Jejak Kisah Cinta Soekarno dan Haryati di Omah Kenangan

Surat Cinta Ditulis dalam Bahasa Jawa
21 September 2022, 07:48:06 WIB

Rumah di Jalan Cipunegara, Surabaya, menjadi salah satu lokasi untuk mengenang kisah asmara Presiden Pertama RI Soekarno dengan Haryati. Surat, foto, hingga lukisan terpajang dengan rapi di rumah milik Suherlin, kakak Haryati. Saat ini rumah tersebut difungsikan sebagai rumah makan dengan nama Omah Kenangan.

RAMADHONI CAHYA C., Surabaya

HARYATI. Mungkin banyak orang yang tidak tahu siapa dia. Sebab, dia jarang diekspos media. Padahal, Haryati adalah istri keenam Presiden Pertama RI Soekarno. Kisah cinta mereka pun tak kalah manis dengan kisah Romeo dan Juliet.

Soekarno sering kali menuliskan surat cinta dengan diksi indah. Membuat siapa pun yang membaca turut terbuai dengan goresan penanya. Memori kisah asmara itu dapat ditemukan di Kota Pahlawan. Tertata rapi pada salah satu rumah di Jalan Cipunegara.

Rumah itu adalah milik Suherlin yang merupakan kakak Haryati. Rumah yang saat ini difungsikan sebagai rumah makan oleh Eni Wisnu Wardhani, keponakan Haryati.

Sejumlah surat cinta tersebut terpajang dengan rapi di dinding rumah makan berjuluk Omah Kenangan itu.

Surat ditulis dalam bahasa Jawa. Kosakatanya halus karena menggunakan krama inggil. Pada bagian kop surat ada tulisan Istana Presiden Bogor. Juga dibubuhi tulisan ajudan presiden. Ada pula lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila, di dalamnya. Eni –sapaan akrab Eni Wisnu Wardhani– mengaku mengetahui keberadaan surat itu saat dirinya dan keluarga sedang membersihkan rumah.

Saat ditemukan, surat tersebut sudah berwarna cokelat. Bagian pinggirnya sudah lapuk. Eni pun memutuskan untuk merapikan dan menyimpan surat tersebut. Sebelum akhirnya memajang surat itu dalam pigura hingga sekarang. Eni mengatakan tak mengetahui asal usul surat tersebut di Omah Kenangan. ’’Saya juga tidak pernah konfirmasi ke beliau (Haryati, Red),’’ ungkap Eni saat ditemui Sabtu (17/9).

Bukan hanya surat cinta. Di rumah itu pula, foto hingga lukisan Haryati dan Soekarno terpampang rapi dalam bingkai. Tampak pula foto yang memperlihatkan keluarga besar Haryati sedang makan bersama Soekarno di Istana Bogor. Menurut Eni, beragam potret tersebut terpajang sejak 50 tahun lalu.

Secara rutin, setahun sekali Eni membersihkan foto-foto tersebut. Dia memotret terlebih dahulu setiap sisi foto sebelum dibersihkan. Tujuannya, tidak lupa dengan letak penempatan foto awal. ’’Saya juga kurang tahu asal usul foto hingga surat itu bagaimana,’’ ungkapnya terus terang.

Eni berencana tidak memajang lagi surat cinta Soekarno. Banyak saran dari berbagai orang untuk mengamankan dokumen tersebut. Dikhawatirkan, ada orang yang memiliki maksud tertentu dan mengambilnya secara ilegal. Selain itu, surat tersebut merupakan memori keluarganya yang tak ternilai. Termasuk potret kenangan yang belum berwarna itu. ’’Di rumah keluarga yang lain juga ada foto seperti ini. Tidak hanya di sini,’’ terang perempuan 64 tahun itu.

Banyak orang yang salah mengira Omah Kenangan adalah peninggalan Haryati. Padahal, rumah tersebut adalah milik pribadi keluarga Eni. Salah kaprah tersebut bermula ketika seorang content creator memberikan narasi tak sesuai dengan fakta. Hingga, ibu dua anak itu berkali-kali menjelaskan kepada pengunjung ataupun keluarga lain untuk meluruskan informasi yang salah.

Salah persepsi tersebut juga memunculkan cerita-cerita unik. Pengunjung jadi lebih sopan saat bertandang ke rumah itu. Bahkan, Eni pun sempat dikira dan dipaksa mengaku sebagai Haryati. Padahal, Haryati sendiri banyak menghabiskan waktu tidak di rumah itu. ’’Dulu, kalau tante (Haryati) datang ke sini biasanya juga mau nyekar ke nenek saya,’’ terang alumnus SMP Negeri 10 Surabaya itu.

Sepengetahuan Eni, Soekarno tak pernah berkunjung ke rumah di Jalan Cipunegara. Namun, Eni ingat Soekarno pernah meminta dibawakan lontong kupang kepada Suherlin saat ke Istana Presiden. Sementara itu, makanan kesukaan Haryati adalah botokan iwak pe (ikan pari) yang juga menjadi menu masakan yang terletak di lantai 2 rumah makan tersebut.

Eni tak punya niat menggunakan nama besar sang proklamator atau Haryati untuk meramaikan usaha yang dibuka sejak Februari lalu. Menurut dia, kondisi rumah memang sudah seperti itu sejak dahulu. Dia pun sempat mendapat tawaran untuk mengubah rumah tersebut menjadi museum atau bangunan cagar budaya.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/may

Saksikan video menarik berikut ini: