alexametrics

Mengunjungi Gadukan Utara yang Punya IPAL dan Kebun Sayur Mandiri

Boleh Petik, Tukar Sampah Daur Ulang
21 September 2019, 20:48:54 WIB

Gemas karena selalu disalahkan atas sampah dan bau di boezem Morokrembangan, warga Gadukan Utara yang menghuni kawasan tersebut berbenah. Mereka merancang instalasi pengolahan air limbah (IPAL) mandiri dan kebun sayur yang kini manfaatnya mulai terasa.

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

BOEZEM Morokrembangan pernah disorot pemerintah pusat gara-gara kondisinya yang memprihatinkan. Selain berbau tak sedap, tempat penampungan air terbesar di Surabaya itu disesaki lumpur dan sampah. Puntung rokok, plastik, dan popok masuk tak terbendung. Warga yang tinggal di sekitarnya pun kena tegur.

Tak mau terus-menerus disalahkan, mereka berbenah. ’’Sejak itu, kami semua berkomitmen untuk berbenah. Sebisa mungkin menata kampung,” kata Paino, ketua RT 11 RW 5, Kelurahan Morokrembangan, saat ditemui di rumahnya pekan lalu.

Bersama warga, dia menggalakkan program kebersihan. Mulai memasang papan larangan membuang sampah ke boezem hingga mengevaluasi sampah dan air limbah rumah tangga yang masuk keboezem ”Saya berpikir keras. Entah bagaimanapun caranya, air dari warga tak boleh mengalir ke boezem,” ungkap Paino.

Satu-satunya ide adalah membendung selokan. Namun, ternyata itu bukan perkara mudah. Sebab, tidak ada tempat penampungan air yang memadai. Memang ada sungai. Namun, posisinya cukup jauh. ”Muncul inisiatif untuk membuat IPAL pada 2017,” terangnya.

Mereka langsung gerak cepat karena mendapatkan hadiah sebagai pemenang kompetisi yang diadakan pemkot dan Jawa Pos untuk kategori Kampung Berbunga. Berbekal keahliannya mengelas, bapak dua anak itu merancang IPAL mandiri untuk kampungnya. Paino memanfaatkan besi dan tong bekas berkapasitas 200 liter. Ada dua lokasi yang dipasangi. Satu di pintu masuk, satu lagi di pintu keluar gang.

”Biayanya hanya sekitar Rp 700 ribu. Jauh dari IPAL bantuan pemerintah yang nilainya sampai puluhan juta,” kata Paino sambil tersenyum. Lelaki itu lantas menerangkan cara kerja IPAL buatannya. Yakni, air dari selokan disedot dengan slang, lalu disaring dua kali dengan kulit kelapa. Air hasil pengolahan lantas dihubungkan ke rumah warga untuk menyirami tanaman satu kampung.

Karena air produksi IPAL sangat banyak, warga memunculkan ide untuk membuat kebun mini. Air IPAL dipakai untuk menyirami kebun setiap hari. Lelaki itu mengajak Jawa Pos melihat kebun bikinan masyarakat Gadukan Utara yang memiliki luas sekitar 400 meter persegi. Ada ratusan pot plastik yang ditata di kebun tersebut. Masing-masing berisi satu tumbuhan.

Paino menuturkan bahwa saat ini ada 20 jenis sayuran di kebun yang dibikin sejak akhir 2018 itu. Mulai kacang panjang, sawi, kangkung, okra, hingga bayam. Sayuran dipanen hampir setiap minggu. Warga juga didorong untuk membikin kompos. Dari satu RT, sudah ada 20 warga yang aktif memproduksi kompos.

Meski tanaman di kebun sudah berkali-kali dipanen, hasilnya belum diperjualbelikan secara bebas. Sayuran masih dinikmati masyarakat sendiri. ”Tapi, warga juga tidak gratis saat memetiknya. Mereka harus setor sampah sebagai komitmen untuk menjaga kebersihan,” tegas Paino. Sampah yang disetor tidak sembarangan. Hanya sampah yang bisa didaur ulang. Sampah tersebut lantas dikelola bank sampah yang mereka miliki.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c6/any



Close Ads