia harus mendata dan melaporkan nasib warganya ke pemerintah kelurahan. Selain tentu mencarikan kebutuhan logistik mereka.

"Diundur ke tanggal 4 Oktober karena dari malam setelah kejadian bencana sibuk mencari warga yang menjadi korban gempa dan tsunami," tutur Sudirman.

Rizal dan Inne pun harus melupakan mengirim undangan yang sebenarnya telah dicetak.

Termasuk rangkaian acara yang dimulai dengan mapaci, yakni tradisi di malam sebelum pernikahan ketika pengantin wanita menghabiskan waktu bersama keluarga. Akhirnya malam mapaci justru dilewati pengantin wanita dengan memasak konsumsi untuk para pengungsi lain.

Baju pengantin yang sudah dipilih sejak lama juga tidak dapat dipakai. "Sebenarnya ada dua baju adat yang akan kami gunakan saat ijab kabul dan duduk bersanding, Bugis dan Gorontalo. Tidak masalah dan tetap bersyukur kami masih diberi kesempatan bisa melaksanakan akad nikah meski dalam pengungsian," kata Rizal.

Sebagai wujud syukur, setelah ijab kabul, pengantin baru tersebut berswafoto di beberapa ikon Palu yang turut terkena dampak gempa dan tsunami. Misalnya, masjid terapung, patung kuda, dan puing-puing Jembatan Ponulele.

"Kami ingin memotivasi warga Palu khususnya dan masyarakat Sulteng umumnya agar bangkit dari kesedihan," kata Rizal.

Ya, yang hancur lebur, kembali mengutip Banda Neira, akan terobati. "Yang pernah jatuh 'kan berdiri lagi//Yang patah tumbuh, yang hilang berganti." 

(*/c10/ttg)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up