alexametrics
Mengenal dr Dian Agung Anggraeny

Kerap Menggratiskan Biaya Pengobatan hingga Pernah Dibayar dengan Ayam

21 April 2018, 13:00:04 WIB

JawaPos.com – Dokter cantik asal Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, bisa dibilang sebagai dokter yang unik.

Bagaimana tidak, wanita bernama lengkap dr Dian Agung Anggraeny itu tidak pernah memberikan tarif pada jasa dokternya. Namun seringkali, pasien yang datang berobat membayarnya dengan sayur mayur, hasil bumi, kue, makanan bahkan ayam.

Praktik membayar jasa medis yang dia berikan dengan hasil bumi itu sudah dilangsungkan sejak tahun 2007, saat pertama kali wanita 39 tahun itu membuka praktik dokter umum. Akibat aksi nyelenehnya tersebut, sontak ia menjadi terkenal di Malang Raya.

Dokter Sayur
Menerima pembayaran dengan sayuran merupakan hal yang ditemuinya setiap hari selama praktik menjadi dokter (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Bukan hanya membebaskan pasiennya membayar dengan hasil bumi, namun dokter Dian yang akrab disapa Umi ini juga tidak jarang menggratiskan jasa medis yang diberikannya kepada pasien. Mau dibayar atau tidak, ia tetap memberikan pelayanan terbaiknya kepada seluruh pasien.

Seperti yang terlihat saat dia melayani dua pasien, di kliniknya, ketika JawaPos.com berkunjung ke kediaman sekaligus tempat praktiknya, Jumat (20/4) kemarin.

Pasien laki-laki bernama Slamet, 50, ini berasal dari Blitar. Dia menderita tipoid. Usai mendapatkan perawatan bukannya mengulurkan sejumlah uang, namun malah memberikan ayam jago yang sudah disembelih dan dicabuti bulunya. 

“Ya gini pasien saya, lucu ya. Mereka menyenangkan. Saya tidak memaksa atau mematok tarif. Bebas saja,” kata Dian sembari tersenyum. 

Masih di waktu yang sama, ada juga sepasang suami istri yang datang berobat. Berbeda dengan Slamet, kedua orang ini justru tidak membayar. Hanya mengucapkan kata suwun alias terimakasih usai mendapatkan perawatan. Ada lagi, dua wanita muda yang datang dengan membawa beberapa ikat sayur dan jagung.

“Ya gimana lagi masa mereka tidak dilayani kalau tidak membayar. Ya harus tetap dilayani, namanya saya orang kesehatan,” beber alumni Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya itu. 

Setiap hari, dia melayani 25 pasien rawat jalan. Dari jumlah itu, selalu saja ada yang membayar dengan sayuran atau hasil bumi lainnya. 

Semua pasien itu juga mendapatkan pelayanan yang baik dan obat-obatan. Menggratiskan biaya pengobatan atau menerima bayaran berupa makanan, bukan uang, juga berlaku untuk pasien rawat inap.

Meskipun dibayar dengan sayur, namun biasanya pemberian pasien ini kembali dia berikan ke orang lain. “Ya tetap dapat obat, tetap dapat pelayanan. Masa karena mereka tidak bayar, tidak saya layani,” kata ibu tiga anak itu.

Dian tidak menampik, bahwa biaya kuliahnya bisa dikatakan tidak murah. Namun, perempuan yang berdarah seni ini lebih memilih untuk tidak menarif biaya pengobatan dan pelayanan kesehatan. Menurutnya, yang utama dia cari bukan hanya materi. Namun juga membantu sesama. Baginya, sumber rejeki bukan hanya dari praktik dokter umumnya saja. Dia yakin masih banyak pintu rejeki.

Perempuan yang punya kemampuan menggambar ciamik ini mempunyai keyakinan, meskipun tidak menarik bayaran dari pasiennya, namun rejekinya tidak akan surut.

Selain membuka praktik, Dian juga membuka klinik kecantikan. Namun, untuk yang satu ini tidak bisa dibayar dengan sayuran, hasil bumi, ayam atau gratis. 

“Saya hanya mencoba memanusiakan manusia. Sehingga walaupun tidak bayar atau mampu bayar sayur, ya saya terima,” kata perempuan yang tampak muda itu. 

Rupanya, kebiasaan Dian ini tidak lepas dari apa yang kerap dilakukan oleh kedua orang tuanya dulu. Ayah dan ibunya, (alm) Mudijono dan Kartinah, 69, juga bergerak di bidang kesehatan. 

Mudijono adalah perawat sementara Kartinah merupakan seorang bidan. Kedua orang ini juga sama seperti perempuan yang punya kebiasaan menggambar ketika sedang marah tersebut. Yakni, tidak pernah menarik bayaran untuk jasa kesehatan yang diberikan. 

Juga tidak jarang malah tidak dibayar atau juga dibayar sayur. Rupanya kebiasaan kedua orang tua Dian ini menurun pada penikmat musik jazz tersebut.

Memang, lanjut Dian, orang tuanya tidak menitip pesan apapun kepadanya soal tidak menarik bayaran dalam layanan kesehatan. Namun, dengan melihat keseharian kedua orang tuanya, hal ini menjadi semacam doktrin baginya.

Meskipun bisa dibilang Dian sebagai dokter zaman now dengan penampilan yang fashionable dan paras cantik, namun tetap dia lakukan ‘tradisi’ yang dijalankan kedua orang tuanya. Menurut dia, praktik membayar dengan sayur ini sudah kerap terjadi di desa.

“Kan anak itu melihat dan meniru yang dilakukan orang tuanya. Jadi saya juga melanjutkan. Ya itu tadi, memanusiakan manusia,” kata dia.

Di kliniknya ini, dia memberikan pelayanan gratis bagi pasien TBC dan HIV/AIDS. Saat ini, sudah ada 83 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dia rawat.

Setiap bulan, perempuan yang pernah menjadi aktivis anti HIV/AIDS itu memberikan konseling dan penyuluhan kepada ODHA. Bahkan juga memberikan pemberdayaan bagi mereka.”Saya bahagia bisa menolong orang lain,” tegasnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (tik/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Kerap Menggratiskan Biaya Pengobatan hingga Pernah Dibayar dengan Ayam