JawaPos Radar

Sriyati Wanita Pandai Besi Asal Bojonegoro

Setia Belasan Tahun Menyulap Beragam Peralatan dari Besi

21/04/2018, 23:09 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Pandai Besi
TANGGUH: Sriyati bersama Masrum suaminya, bergantian memukul-mukul besi panas untuk dijadikan sebuah sabit, Sabtu (21/4). (Yudi Handoyo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Di sebuah gubuk yang tidak terlalu besar ukurannya. Suara besi beradu dengan besi nyaring bersaut-sautan. Tampak seorang perempuan dan pria tengah berjibaku dengan arang, alu, besi, gerinda, kikir, dan bara api. Mereka seolah tidak mempedulikan lingkungan sekitar dan fokus menyulap besi menjadi sejumlah peralatan.

Ya, disitulah Sriyati, warga Desa Desa Kedaton, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro menghabiskan hari-harinya menempa besi bersama suaminya. Perempuan berusia enam puluh tahun itu, setiap hari mengelola usaha pandai besi miliknya. Gubuk tempatnya bekerja itu berada persis di sebelah rumahnya.

Sriyati mempunyai empat pekerja, namun hanya dia satu-satunya perempuan yang ikut berjibaku memukul-mukul lempengan besi panas secara bergantian, dengan menggunakan palu besar berukuran sepuluh kilogram. Dengan cekatan beberapa peralatan dari bahan baku besi diselesaikannya.

Pandai Besi
Sriyati sedang membuat gagang sabit menggunakan mesin bubut yang dirakitnya sendiri, Sabtu (21/4). (Yudi Handoyo/JawaPos.com)

Masing-masing pekerja sudah hafal tugasnya masing-masing, ada yang memotong lempengan besi memakai alat manual, ada yang mengikir, ada pula yang membakar, dan memukul-mukul besi panas, dan menghaluskan serta mengoleskan besi yang telah berbentuk sabit dengan menggunakan gerinda.

"Semua saya bisa mengerjakan, dari proses awal sampai akhir. Mulai pemotongan, pembakaran, pemukulan, gerinda, ngikir, dan nyepuh atau finising, dan membuat gangang sabit. Memukul itu juga ada aturan, misal membuat pisau harus lima kali pukulan, sabit tujuh kali, dan golok delapan kali," tutur Sriyati, sembari tersenyum, Sabtu (21/4).

Palu-palu ini dipakai pekerja untuk membentuk besi menjadi alat-alat pertanian dan bangunan berbagai jenis. Dari tangan terampil perempuan itu pula, telah lahir ratusan berbagai macam peralatan serti sabit, golok, pisau, cangkul, sekrop, cetok, linggis, dan masih banyak produk lainnya.

"Pekerjaan ini, sudah saya lakoni sejak pengantin baru, tapi baru lima belas tahun terakhir saya serius terjun mengerjakan ini. Untuk membiayai anak-anak saya hingga lulus sekolah ya hasil dari kerja keras ini," terang perempuan empat anak itu.

Hal itu dilakukan untuk membantu suaminya, bernama Masrum, yang lebih dulu bekerja sebagai pemandai besi. Pria berusia lebih muda lima tahun dari istrinya itu terlihat lihai membuat sejumlah alat pertanian dan bangunan. 

"Dalam sehari, kita bisa memproduksi dua puluh lima sabit. Satu unit sabit seharga lima puluh ribu, golok enam puluh ribu, dan cangkul delapan puluh ribu. Harga itu untuk eceran, kalau untuk pedagang saya potong dua puluh ribu per buah. Ini bahan bagus, karena bahan-bahannya juga pilihan," tutup Masrum.

(yud/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up