alexametrics

Hari Jumat di 2 Masjid Nasional di Tengah Kewaspadaan terhadap Korona

Jamaah Menangis Haru saat Qunut Nazilah
21 Maret 2020, 12:47:59 WIB

Baik di Istiqlal yang menggelar salat Duhur berjamaah maupun di Al Akbar yang menghelat salat Jumat, qunut nazilah dibacakan. Protokol pencegahan persebaran virus korona juga dijalankan.

WAHYU Z. BUSTOMI, Surabaya, BAYU P. – TAUFIQURRAHMAN, Jakarta, Jawa Pos

DENGAN suara serak menahan tangis, imam Masjid Istiqlal Husni Ismail memimpin pembacaan qunut nazilah. Diikuti sekitar seratus jamaah di ruang utama salah satu bangunan ikon Jakarta tersebut.

Persisnya pada rakaat terakhir salat Duhur kemarin siang (20/3).

”Allahummadfa’ ’annal ghalaa’ wal balaa’ wal wabaa’ wal wabaa’ wal wabaa’ wal fakhsyaa’ wal munkar,” baca sang imam, diikuti para makmum.

Qunut nazilah adalah doa yang dianjurkan mayoritas ulama untuk dibaca ketika terjadi wabah penyakit yang besar di sebuah wilayah. Dalam konteks sekarang tentunya Covid-19.

Kemarin merupakan kali pertama sejak Istiqlal berdiri 42 tahun silam salat Jumat ditiadakan dan diganti salat Duhur berjamaah. Sebagaimana yang telah lebih dahulu dilakukan sejumlah negara di Timur Tengah, meski tidak seekstrem kebijakan di kawasan tersebut. Langkah tersebut merupakan dampak dari meluasnya Covid-19 di tanah air.

Majelis Ulama Indonesia telah mengizinkan untuk tidak mengadakan salat Jumat dan menggantinya dengan salat Duhur. Khususnya di daerah yang memiliki potensi penularan Covid-19 tinggi seperti Jakarta. Alhasil, Masjid Istiqlal pun nyaris kosong kemarin. Hanya ada seratusan jamaah yang tetap hadir.

Sebelum iqamah, pengurus masjid memberikan wejangan singkat tentang alasan peniadaan salat Jumat dan menggantinya dengan salat Duhur. Saat salat hendak dimulai, Husni meminta para jamaah melonggarkan saf. Itu sangat kontras dengan kebiasaan salat jamaah, yakni imam selalu meminta merapatkan saf.

Salat Duhur berjamaah di Masjid Istiqlal kemarin hanya menghasilkan 10 saf dengan posisi jamaah yang lebih renggang. Hanya sepertiga dari lebar saf di ruang utama yang dimanfaatkan dan diberi pembatas.

Selebihnya, masjid tersebut kosong. Tidak seperti Jumat biasanya saat puluhan ribu jamaah bisa berkumpul bersama di masjid nasional itu.

Ada pula jamaah yang memilih salat sendirian di balkon lantai 2 sisi selatan ruang utama. Yang sangat mungkin menjadi spot favoritnya bila tidak kebagian tempat di lantai 1.

Karpet masjid juga sudah digulung beberapa waktu lalu menjelang penyemprotan disinfektan. Rencananya peniadaan salat Jumat dilakukan lagi pekan depan.

Husni menuturkan, pembacaan qunut nazilah sudah dilakukan beberapa waktu belakangan. Tidak hanya saat salat Subuh, tetapi juga setiap salat fardu.

”Yang diharapkan dengan qunut nazilah itu supaya Allah menjauhkan dari bencana, dari wabah yang sedang merebak saat ini,” terangnya.

Qunut nazilah dibaca setelah bangkit dari rukuk di rakaat terakhir salat fardu. Itu adalah ikhtiar spiritual umat Islam yang oleh para ulama diimbau untuk dilakukan di semua masjid.

Jamaah Masjid Al-Akbar tetap melaksanakan salat Jumat dengan diberikan masker dan jarak antara jamaah, Jumat (20/3). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Berbeda dengan Istiqlal, salat Jumat tetap dihelat di Masjid Al Akbar Surabaya kemarin. Hanya berbeda dengan biasanya, ada penerapan protokol terkait kewaspadaan terhadap virus korona penyebab penyakit Covid-19.

Semua yang hadir harus menjalani pemeriksaan suhu terlebih dahulu. Selain itu, mereka wajib mengenakan masker oranye.

Sepuluh ribu masker dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim pun habis dibagikan ke jamaah. Saat salat dimulai, antarjamaah juga diberi jarak sekitar 70 sentimeter. Dan, seperti juga di Istiqlal, ada bacaan qunut nazilah. Mengingat, dua wilayah di Jawa Timur sudah masuk zona merah Covid-19.

”Ini bentuk upaya batin kami dalam hadapi korona,” kata Humas Masjid Al Akbar Surabaya Helmy M. Noor.

Kemarin, jika saat dicek suhu tubuhnya di atas 38 derajat Celsius, jamaah yang bersangkutan akan diperiksa dokter yang berjaga. Pihak pengurus masjid nasional tersebut juga mengantisipasi dengan tiga ambulans.

Dari total 45 pintu masuk menuju area dalam masjid, khusus kemarin hanya tiga pintu utama yang dibuka: utara, selatan, dan timur. Karena yang Jumatan kemarin ribuan, antrean panjang pun terjadi di tiga akses menuju dalam masjid itu. ”Wajar, ini juga demi SOP (standard operating procedure),” kata Helmy.

Helmy menambahkan, setelah salat Jumat, pihaknya langsung melakukan sterilisasi. Dengan cara menyemprotkan puluhan liter disinfektan. Sejak seminggu lalu pengurus masjid juga menarik dan mensterilkan total 1.225 sajadah.

Karena sterilisasi itu, beberapa kegiatan yang sudah terjadwal harus ditiadakan. Salah satunya dialog setelah salat Jumat. Bahkan, untuk mempersingkat waktu salat, imam sengaja memilih surat pendek dalam bacaan salatnya.

Masduki, salah seorang jamaah, mengaku sangat terharu selama mengikuti salat Jumat kemarin. Dan, dia tak sendirian seperti itu.

Air mata sejumlah jamaah tak terbendung saat imam membaca qunut nazilah. Tak terkecuali Helmy. ”Saya hanya berharap pagebluk (bencana) ini bisa segera berakhir dan semuanya pulih kembali,” ucap Masduki kemarin.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/ttg



Close Ads