alexametrics

Semalam Merasakan Kesederhanaan Suku Tradisional di Wamena, Papua

Lahap Makan Ubi Lauk Udang Selingkuh
21 Agustus 2017, 18:25:48 WIB

Masyarakat suku tradisional Wamena masih memegang teguh adat istiadat meski sebagian sudah tersentuh modernisasi. Bagi mereka, tradisi lokal adalah harga diri yang harus dipertahankan.

FERLYNDA PUTRI, Wamena

PERKENALAN dengan Lusi Lakobal membawa saya merasakan sehari-sehari menjadi masyarakat Wamena. Tepatnya di Distrik Asolokobal, sekitar 45 menit bermobil dari Kota Wamena. Lusi merupakan istri keempat di antara tujuh istri Moke Lanni, kepala suku di Distrik Asolokobal. Sehari-hari dia bekerja di kebun dan bersama istri lain kepala suku bertugas memasak dan mengurus rumah adat Papua atau honai. Sesekali dia ke Kota Wamena untuk membantu salah seorang dokter.

Semalam Merasakan Kesederhanaan Suku Tradisional di Wamena, Papua
ALAMI: Wartawan Jawa Pos bersama Lusi Lokobal (menunjuk) di halaman rumah honai di distrik Asolokobal kampung Yapema Kabupaten Jayawijaya. (Guslan Gumilang/Jawa Pos/JawaPos.com)

”Kita ke dekat gunung itu,” katanya sambil menunjuk sebuah bukit kecil di sisi utara Kota Wamena. Kata dia, perjalanan sekitar sejam dengan menggunakan mobil. Dia bersama Sarina Wetipo dan nenek Nyesaleke. Sarina adalah istri ketiga Moke Lanni. Mereka bertiga ke kota untuk kontrol katarak mata Sarina dan nenek Nyesaleke.
Sepanjang perjalanan, jalan terasa bergelombang tak rata. Sebagian lagi jalan tanah atau batu. Mobil harus pelan-pelan. Selain jalan yang tidak bagus, takut babi lewat. Bisa celaka ketika ada babi yang tertabrak. Ganti ruginya mahal sekali. Untuk babi betina, dihitung per puting susu. Bisa sampai Rp 30 jutaan.

Nenek Nyesaleke rupanya baru pertama naik mobil. Dia yang duduk di belakang tak tenang. Tak mau bersandar di jok. Tangannya menggenggam erat kursi tengah. ”Nenek mau gula-gula kah?” tanya saya yang kemudian diterjemahkan Lusi. Nenek Nyesaleke yang berusia 70 tahun itu tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Nenek menganggukkan kepala. Saya beri dua permen. Tapi, dia tetap masih terlihat panik. ”Nenek bilang nanti malam dia pasti mimpi (buruk, Red),” kata Lusi menerjemahkan ucapan nenek.

Tak terasa mobil semakin masuk ke pedalaman. Jalan aspal sudah jauh di belakang. Kanan dan kiri ilalang. Satu dua rumah dilewati. Di depan jalan sudah buntu. Ada pagar menghalangi jalan. Di situ tidak terlihat satu rumah pun. Hanya satu bangunan di balik pagar yang saya yakini bukan rumah Lusi. Sebab, rumah Lusi merupakan honai. Tak beberapa lama, laki-laki gimbal keluar. Di tangan kirinya ada parang.

Dia lantas membukakan pagar kayu. Mobil masuk. Lelaki itu bernama Tele. Adik kandung Lusi. Tele mempersilakan mobil masuk dan mengarahkan agar masuk di jalan tanah yang tak lebih dari 4 meter. ”Kita jalan tak jauh ya,” kata Lusi. Dia kemudian melangkah di depan kami menuju jalan setapak. Agak masuk, ada sungai kecil. ”Ini bisa diminum langsung. Dingin,” tuturnya saat melewati jembatan. Air sungai itu memang bening.

Dia menuntun kami ke jalan yang lebih kecil. Kanan dan kirinya ditumbuhi ilalang setinggi lutut. Pada salah satu tanjakan, ada tanah yang sudah dibersihkan dari ilalang. Ukurannya sekitar 7 x 10 m. Menurut cerita Lusi, tanah itu akan dijadikan masjid oleh kepala suku. Kepala suku memang beragama Islam. Selama ini untuk menjalankan salat harus ke kampung sebelah yang jaraknya cukup jauh.

Perjalanan dilanjutkan. Kali ini kami harus melompati pagar kayu setinggi 1 meter. Pagar tersebut digunakan untuk membatasi wilayah honai yang dimiliki satu keluarga. Memang tidak ada jalan memutar. Jalan setapak itu satu-satunya. Lusi, Sarina, Tele, bahkan nenek Nyeselake begitu lincah naik turun pagar. Lusi malah menawarkan membawakan tas milik fotografer Jawa Pos Guslan Gumilang yang berisi kamera plus dua lensa yang beratnya lumayan. Namun, Lusi terlihat enteng membawanya dengan dicantolkan di atas kepala.

Ada empat honai yang kami lewati hingga akhirnya sampai di rumah Lusi. Ada dua honai berbentuk memanjang. Di tengah ada honai berbentuk seperti jamur seperti biasa di buku pelajaran IPS. Honai berbentuk jamur itu khusus untuk laki-laki. Sedangkan yang perempuan tinggal di honai panjang.

Dinding honai terbuat dari papan kayu. Beratap ilalang. Lantainya adalah tanah yang beralas rumput kering. Tidak ada ventilasi. ”Masuk,” kata Lusi sambil menggerakkan tangannya. Dia mengajak melihat honai perempuan atau dalam bahasa mereka disebut ewe ai. Untuk masuk honai, alas kaki harus dicopot.

Honai perempuan dibagi tiga tempat. Sisi pinggir kanan dan kiri digunakan untuk tidur. Tempatnya bertingkat. Bagian bawah biasanya untuk masak. Karena itu, ada perapian di tengah. Selain untuk memasak, perapian dipakai untuk menghangatkan honai. Sebelum tidur, perapian dinyalakan sehingga asapnya ke atas.

Di bagian atas, tempat tidur dialasi papan. Penerangan hanya mengandalkan satu lampu kecil di tangga. Lusi kembali mengajak tur di rumahnya. Kali ini di bagian tengah. Begitu pintu kecil dibuka, bau kotoran menyeruak. Bagian tengah digunakan untuk ternak babi. Setiap babi diberi kamar sendiri. Luas kandang babi lebih besar daripada kamar tidur. Di Kabupaten Jayawijaya babi memang menjadi ciri kekayaan sebuah keluarga. Semua kegiatan adat pun pasti menggunakan babi.

Tur terakhir adalah melihat honai laki-laki. Honai tersebut terletak di tengah-tengah. Berbeda dengan honai laki-laki yang sebelumnya saya lewati, honai itu cukup besar. Itulah honai adat. Memang di satu kampung hanya ada satu honai adat. Honai tersebut memiliki dua ruangan yang sama seperti honai perempuan untuk tidur. Hanya, honai itu lebih luas. Sebab, beberapa lelaki tetangga akan tidur di honai tersebut.

Di honai tidak ada bilik khusus. Lalu, bagaimana dengan pengantin baru? Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Lusi. ”Ya, nanti laki-laki datang ke ewe ai. Kan lampu dimatikan toh, jadi tidak terlihat,” jawabnya.

Dalam adat, kepala suku bisa memiliki lebih dari satu istri. Moke Lani saja memiliki tujuh istri. Anaknya sudah delapan. ”Ada orang tua yang membawa anaknya. Ada pula saya yang mau,” kata lelaki 50 tahun itu. Walaupun istrinya banyak, tidak ada yang cemburu. Hal tersebut diamini Lusi.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya Alpinus Wetipo mengungkapkan, dengan banyak istri, kepala suku tidak berarti memiliki nafsu besar. Sebab, tak jarang hanya satu atau dua istri yang diajak ”berhubungan”. ”Kegiatan banyak. Apalagi dulu yang masih suka perang, susah sekali untuk berhubungan suami istri,” tuturnya.

Hari menjelang sore ketika Lusi menyelesaikan tur di rumahnya. Babi-babi yang semula mencari makan sudah pulang kandang. ”Ush..ush..ush….” ucap Sarina. Salah satu babi mendekatinya. Sarina pun segera membukakan pintu kandang.

”Babi tidak bisa dengar kalau bukan mamanya yang panggil,” tutur Lusi. Perempuan di tempat tersebut memang dekat dengan babi. Saking dekatnya, babi-babi itu hanya menuruti apa yang dilakukan mamanya. Kalau sedang jalan, yang mereka ikuti adalah mamanya. Bahkan, dulu ada kebiasaan perempuan juga memberikan ASI ke babi. Namun, kebiasaan itu sekarang sudah jarang dilakukan.

”Ayo, kita cari udang selingkuh,” ajak Lusi. Udang selingkuh hidup di sungai atau kolam di pegunungan. Jika di restoran, harganya bisa mencapai Rp 300 ribu per porsi. Lusi berencana membuat hidangan udang selingkuh bakar. Lusi bersama Sarina dan Sonie Lani, anak tiri Lusi, mengajak kami ke kolam ikan. Jalan yang dilalui tidak berbentuk. Penuh rumput liar. Pohonnya pun tinggi-tinggi. Belum lagi udara dingin pegunungan yang menusuk kulit. Padahal, saya sudah mengenakan jaket, celana panjang, dan sepatu bot.

Kolam milik keluarga Lusi lebih mirip rawa. Untuk menangkap udang, airnya harus dikuras. Dibutuhkan waktu 1,5 jam untuk menghabiskan air. Begitu air habis, satu per satu udang muncul dari dalam lubang. Mereka lantas masuk kolam yang lumpurnya setinggi betis. Udang-udang ditangkap dan dimasukkan ember. Bentuk udangnya mirip lobster, tapi panjangnya tak lebih dari telunjuk laki-laki dewasa. Dinamakan udang selingkuh karena memiliki capit besar seperti kepiting. Selain udang, ada ikan mujair.

Setelah merasa cukup, Sarina membuat api. Daun, ranting, dan rumput kering dikumpulkan. Udang-udang dimatikan dengan diotong kepalanya. Sebelum dibakar, udang dicuci di sungai, kemudian langsung dimasukkan api. Tanpa bumbu. Lima menit berselang, udang mulai kecokelatan. ”Ini coba, manis,” ujar Lusi. Selingkuh yang ini enak rasanya.

Kami tidak lama-lama di dekat kolam. Hari sudah gelap. Kami segera kembali ke honai. Sesampai kami di honai, ternyata susana sudah ramai. Jika dihitung, seluruhnya 17 orang. Henya atau udang selingkuh yang kami dapat masih banyak. Untung, salah seorang istri kepala suku sudah membakar hipere atau ubi rambat. Kami makan bersama. Hipere lauk henya. Enak. Mungkin karena lapar.

Malam semakin ramai ketika beberapa lelaki datang. Mereka segera masuk ke honai laki-laki. Saya dan Guslan pun harus berpisah. Sebab, laki-laki dan perempuan tidak boleh tidur bersama. Angin masih bisa menyusup masuk ke honai. Jaket tak mau dilepas walau sudah di depan perapian. Tak ada hiburan kecuali obrolan. Mata pun cepat mengantuk kerena perut sudah kekenyangan.

Lusi mengantarkan ke atas. ”Sudah buka saja bajunya,” kata Lusi. Dia menjelaskan bahwa kebiasaan mereka tidur hanya menggunakan underwear. Api yang berada di bawah kamar tidur membuat hangat. Belum lagi tidur harus berimpit-impitan. Tapi, saya tidak menuruti kata Lusi. Apalagi, salah seorang dokter yang ditemui sebelum menginap bilang di honai ada kutu babi. Kutu tersebut jika menggigit, gatalnya susah hilang. Bisa sampai korengan.

Satu per satu penghuni kamar datang. Di kamar saya ada enam orang. Ruangan tidak besar sehingga posisi tidur pun harus diatur. Beruntung pas. Ya, memang susah untuk bergerak dengan leluasa. Semua membuka pakaiannya. Lampu dimatikan. Gelap. Suara obrolan orang-orang mulai hilang. Diganti dengan suara babi yang ribut. Mata dipaksa terpejam karena sudah tak ada hiburan. Sinyal handphone timbul tenggelam.

Asap dari perapian di bawah ternyata memang menghangatkan. Belum lagi tidur dengan penuh orang. Saya tidak tahu bagaimana kondisi Guslan di honai laki-laki. Pagi memang lama datang. Beberapa kali saya terbangun, ternyata belum pagi juga. Semakin larut, dingin semakin menggelayut. Hidup dengan segala keterbatasan memang tidak mudah.

Namun, semua harus dijalani dan dibuat indah. Penduduk pelosok Kota Wamena bertahan dengan alamnya yang ramah. Tak perlu banyak polah, mereka selalu yakin bahwa Tuhan Maha Pemurah.

Editor : Suryo Eko Prasetyo

Reporter : (*/c10/oki)


Close Ads
Semalam Merasakan Kesederhanaan Suku Tradisional di Wamena, Papua