alexametrics
Potret Nelayan Perempuan Demak

Nur Khafida, 4 Tahun Membelah Gelapnya Malam demi Keluarga Kecilnya

21 April 2018, 15:11:54 WIB

JawaPos.com – Gerakan emansipasi yang dipelopori oleh RA Kartini melahirkan perempuan-perempuan hebat di segala lini. Salah satu contohnya adalah Nur Khafida. Sekilas tidak ada yang istimewa dari penampakan perempuan asli warga Dukuh Tambakpolo, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak tersebut.

Namun siapa sangka, ibu dua anak ini rela mengarungi lautan dan menjadi nelayan tanggung dengan mempertaruhkan nyawanya demi kebutuhan keluarga kecilnya. Saban hari, perempuan berusia 35 tahun tersebut setia menemani suaminya, Musafikhin, 37 melaut.

Khafida boleh dibilang ibu luar biasa. Ia merupakan satu di antara 27 nelayan perempuan tangguh Tambakpolo yang setiap bertahan dengan profesinya sebagai nelayan, meski dalam kondisi tidak jelas.

Nelayan Perempuan Demak
Nur Khafida merupakan satu dari 27 nelayan perempuan di demak (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

“Ini saya baru pulang dari njaring rajungan juga ikan baung. Sama suami tadi” ujarnya, Jumat (20/4). Di dalam benaknya tidak ada keinginan untuk bersantai-santai di tengah jam-jam padat orang bekerja. Ia harus bergelut dengan malam demi kebutuhan anak-anaknya.

Setiap harinya, ia bersama suami membelah gelapnya lautan malam hanya dengan sebuah lampu petromak. Diarunginya air yang kadang tak tenang hingga sekitar jarak satu jam dari bibir pantai. Saat orang pada umumnya mulai terlelap, ia dan suami sibuk membentangkan jaring ikan untuk kemudian dipasang di puluhan titik di lautan. Tak kurang dari 60 gillnet atau jaring insang, ia pasang tiap harinya.

Menunggu hingga paling tidak sang fajar mulai mengintip, barulah ia ambil satu per satu jaring selebar 27 kali bentangan tangan orang dewasa yang ia tebar tadi.

Empat tahun sudah ia tekuni profesi yang umumnya dilakukan para lelaki ini. Ia sengaja ikut suami ke laut, karena memang tak ada pekerjaan lain yang bisa ia lakukan selain itu. “Dulu pernah ikut orang, tapi dari keluarga jadi nelayan itu sudah mendarah daging, yang penting bisa cari makan,” katanya.

Ikan-ikan hasil tangkapan tadi memang untuk dijual, walau tak jarang ada yang berakhir di meja makannya sendiri. “Saya jual ke pasar paginya, ya kadang yang nggak laku jadi lauk,” ucapnya terkekeh.

Menyebut hasil tangkapan, sebenarnya raut wajah Khafida yang awalnya berapi-api, langsung sedikit berubah muram. Tak heran, ikan-ikan tangkapannya saat ini sedang turun drastis. Terutama sejak diberlakukannya pelarangan terhadap alat tangkap cantrang.

Sudah sejak lama memang Kementrian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan peraturan pelarangan penggunaan cantrang yang dinilai bisa merusak ekosistem laut. Khafida pun menyadari dan mematuhi aturan itu sepenuhnya walau harus merelakan sebagian besar tangkapannya lolos begitu saja.

Berbeda dengan cantrang atau varian lain macam arat dan sodo, gillnet yang digunakan Khafida merupakan alat tangkap pasif. Sehingga saat dipasang di lautan, ia hanya bisa menunggu ikan-ikan untuk mendekat dengan sendirinya.

“Kalau arat dan sodo itu kan pakai mesin juga. Ya kadang ada nelayan yang masih pakai itu lalu tanpa sadar merusak jaring kami,” keluhnya.

Bukan hanya membuat jaring dan hasil tangkapannya lepas, penggunaan arat dan sodo ternyata memberikan dampak lain bagi nelayan-nelayan yang kekeuh memakai gillnet.

“Pakai arat atau sodo itu selain bikin rusak terumbu karang, ikan-ikan kecil juga nyangkut. Itu kan cara kerjanya ngeruk sampai bawah. Terumbu karang atau sampah laut saja keambil. Jadi ikan-ikan yang harusnya sekarang sudah besar tinggal dipanen, habis,” lanjutnya.

Mereka yang memakai arat atau sodo, umumnya nelayan dengan perahu yang lebih besar. Sehingga, kerap kali ia harus mengalah lahannya diambil orang. “Kadang janjian dulu mas sama nelayan lain, kalau sendiri nggak berani. Tapi kalau nggak ada teman ya suka nekat, kalau nggak mau makan apa kita,” katanya.

Tak jarang baginya untuk kian menjauhi daratan, mencari sisa-sisa ikan yang belum terjamah arat maupun sodo. Jelas beresiko, namun ia tak punya pilihan lain karena roda nasib, katanya sedang berputar.

Diceritakan Khafida, mendapatkan 20 kg hingga 25 kg tangkapan sangatlah mudah dulu. Tapi sekarang, 10 kg sampai 15 kg saja sudah bagus. Itu pun tidak setiap hari.

Dari hasil tangkapan sebanyak itu, ia dan suami hanya mampu memperoleh Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu. “Jarang-jarang tapi mas. Ibaratnya duit segitu untuk kasih jajan anak saja susah. Itu belum kalau cuaca buruk, pernah saya empat bulan tidak melaut,” tuturnya.

Menjaring kepiting, lanjutnya, sebenarnya bisa lebih menguntungkan. Tapi, jumlahnya yang sedikit membuatnya harus berada di laut lebih lama, atau tak jarang hingga seharian penuh agar tak rugi ketika dibawa dan dijual ke daratan.

“Anak masih kecil belum bisa ditinggal sendirian. Pernah waktu liburan sekolah, malah saya ajak satu keluarga ke laut. Sambil nunggu ya hiburannya ngobrol, lihat kapal pesiar lewat, lihat ikan,” kenangnya.

Laut, meski ia anggap sebagai suatu anugrah Tuhan tak ternilai, tetap saja bukan tempat yang aman untuk mencari makan. Dikisahkannya, ia kadang masih harus bergelut dengan ombak besar bahkan ikan dengan ukuran melebihi kapal 6m x 2,5m miliknya. “Paus itu lewat, deg-deg an juga,” ujarnya sambil tertawa.

Ia memang baru empat tahun belakangan ikut suami ke laut. Namun, asam garam yang dimakannya tak kalah dari perempuan-perempuan nelayan lain yang telah menghabiskan belasan tahun mencari ikan di medan yang sama.

Meski begitu, masih ada saja pihak yang meragukan kemampuan dan pengalamannya. Ia sering disebut sebagai buruh nelayan ketimbang nelayan itu sendiri.

“Padahal peran saya dan suami itu sama. Begitu pun perempuan-perempuan sini yang ikut melaut bersama pasangannya. Tidak ada yang namanya buruh (nelayan). Semua berperan sama penting. Contoh, ketika suami jadi juru kemudi, saya tebar jaring, begitu pun sebaliknya,” katanya tegas.

Yang paling buruk, lanjut Khafida, adalah ketika bahkan sejumlah pihak menyanggah profesinya. Ada yang tak mau percaya nelayan perempuan itu ada.

Adanya anggapan tersebut, bagaimanapun telah menempatkan Khafida dan rekan-rekan nelayan perempuan lain pada situasi sulit. Mereka harus bertaruh nyawa tanpa perlindungan kartu asuransi layaknya para nelayan laki-laki di Tambakpolo maupun kawasan sekitarnya.

Sebagai Informasi, Kementrian Kelautan dan Perikanan telah menyalurkan program pemberian bantuan premi asuransi kepada ratusan ribu nelayan Indonesia. Sehingga nelayan akan terlindungi dengan memperoleh santunan jika terjadi kecelakaan dan meninggal dunia.

Nilai manfaat per orang berupa santunan untuk kecelakaan akibat aktivitas penangkapan ikan diketahui sebesar Rp 200 juta. Jika hingga berujung kematian, akan ada santunan Rp 100 juta. Jika cacat seumur hidup, mendapat Rp 20 juta untuk biaya pengobatan.

Santunan sebesar Rp 160 juta juga berlaku apabila yang bersangkutan mengalami kecelakaan selain saat melaut. Apabila menyebabkan kematian, termasuk faktor alami, mendapat Rp 100 juta. Yang cacat tetap, mendapat biaya pengobatan Rp 20 juta.

Syarat untuk bisa memperoleh polis asuransi pun sebenarnya tergolong gampang. Yaitu, memiliki kartu nelayan, berusia maksimal 65 tahun, menggunakan kapal berukuran paling besar 10 gros ton, dan tidak pernah mendapat bantuan program asuransi lain dari pemerintah.

“Ketentuan sudah kami penuhi, tapi ya saya mohon kalau orang DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) tidak percaya, bisa dilihat sendiri kalau setiap saya melaut,” ujarnya tegas.

Hal yang bisa ia lakukan saat ini selain memperjuangkan hak-haknya, adalah dengan tetap melaut. Karena tak ada cara lain baginya sebelum program pemberdayaan bagi nelayan perempuan, seperti pengoptimalan hasil laut tak layak jual, dapat berjalan dengan lancar.

“Saya mungkin malu tidak pintar, tapi saja bangga menjadi nelayan perempuan. Hidup sudah ada yang ngatur, dikasih rezeki banyak ya alhamdulillah, sedikit ya alhamdulillah. Pesan saya, jangan sombong. Walau kebersamaan kita beda pendapat, biarlah cerita kita jadi motivasi ke depan,” ujarnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (gul/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Nur Khafida, 4 Tahun Membelah Gelapnya Malam demi Keluarga Kecilnya