alexametrics

Timsus Asusila, Blusukan ke Hotel dan Kos untuk Bongkar Kejahatan

Jadi Tempat Curhat Korban Pelecehan Seksual
21 Juli 2019, 20:48:42 WIB

PARA polisi ini keluar masuk hotel, wisma, sampai kos-kosan. Yang dicari, para pelaku tindak pidana asusila. Enam anggota Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya itu bertekad menekan angka kejahatan seksual.

ARIF ADI WIJAYA, Surabaya

Braaakkk…!!! Suara pintu didobrak itu memecah keheningan di lorong kamar hotel di Jalan Kedungsari pada Minggu (7/7). Tiga orang tanpa pakaian kelabakan di dalam kamar yang dibuka paksa tersebut. Mereka mencari tempat bersembunyi saat Timsus Asusila Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya itu datang.

Ketua Timsus Asusila AKP Ruth Yeni bersama Wakatimsus Iptu Harun sempat melihat adegan mesra yang dilakukan dua lelaki dan satu perempuan paro baya tersebut. Mereka diminta segera mengenakan pakaian dan keluar dari kamar.

Itulah gambaran suasana penggerebekan yang dilakukan timsus asusila saat menangkap Muhammad Amin Santoso. Amin sudah ditetapkan sebagai tersangka karena menjual istrinya untuk memberikan layanan threesome kepada lelaki hidung belang. ”Pemandangan seperti itu berdampak pada psikologis kami. Nggilani yang seperti itu,” ujar Ruth.

Ruth mengatakan, tidak semua anggotanya bisa masuk dalam tim tersebut. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya, profesionalitas tinggi dalam mengungkap perkara asusila Sebab, tidak semua orang sanggup menahan diri. Timsus asusila baru dibentuk dua pekan. Tepatnya 29 Juni lalu, sejak surat perintah diterbitkan Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho. Total ada lima anggota yang merupakan penyidik laki-laki. Selain Iptu Harun, anggota timsus asusila diisi Aipda Joko Trisno, Bripka Hendra Ari, Bripka Herly Parnoto, dan Brigadir Polisi Veldy Verdianto. Hanya Ruth yang perempuan di dalam tim tersebut. ”Karena saya komandannya,” kata kepala unit PPA itu.

Menggerebek pasangan mesum maupun penyedia layanan esek-esek di hotel, wisma di eks lokalisasi, maupun kos-kosan sudah menjadi rutinitas. Hampir setiap bulan, ada perkara asusila baru yang diungkap.

Menurut Ruth, pembentukan tim tersebut merupakan wujud reaksi atas maraknya kasus kejahatan asusila di Surabaya. Terhitung mulai Januari sampai awal Juli, kasus asusila yang ditangani mencapai 43 perkara. Kasus pencabulan menempati peringkat pertama dengan 20 perkara. Sementara itu, kasus perzinaan 12 perkara. Human trafficking 10 perkara dan pemerkosaan hanya 1 perkara.

Mantan perwira Unit Reskrim Polsek Wonokromo itu merasa prihatin dengan banyaknya kasus persetubuhan maupun pencabulan di Surabaya. Sebab, korbannya rata-rata masih anak-anak. Parahnya, sebagian pelaku merupakan orang dekat korban.

Dalam setiap pengungkapan kasus pencabulan atau persetubuhan terhadap anak, Ruth dan Harun kerap menjadi tempat curhat para orang tua korban. Khususnya saat mereka mengonfrontasi keterangan pelaku dan korban. Semua emosi dan kekesalan ditumpahkan.

Nah, Ruth dan Harun berperan sebagai penengah agar tidak sampai terjadi pertengkaran. Sebab, orang tua korban pasti tidak terima dengan perbuatan pelaku terhadap anaknya. ”Yang parah ketika pelaku adalah bapak kandung atau tiri korban. Ibu korban pasti minta cerai. Jadi, serbarumit, urusannya ke mana-mana,” katanya.

Karena itu, Ruth dan Harun yang merupakan perwira di unit PPA punya tugas khusus. Selain menyelidiki kasus asusila, keduanya harus bisa menyelesaikan masalah internal pelaku dan korban di luar perkara yang sedang ditangani. Tujuannya, penanganan perkara bisa berjalan lancar.

Ruth mengatakan, tim tersebut tidak berdiri sendiri. Anggota satuan pembinaan masyarakat (satbinmas) aktif memberikan imbauan melalui bhabinkamtibmas di setiap kelurahan. Setiap anggota sudah dibekali pengetahuan tentang antisipasi kejahatan asusila, khususnya yang berpotensi menimpa anak-anak.

Di sisi lain, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Sandi Nugroho yang menjadi penggagas tim tersebut menyatakan, kejahatan asusila menjadi fenomena gunung es di kota-kota besar. Tidak semua korban atau keluarga korban mau melapor ke polisi. Beberapa korban justru memilih diam dan menyimpan tindakan pelaku yang dianggap aib tersebut.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : */c7/git



Close Ads